KOMPAS.com - Bagi umat Muslim, imsak bukan sekadar angka pada jadwal Ramadhan. Ia adalah alarm kesadaran, penanda bahwa waktu persiapan telah habis dan ibadah puasa segera dimulai.
Di balik bunyi pengingat imsak yang terdengar setiap dini hari, tersimpan makna mendalam tentang disiplin, kehati-hatian, serta latihan spiritual yang telah diwariskan sejak generasi awal Islam.
Di Indonesia, istilah imsak sudah begitu akrab. Namun tidak sedikit yang masih bertanya-tanya, apakah imsak bagian dari rukun puasa?
Mengapa waktunya berbeda-beda di setiap daerah? Dan apa sebenarnya nilai spiritual di balik momen beberapa menit sebelum Subuh itu?
Baca juga: Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur? Ini Jawaban Ulama dan Dalilnya
Secara etimologis, imsak berasal dari kata Arab amsaka yang berarti menahan atau menghentikan.
Dalam konteks puasa, imsak merujuk pada waktu kehati-hatian sebelum terbit fajar shadiq, yaitu saat dimulainya waktu Subuh yang menandai awal puasa secara syariat.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa secara hukum dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.
Adapun imsak bukanlah batas wajib puasa, melainkan bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak terjebak makan atau minum ketika waktu Subuh telah masuk.
Dengan kata lain, imsak berfungsi sebagai penyangga waktu, memberikan ruang aman bagi umat Muslim untuk menyempurnakan sahur dan bersiap memasuki ibadah puasa.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Kurang Berapa Hari Lagi Ramadhan 1447 H?
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:
Wa kulū wasyrabū ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr.
Artinya: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
Menurut Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, ayat ini menjelaskan bahwa batas sahur adalah munculnya fajar shadiq, bukan imsak.
Namun praktik imsak tetap dianjurkan sebagai bentuk kewaspadaan, terutama di daerah yang sulit mengamati perubahan cahaya fajar secara kasat mata.
Baca juga: Niat Sahur Puasa yang Sahih: Bacaan, Waktu Terbaik, dan Tata Caranya Sesuai Hadis
Imsak memiliki peran yang lebih luas dibanding sekadar alarm berhenti makan dan minum. Pertama, imsak membantu umat Muslim membangun disiplin waktu.
Kebiasaan bangun dini hari, menyelesaikan sahur tepat waktu, dan bersiap shalat Subuh membentuk pola hidup teratur selama Ramadhan.
Kedua, imsak melatih pengendalian diri. Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Ibn Qayyim Al-Jauziyyah disebutkan bahwa latihan menahan diri sejak sebelum fajar membantu memperkuat kontrol hawa nafsu yang menjadi inti dari ibadah puasa.
Ketiga, imsak berfungsi sebagai ruang spiritual. Beberapa menit menjelang Subuh sering disebut sebagai waktu yang penuh keberkahan.
Banyak ulama menganjurkan memperbanyak istighfar dan doa pada waktu ini karena suasana sunyi memudahkan hati untuk khusyuk.
Penentuan waktu imsak tidak lepas dari ilmu falak atau astronomi Islam. Para ahli menghitung posisi matahari di bawah ufuk timur untuk menentukan kapan fajar shadiq mulai tampak.
Di Indonesia, Kementerian Agama menggunakan perhitungan astronomis dengan standar tertentu untuk menetapkan jadwal imsakiyah nasional.
Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Ahmad Izzuddin dijelaskan bahwa perbedaan ketinggian matahari, kondisi geografis, serta atmosfer dapat memengaruhi waktu munculnya fajar. Itulah sebabnya waktu imsak di setiap daerah tidak selalu sama.
Selain aspek ilmiah, tradisi juga turut membentuk praktik imsak. Di sebagian wilayah, imsak ditandai dengan bedug masjid atau pengumuman keliling.
Di daerah lain, masyarakat mengandalkan jadwal resmi atau aplikasi digital. Meski caranya berbeda, tujuannya tetap sama, yaitu menjaga kehati-hatian dalam memulai puasa.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui
Dari sudut pandang kesehatan, imsak memberikan jeda bagi tubuh untuk beradaptasi sebelum memasuki fase puasa panjang.
Dalam buku Thibbun Nabawi karya Ibn Qayyim disebutkan bahwa jeda antara sahur dan puasa membantu sistem pencernaan menyelesaikan proses cerna, sehingga mengurangi risiko gangguan lambung.
Imsak juga membantu mengontrol lonjakan gula darah. Dengan menghentikan konsumsi makanan manis menjelang Subuh, tubuh terhindar dari fluktuasi energi yang ekstrem di pagi hari.
Namun para ahli kesehatan mengingatkan agar imsak tidak dilakukan terlalu lama dari waktu Subuh karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama di daerah beriklim panas.
Kunci utama adalah keseimbangan, sahur dengan gizi cukup, minum air yang memadai, dan menghentikan makan secara wajar menjelang imsak.
Di Timur Tengah, waktu imsak biasanya diumumkan secara resmi melalui media nasional dan masjid-masjid besar.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, imsak sudah menjadi tradisi yang melekat dalam budaya Ramadhan, bahkan sering dikemas dalam bentuk acara sahur bersama.
Sementara itu, di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, komunitas Muslim menghadapi tantangan unik karena waktu Subuh bisa sangat dini atau sangat larut, tergantung musim.
Beberapa lembaga Islam setempat menyesuaikan metode penentuan imsak agar tetap relevan dengan kondisi geografis, tanpa mengabaikan prinsip syariat.
Perbedaan ini menunjukkan fleksibilitas Islam dalam merespons konteks lokal, selama prinsip dasarnya tetap dijaga.
Lebih dari sekadar penanda waktu, imsak adalah gerbang masuk ke suasana Ramadhan setiap harinya.
Di saat kebanyakan manusia masih terlelap, umat Muslim diajak untuk bangun, bersiap, dan menata niat. Momen inilah yang sering disebut sebagai latihan kesungguhan.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa waktu menjelang Subuh adalah saat yang sangat baik untuk muhasabah diri dan memperbarui niat ibadah.
Imsak menjadi pintu awal dari rangkaian ibadah harian, puasa, shalat Subuh, tilawah, hingga aktivitas dunia yang bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.
Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari
Agar imsak tidak berhenti sebagai rutinitas mekanis, umat Muslim dianjurkan mengisinya dengan amalan ringan namun konsisten.
Membaca istighfar, memperbanyak doa atau sekadar merenungkan niat puasa dapat mengubah suasana dini hari menjadi momen spiritual yang berharga.
Dengan memahami imsak secara utuh, baik dari sisi syariat, sains waktu, maupun makna spiritual, umat Muslim dapat menjalani Ramadhan dengan lebih sadar dan berkualitas.
Imsak bukan hanya tentang berhenti makan, tetapi tentang memulai perjalanan harian menuju ketakwaan. Dan di sanalah letak keistimewaannya, sederhana dalam praktik, namun besar dalam makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang