Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar, menilai satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama menjadi bukti kematangan NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus kebangsaan di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin Umar dalam peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu.
“Seratus tahun perjalanan PBNU bukanlah waktu yang pendek. Di sinilah NU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya.
Menag mengingatkan hadis riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i tentang Allah yang mengutus pembaru pemahaman keagamaan di setiap akhir 100 tahun.
Baca juga: Satu Abad NU, Gus Yahya: NU dan Indonesia Tak Terpisahkan Menuju Peradaban Mulia
Menurutnya, NU telah memainkan peran penting dalam pembaruan substansi keislaman yang relevan dengan konteks zaman.
Ia menyebut NU sejatinya adalah “pesantren besar”, tempat tumbuhnya dinamika keilmuan Islam yang kuat. Diskusi keagamaan di pesantren, termasuk perdebatan mazhab fikih, kerap berlangsung intens.
“Kadang diskusinya sangat panas, tetapi itulah bukti kuatnya tradisi keilmuan di pesantren,” katanya.
Tradisi pesantren yang menjunjung adab santri kepada kiai, lanjutnya, menjadi fondasi moral NU dalam menjaga harmoni meski ada perbedaan pandangan.
Menurut Nasaruddin, seorang santri tetap menghormati kiai meski berbeda pendapat. Nilai inilah yang menjadi kekuatan moral NU.
Ia menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang sarat dinamika, namun tetap mampu menjaga keharmonisan. Bahkan, NU dinilai memiliki kemampuan merangkul pihak luar hingga merasa menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.
“NU ke depan akan menjadi wadah kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.
Nasaruddin Umar juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi PBNU dan warga Nahdliyin di masa depan. Perkembangan zaman yang sangat cepat berpotensi menimbulkan cultural shock dan economic shock.
Menurutnya, yang dibutuhkan ke depan adalah figur pemimpin yang juga manajer ulung, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw.
“Ke depan yang dibutuhkan adalah figur manajer dan pemimpin, yang mampu menjadi the best leader dan the best manager,” katanya.
Menag berharap NU tetap konsisten mengusung moderasi umat. Ia menegaskan prinsip NU yang tidak menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak membedakan sesuatu yang sama, semuanya dalam bingkai NKRI.
Baca juga: PBNU Prediksi 10.000 Warga NU Hadiri Puncak Harlah ke-100 di Istora Senayan
“Biarkan yang sama itu sama, dan yang berbeda itu tetap berbeda. Namun semuanya hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Peringatan Harlah ke-100 tahun Masehi NU ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, Mustasyar PBNU Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, para duta besar negara sahabat, pengurus badan otonom NU, PWNU, hingga PCNU se-Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang