KOMPAS.com - Bulan Ramadhan 1447 Hijriyah atau Ramadhan 2026 kian mendekat. Hitungan pekan menuju bulan suci ini seharusnya tidak sekadar menjadi penanda kalender, tetapi momentum refleksi untuk memulai persiapan yang lebih terencana.
Dalam tradisi keislaman, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, melainkan fase transformasi spiritual, sosial, dan moral.
Karena itu, kesiapan menyambut Ramadhan menuntut pendekatan yang sistematis, menata niat, memperkuat fondasi ilmu, serta membangun kebiasaan yang berkelanjutan.
Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam salah satu kajiannya menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan rahmat dan syafaat, di mana amal dilipatgandakan.
Pernyataan ini sejalan dengan spirit Al-Qur’an yang menempatkan Ramadhan sebagai bulan istimewa. Allah berfirman:
Syahru ramadhānal ladzī unzila fīhil qur’ān hudan linnāsi wa bayyinātim minal hudā wal furqān.
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan pembentukan kesadaran spiritual berbasis wahyu.
Dari titik inilah urgensi persiapan Ramadhan menjadi relevan, bukan hanya secara personal, tetapi juga sosial.
Tradisi ulama klasik menunjukkan bahwa persiapan Ramadhan dimulai jauh hari sebelum bulan itu tiba.
Mu’alla bin Al-Fadhl meriwayatkan bahwa para salaf berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, lalu enam bulan berikutnya memohon agar amal mereka diterima.
Pola ini menunjukkan bahwa Ramadhan diposisikan sebagai “proyek ibadah tahunan” yang membutuhkan perencanaan matang.
Dalam kitab Lathā’if al-Ma’ārif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, dijelaskan bahwa kesungguhan para ulama dalam berdoa bukan sekadar tradisi spiritual, tetapi strategi pembentukan kesiapan mental. Doa menjadi pintu pembuka agar hati siap menerima keberkahan Ramadhan.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Salah satu aspek krusial dalam persiapan Ramadhan adalah menyelesaikan utang puasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kewajiban kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.
Dalam perspektif fikih, menunda qadha puasa tanpa uzur syar’i bukan hanya kelalaian administratif, tetapi mencerminkan lemahnya kesadaran tanggung jawab ibadah.
Dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaily, dijelaskan bahwa qadha puasa merupakan bentuk pemulihan kewajiban syariat yang tertunda, sehingga idealnya diselesaikan sebelum memasuki Ramadhan berikutnya agar fokus ibadah tidak terpecah.
Nabi Muhammad SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai bentuk persiapan menuju Ramadhan.
Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sebanyak di bulan Sya’ban. Pola ini mengandung pesan pedagogis, ibadah besar memerlukan fase adaptasi.
Ibnu Rajab dalam Lathā’if al-Ma’ārif menegaskan bahwa puasa sunnah sebelum Ramadhan berfungsi sebagai latihan spiritual agar jiwa tidak kaget menghadapi intensitas ibadah Ramadhan. Dengan kata lain, puasa sunnah menjadi “pemanasan rohani” sebelum memasuki fase puncak.
Ramadhan juga dikenal sebagai bulan solidaritas sosial. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa kedermawanan Nabi SAW mencapai puncaknya di bulan Ramadhan.
Dalam konteks modern, semangat ini dapat diterjemahkan dalam perencanaan sedekah yang lebih sistematis, bukan sekadar spontan.
Dalam buku Fiqh Al Zakah karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa sedekah di bulan Ramadhan memiliki dimensi sosial yang kuat karena berkontribusi pada pemerataan kesejahteraan dan penguatan ukhuwah.
Oleh sebab itu, menyiapkan dana khusus sedekah sejak sebelum Ramadhan menjadi bagian penting dari persiapan ibadah.
Baca juga: Sidang Isbat Ramadhan 2026 Sejalan Fatwa MUI, Kemenag Siapkan 37 Titik Rukyat Termasuk Masjid IKN
Puasa Ramadhan menuntut stamina fisik dan stabilitas emosional. Rasulullah SAW mengingatkan agar umat Islam memanfaatkan masa sehat sebelum datang sakit.
Dalam perspektif kesehatan modern, puasa yang dijalani dengan pola makan seimbang dan istirahat cukup terbukti dapat meningkatkan metabolisme dan detoksifikasi tubuh. Namun, manfaat ini hanya optimal jika persiapan dilakukan sejak dini.
Keseimbangan jasmani dan ruhani menjadi kunci agar Ramadhan tidak sekadar menjadi rutinitas berat, melainkan pengalaman spiritual yang menyenangkan dan produktif.
Persiapan Ramadhan tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan pemahaman ilmu.
Umar bin Abdul Aziz pernah mengingatkan bahwa ibadah tanpa ilmu berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki.
Dalam konteks Ramadhan, pemahaman fikih puasa, zakat fitrah, dan qiyamul lail menjadi sangat penting.
Kitab Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq menekankan bahwa pemahaman hukum puasa tidak hanya berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah, tetapi juga kualitas spiritual yang dihasilkan. Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan bernilai.
Ramadhan adalah bulan ampunan. Namun, ampunan Allah erat kaitannya dengan kualitas relasi sosial.
Hadis tentang malam Nishfu Sya’ban yang mengecualikan orang musyrik dan mereka yang bermusuhan dari ampunan Allah menjadi pengingat bahwa kebersihan hati adalah syarat utama keberkahan.
Dalam perspektif sosiologi agama, sebagaimana dijelaskan dalam buku Islam dan Transformasi Sosial karya Suharsono, ibadah Ramadhan memiliki dampak kolektif yang kuat.
Ketika individu memperbaiki relasi sosial, Ramadhan tidak hanya membentuk kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2026: Ini Bekal Ibadah Agar Ramadhan Maksimal
Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan peluang strategis untuk melakukan perubahan gaya hidup.
Dari pola konsumsi, manajemen waktu, hingga prioritas spiritual. Jika persiapan dilakukan dengan serius, Ramadhan dapat menjadi titik balik yang membawa dampak jangka panjang.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Tujuan puasa adalah takwa. Maka, persiapan Ramadhan sejatinya adalah persiapan menuju kualitas hidup yang lebih bertakwa, lebih berempati, dan lebih bermakna.
Dengan langkah yang terencana sejak sekarang, Ramadhan 1447 H diharapkan tidak hanya datang sebagai tamu mulia, tetapi juga pergi meninggalkan jejak perubahan yang nyata dalam kehidupan umat Muslim.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang