Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Nasaruddin Umar Nilai NU Kian Matang di Usia 100 Tahun

Kompas.com, 31 Januari 2026, 12:34 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar, menilai satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama menjadi bukti kematangan NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus kebangsaan di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin Umar dalam peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu.

“Seratus tahun perjalanan PBNU bukanlah waktu yang pendek. Di sinilah NU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya.

NU, Pesantren Besar dan Tradisi Keilmuan

Menag mengingatkan hadis riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i tentang Allah yang mengutus pembaru pemahaman keagamaan di setiap akhir 100 tahun.

Baca juga: Satu Abad NU, Gus Yahya: NU dan Indonesia Tak Terpisahkan Menuju Peradaban Mulia

Menurutnya, NU telah memainkan peran penting dalam pembaruan substansi keislaman yang relevan dengan konteks zaman.

Ia menyebut NU sejatinya adalah “pesantren besar”, tempat tumbuhnya dinamika keilmuan Islam yang kuat. Diskusi keagamaan di pesantren, termasuk perdebatan mazhab fikih, kerap berlangsung intens.

“Kadang diskusinya sangat panas, tetapi itulah bukti kuatnya tradisi keilmuan di pesantren,” katanya.

Tradisi pesantren yang menjunjung adab santri kepada kiai, lanjutnya, menjadi fondasi moral NU dalam menjaga harmoni meski ada perbedaan pandangan.

Kekuatan Moral dan Daya Rangkul NU

Menurut Nasaruddin, seorang santri tetap menghormati kiai meski berbeda pendapat. Nilai inilah yang menjadi kekuatan moral NU.

Ia menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang sarat dinamika, namun tetap mampu menjaga keharmonisan. Bahkan, NU dinilai memiliki kemampuan merangkul pihak luar hingga merasa menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.

“NU ke depan akan menjadi wadah kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Tantangan Zaman: Cultural Shock dan Economic Shock

Nasaruddin Umar juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi PBNU dan warga Nahdliyin di masa depan. Perkembangan zaman yang sangat cepat berpotensi menimbulkan cultural shock dan economic shock.

Menurutnya, yang dibutuhkan ke depan adalah figur pemimpin yang juga manajer ulung, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw.

“Ke depan yang dibutuhkan adalah figur manajer dan pemimpin, yang mampu menjadi the best leader dan the best manager,” katanya.

Konsisten pada Moderasi dan NKRI

Menag berharap NU tetap konsisten mengusung moderasi umat. Ia menegaskan prinsip NU yang tidak menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak membedakan sesuatu yang sama, semuanya dalam bingkai NKRI.

Baca juga: PBNU Prediksi 10.000 Warga NU Hadiri Puncak Harlah ke-100 di Istora Senayan

“Biarkan yang sama itu sama, dan yang berbeda itu tetap berbeda. Namun semuanya hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Peringatan Harlah ke-100 tahun Masehi NU ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, Mustasyar PBNU Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, para duta besar negara sahabat, pengurus badan otonom NU, PWNU, hingga PCNU se-Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com