KOMPAS.com - Sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum fajar. Dalam tradisi Islam, sahur merupakan momentum spiritual yang sarat makna, penuh keberkahan, dan menjadi pintu awal kesuksesan ibadah puasa Ramadan.
Rasulullah SAW bahkan menjadikan sahur sebagai amalan sunnah yang ditekankan, bukan hanya demi kekuatan fisik, tetapi juga penguatan niat dan hubungan batin seorang hamba dengan Allah SWT.
Lalu, bagaimana sebenarnya niat sahur dan doa yang dibaca Rasulullah? Mengapa waktu sahur disebut sebagai waktu penuh rahmat? Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Bulan Syaban Jadi Saksi Pernikahan Rasulullah dan Hafshah
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa sahur memiliki keistimewaan tersendiri. Salah satu hadis yang paling sering dikutip adalah:
Tasahharû fa inna fis-sahûri barakah.
Artinya: “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa keberkahan sahur mencakup dua aspek, yaitu kekuatan fisik untuk beribadah dan limpahan pahala karena mengikuti sunnah Nabi.
Sahur bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang niat, doa, dan kesiapan spiritual menghadapi puasa.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Niat merupakan syarat sah puasa. Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadan wajib dilakukan pada malam hari sebelum fajar.
Niat puasa yang umum dibaca saat sahur adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa niat tempatnya di dalam hati, sementara melafalkannya dianjurkan sebagai penguat kesadaran ibadah.
Baca juga: Puasa Syaban, Ibadah Sunnah yang Dicintai Rasulullah Menjelang Ramadan
Berbeda dengan niat, doa sahur tidak memiliki redaksi baku yang diwajibkan. Namun, Rasulullah SAW diketahui sering mendoakan orang-orang yang bersahur.
Salah satu doa yang diriwayatkan dalam hadis adalah:
يَرْحَمُ اللهُ الْمُتَسَحِّرِينَ
Yarhamullāhul mutasahhirīn.
Artinya: “Semoga Allah merahmati orang-orang yang bersahur.” (HR. Thabrani)
Imam Al-Munawi dalam Faidul Qadir menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan sahur bukan hanya ibadah personal, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan spiritual yang luas, karena Rasulullah mendoakan umatnya yang menjaga sunnah sahur.
Baca juga: Niat Sahur Puasa yang Sahih: Bacaan, Waktu Terbaik, dan Tata Caranya Sesuai Hadis
Waktu sahur termasuk bagian akhir malam yang dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Allah SWT berfirman:
Wa bil-asḥāri hum yastaghfirūn.
Artinya: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Ayat ini menjadi dasar kuat anjuran memperbanyak istighfar saat sahur.
Doa Istighfar
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullāhal-ladzī lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm wa atūbu ilaih.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Doa Perlindungan (Ta’awwudz)
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللّٰهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A‘ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq.
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.”
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa doa perlindungan dianjurkan dibaca pada waktu-waktu tenang seperti sahur karena hati lebih khusyuk dan pikiran lebih jernih.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?
Mayoritas ulama sepakat bahwa niat puasa Ramadan harus dilakukan sebelum terbit fajar. Namun, membaca niat saat sahur dianggap sebagai waktu paling ideal karena bertepatan dengan persiapan puasa.
Sementara doa sahur dapat dibaca sepanjang waktu sahur, terutama di sepertiga malam terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa Allah SWT membuka pintu pengabulan doa pada waktu tersebut.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sahur berfungsi sebagai latihan kesadaran ruhani.
Bangun di waktu sunyi, makan dengan niat ibadah, dan berdoa di sepertiga malam melatih jiwa untuk tunduk dan disiplin.
Hikmah sahur tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga membentuk karakter spiritual: sabar, ikhlas, dan konsisten dalam ketaatan.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Selain nilai ibadah, sahur juga berperan dalam menjaga kesehatan. Dalam kitab Ath-Thibb an-Nabawi karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dijelaskan bahwa pola makan Nabi saat sahur sederhana namun seimbang, bertujuan menjaga stamina tanpa berlebihan.
Sahur membantu menjaga kadar gula darah, mencegah dehidrasi, serta mengurangi kelelahan selama puasa.
Inilah yang menjadikan sahur sebagai kombinasi sempurna antara sunnah dan kebutuhan biologis.
Sahur bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan pintu keberkahan yang dibuka setiap dini hari.
Niat yang tulus, doa yang dipanjatkan, serta kesadaran untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW menjadikan sahur sebagai fondasi kuat bagi puasa yang berkualitas.
Ketika seseorang bangun sahur bukan hanya demi makan, tetapi juga demi mendekat kepada Allah, di situlah makna sahur sesungguhnya hadir, menyatukan tubuh, hati, dan iman dalam satu ibadah yang penuh rahmat.
Semoga Ramadan kita bukan hanya penuh lapar dan haus, tetapi juga penuh doa, kesadaran, dan keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang