Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Astronom Prediksi Idul Fitri 20 Maret 2026, Hilal Syawal Sulit Terlihat

Kompas.com, 12 Maret 2026, 06:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang akhir bulan suci Ramadhan, perhatian umat Islam di berbagai negara mulai tertuju pada satu hal penting, kapan tepatnya Idul Fitri 1447 Hijriah akan dirayakan.

Sejumlah astronom memprediksi bahwa Hari Raya Idul Fitri kemungkinan besar jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomi yang menunjukkan bahwa hilal atau bulan sabit penanda awal bulan Syawal diperkirakan sulit terlihat pada hari-hari pengamatan sebelumnya.

Perkiraan tersebut disampaikan oleh Direktur International Astronomical Center, Mohammed Shawkat Odeh, yang berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Odeh menjelaskan bahwa secara astronomis hilal Syawal tidak mungkin terlihat pada Rabu, 18 Maret 2026 karena posisi bulan belum memenuhi syarat visibilitas.

“Akibatnya, negara-negara tersebut diperkirakan akan menyempurnakan 30 hari Ramadhan sehingga Jumat, 20 Maret, menjadi hari pertama Idul Fitri,” kata Odeh, dilansir dari Gulf News, Rabu (11/3/2026).

Baca juga: Hilal Terlihat, Arab Saudi, UEA, dan Qatar Resmi Mulai Puasa 18 Februari 2026

Awal Ramadhan Berpengaruh pada Jadwal Pengamatan Hilal

Menurut Odeh, jadwal pengamatan hilal Syawal bergantung pada kapan suatu negara memulai Ramadhan.

Negara yang memulai Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026 akan melakukan rukyat atau pengamatan hilal pada Rabu, 18 Maret 2026. Namun secara astronomi, pada hari tersebut hilal dipastikan tidak mungkin terlihat.

Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama:

  • Bulan akan terbenam sebelum matahari
  • Konjungsi astronomis (ijtima) terjadi setelah matahari terbenam

Dalam kondisi seperti itu, hilal belum terbentuk secara optis sehingga tidak dapat diamati dari bumi.

Karena itu, negara-negara tersebut diperkirakan akan menyempurnakan puasa hingga 30 hari, sehingga Idul Fitri kemungkinan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Baca juga: Lebaran 2026 Kapan? Ini Jadwal Sidang Isbat dan Prediksi BRIN

Pengamatan 19 Maret Masih Sangat Sulit

Sementara itu, negara yang memulai Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026 akan mencoba melihat hilal pada Kamis, 19 Maret 2026.

Namun Odeh menjelaskan bahwa pengamatan hilal pada tanggal tersebut juga menghadapi banyak kendala.

“Pengamatan hilal pada hari itu mustahil dilakukan dari bagian timur dunia,” ujar Odeh.

Hilal mungkin hanya dapat terlihat secara terbatas menggunakan teleskop di sebagian wilayah:

  • Asia Barat
  • Afrika bagian tengah
  • Afrika bagian utara

Sedangkan pengamatan dengan mata telanjang diperkirakan sangat sulit dilakukan di wilayah Eropa Barat dan Afrika Barat.

Wilayah yang Berpotensi Melihat Hilal

Berbeda dengan wilayah lain, peluang melihat hilal relatif lebih baik di Amerika Utara.

Menurut Odeh, di kawasan tersebut posisi bulan relatif lebih tinggi sehingga memungkinkan pengamatan dengan mata telanjang.

“Oleh karena itu, sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret, sebagai hari pertama Idul Fitri,” ungkap Odeh.

Namun karena banyak wilayah dunia Islam tidak dapat mengonfirmasi penampakan hilal, ada kemungkinan beberapa negara baru merayakan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Baca juga: Kapan Idul Fitri 2026? PERSIS Tetapkan 1 Syawal Jatuh 21 Maret

Kondisi Astronomi Hilal di Berbagai Kota Dunia

Odeh juga memaparkan kondisi astronomi hilal pada 19 Maret 2026 di beberapa kota besar dunia.

Jakarta

Di Jakarta, bulan diperkirakan terbenam sekitar 10 menit setelah matahari terbenam, dengan usia bulan 11 jam 23 menit dan jarak sudut dari matahari 5,2 derajat.

Dengan kondisi tersebut, pengamatan hilal tidak mungkin dilakukan bahkan dengan teleskop.

Timur Tengah

Di Abu Dhabi, bulan akan terbenam 29 menit setelah matahari terbenam dengan usia bulan 14 jam 12 menit dan elongasi 6,6 derajat.

Sementara di Riyadh, bulan terbenam 30 menit setelah matahari terbenam dengan usia 14 jam 38 menit.

Di lokasi-lokasi tersebut, hilal hanya mungkin diamati menggunakan teleskop dengan kondisi langit yang sangat cerah.

Timur Tengah dan Afrika

Di Amman dan Jerusalem, bulan diperkirakan terbenam sekitar 36 menit setelah matahari terbenam dengan usia bulan sekitar 15 jam.

Sedangkan di Kairo, bulan terbenam 35 menit setelah matahari terbenam dengan usia 15 jam 19 menit.

Eropa dan Afrika Barat

Di Rabat, bulan akan terbenam 44 menit setelah matahari terbenam dengan usia 17 jam 11 menit.

Sementara di Amsterdam, bulan diperkirakan terbenam 57 menit setelah matahari terbenam dengan usia 16 jam 23 menit.

Meski waktu keberadaan bulan di langit lebih lama, pengamatan dengan mata telanjang tetap dinilai sangat sulit.

Faktor Astronomi Penentu Terlihatnya Hilal

Dalam kajian astronomi Islam, keberhasilan melihat hilal tidak hanya ditentukan oleh usia bulan.

Dalam buku “Ilmu Falak: Teori dan Aplikasi” karya Muhyiddin Khazin, dijelaskan bahwa visibilitas hilal dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya:

  • ketinggian bulan dari ufuk
  • jarak sudut bulan terhadap matahari
  • ketebalan cahaya bulan sabit
  • kondisi atmosfer dan cuaca

Sementara dalam buku “Astronomi Islam dan Teori Hilal” karya Thomas Djamaluddin, dijelaskan bahwa keberhasilan rukyat hilal merupakan hasil dari kombinasi berbagai parameter astronomi.

Karena itu, melampaui nilai minimum tertentu tidak otomatis menjamin hilal dapat terlihat.

Baca juga: Kapan Lailatul Qadar Terjadi? Ini Tanda dan Keutamaannya

Penentuan Idul Fitri di Indonesia

Di Indonesia, keputusan resmi mengenai awal Syawal tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sidang tersebut memadukan dua metode utama:

  • Hisab (perhitungan astronomi)
  • Rukyat (pengamatan hilal)

Proses ini biasanya melibatkan sejumlah organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, serta para pakar astronomi dan ilmu falak.

Menanti Kepastian Hari Raya

Prediksi astronomi memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan jatuhnya Idul Fitri. Namun dalam praktiknya, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pengamatan hilal di lapangan.

Jika hilal memang tidak terlihat pada 19 Maret 2026, maka bulan Ramadhan diperkirakan akan digenapkan menjadi 30 hari dan umat Islam di banyak negara kemungkinan besar akan merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026.

Tradisi menunggu pengamatan hilal ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjang peradaban Islam, yang mempertemukan antara ilmu astronomi, praktik ibadah, dan tradisi pengamatan langit yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar