Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Ramadhan 2026, Ini Cara Menata Diri Sejak Sekarang

Kompas.com, 31 Januari 2026, 13:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan 1447 Hijriyah atau Ramadhan 2026 kian mendekat. Hitungan pekan menuju bulan suci ini seharusnya tidak sekadar menjadi penanda kalender, tetapi momentum refleksi untuk memulai persiapan yang lebih terencana.

Dalam tradisi keislaman, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, melainkan fase transformasi spiritual, sosial, dan moral.

Karena itu, kesiapan menyambut Ramadhan menuntut pendekatan yang sistematis, menata niat, memperkuat fondasi ilmu, serta membangun kebiasaan yang berkelanjutan.

Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam salah satu kajiannya menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan rahmat dan syafaat, di mana amal dilipatgandakan.

Pernyataan ini sejalan dengan spirit Al-Qur’an yang menempatkan Ramadhan sebagai bulan istimewa. Allah berfirman:

Syahru ramadhānal ladzī unzila fīhil qur’ān hudan linnāsi wa bayyinātim minal hudā wal furqān.

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan pembentukan kesadaran spiritual berbasis wahyu.

Dari titik inilah urgensi persiapan Ramadhan menjadi relevan, bukan hanya secara personal, tetapi juga sosial.

Menyambut Ramadhan dengan Doa dan Kesadaran Spiritual

Tradisi ulama klasik menunjukkan bahwa persiapan Ramadhan dimulai jauh hari sebelum bulan itu tiba.

Mu’alla bin Al-Fadhl meriwayatkan bahwa para salaf berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, lalu enam bulan berikutnya memohon agar amal mereka diterima.

Pola ini menunjukkan bahwa Ramadhan diposisikan sebagai “proyek ibadah tahunan” yang membutuhkan perencanaan matang.

Dalam kitab Lathā’if al-Ma’ārif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, dijelaskan bahwa kesungguhan para ulama dalam berdoa bukan sekadar tradisi spiritual, tetapi strategi pembentukan kesiapan mental. Doa menjadi pintu pembuka agar hati siap menerima keberkahan Ramadhan.

Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Menyelesaikan Utang Puasa sebagai Bentuk Tanggung Jawab Ibadah

Salah satu aspek krusial dalam persiapan Ramadhan adalah menyelesaikan utang puasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kewajiban kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.

Dalam perspektif fikih, menunda qadha puasa tanpa uzur syar’i bukan hanya kelalaian administratif, tetapi mencerminkan lemahnya kesadaran tanggung jawab ibadah.

Dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaily, dijelaskan bahwa qadha puasa merupakan bentuk pemulihan kewajiban syariat yang tertunda, sehingga idealnya diselesaikan sebelum memasuki Ramadhan berikutnya agar fokus ibadah tidak terpecah.

Puasa Sunnah sebagai Latihan Fisik dan Mental

Nabi Muhammad SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai bentuk persiapan menuju Ramadhan.

Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sebanyak di bulan Sya’ban. Pola ini mengandung pesan pedagogis, ibadah besar memerlukan fase adaptasi.

Ibnu Rajab dalam Lathā’if al-Ma’ārif menegaskan bahwa puasa sunnah sebelum Ramadhan berfungsi sebagai latihan spiritual agar jiwa tidak kaget menghadapi intensitas ibadah Ramadhan. Dengan kata lain, puasa sunnah menjadi “pemanasan rohani” sebelum memasuki fase puncak.

Merancang Sedekah sebagai Investasi Sosial Ramadhan

Ramadhan juga dikenal sebagai bulan solidaritas sosial. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa kedermawanan Nabi SAW mencapai puncaknya di bulan Ramadhan.

Dalam konteks modern, semangat ini dapat diterjemahkan dalam perencanaan sedekah yang lebih sistematis, bukan sekadar spontan.

Dalam buku Fiqh Al Zakah karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa sedekah di bulan Ramadhan memiliki dimensi sosial yang kuat karena berkontribusi pada pemerataan kesejahteraan dan penguatan ukhuwah.

Oleh sebab itu, menyiapkan dana khusus sedekah sejak sebelum Ramadhan menjadi bagian penting dari persiapan ibadah.

Baca juga: Sidang Isbat Ramadhan 2026 Sejalan Fatwa MUI, Kemenag Siapkan 37 Titik Rukyat Termasuk Masjid IKN

Menjaga Kesehatan Jasmani dan Keseimbangan Ruhani

Puasa Ramadhan menuntut stamina fisik dan stabilitas emosional. Rasulullah SAW mengingatkan agar umat Islam memanfaatkan masa sehat sebelum datang sakit.

Dalam perspektif kesehatan modern, puasa yang dijalani dengan pola makan seimbang dan istirahat cukup terbukti dapat meningkatkan metabolisme dan detoksifikasi tubuh. Namun, manfaat ini hanya optimal jika persiapan dilakukan sejak dini.

Keseimbangan jasmani dan ruhani menjadi kunci agar Ramadhan tidak sekadar menjadi rutinitas berat, melainkan pengalaman spiritual yang menyenangkan dan produktif.

Memperkuat Literasi Fikih Ramadhan

Persiapan Ramadhan tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan pemahaman ilmu.

Umar bin Abdul Aziz pernah mengingatkan bahwa ibadah tanpa ilmu berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki.

Dalam konteks Ramadhan, pemahaman fikih puasa, zakat fitrah, dan qiyamul lail menjadi sangat penting.

Kitab Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq menekankan bahwa pemahaman hukum puasa tidak hanya berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah, tetapi juga kualitas spiritual yang dihasilkan. Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan bernilai.

Menata Hubungan Sosial sebagai Modal Keberkahan

Ramadhan adalah bulan ampunan. Namun, ampunan Allah erat kaitannya dengan kualitas relasi sosial.

Hadis tentang malam Nishfu Sya’ban yang mengecualikan orang musyrik dan mereka yang bermusuhan dari ampunan Allah menjadi pengingat bahwa kebersihan hati adalah syarat utama keberkahan.

Dalam perspektif sosiologi agama, sebagaimana dijelaskan dalam buku Islam dan Transformasi Sosial karya Suharsono, ibadah Ramadhan memiliki dampak kolektif yang kuat.

Ketika individu memperbaiki relasi sosial, Ramadhan tidak hanya membentuk kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial.

Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2026: Ini Bekal Ibadah Agar Ramadhan Maksimal

Menjadikan Ramadhan sebagai Titik Balik Kehidupan

Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan peluang strategis untuk melakukan perubahan gaya hidup.

Dari pola konsumsi, manajemen waktu, hingga prioritas spiritual. Jika persiapan dilakukan dengan serius, Ramadhan dapat menjadi titik balik yang membawa dampak jangka panjang.

Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:

Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Tujuan puasa adalah takwa. Maka, persiapan Ramadhan sejatinya adalah persiapan menuju kualitas hidup yang lebih bertakwa, lebih berempati, dan lebih bermakna.

Dengan langkah yang terencana sejak sekarang, Ramadhan 1447 H diharapkan tidak hanya datang sebagai tamu mulia, tetapi juga pergi meninggalkan jejak perubahan yang nyata dalam kehidupan umat Muslim.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com