Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

“Masa Lebaran di Jalan?” Kisah Edi Rela Naik Kapal Laut karena Tiket Pesawat Habis

Kompas.com, 19 Maret 2026, 11:59 WIB
Erik Alfian,
Khairina

Tim Redaksi

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Di bawah naungan tenda pelataran Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Edi (33) dan istrinya, Anita Sari (30), duduk bersandar di antara tumpukan barang bawaan. Pasangan suami istri ini telah mengantre sejak pukul 10.00 WITA pada Rabu (18/3/2026), menanti jadwal keberangkatan KM Sinabung menuju Tanjung Perak, Surabaya.

Bagi mereka, perjalanan tahun ini adalah sebuah pengalaman baru yang cukup mengagetkan. Biasanya, mereka memilih jalur udara untuk pulang ke kampung halaman. Namun, tingginya permintaan membuat mereka harus memutar otak lantaran kehabisan tiket.

"Tiket pesawat baru tersedia tanggal 21 Maret, itu sudah lewat Idulfitri. Harganya pun sampai Rp 2,3 juta," ujar Edi sembari tersenyum kecut.

Baca juga: Cerita Haru Mudik Gratis Surabaya: Rindu yang Tertahan Akhirnya Terbayar, Ribuan Perantau Bisa Pulang

Enggan melewatkan momen sholat Ied dan silaturahmi pada 1 Syawal 1447 H, yang mungkin jatuh pada Jumat (20/3/2026), pilihan pun jatuh pada jalur laut.

Keputusan beralih ke kapal laut diambil agar mereka tidak merayakan hari kemenangan di tengah perjalanan.

"Masa Lebaran di jalan, Mas?" selorohnya diikuti tawa ringan. Dengan tiket seharga Rp575 ribu per orang yang dibeli secara daring, mereka diprediksi tiba di Surabaya pada Kamis malam, tepat waktu untuk menyambut Lebaran.

Perjalanan Panjang dari Pedalaman

Perjuangan Edi dan Anita tidak dimulai di dermaga. Sehari sebelumnya, mereka harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari Kecamatan Busang, Kutai Timur. Pasangan yang telah merantau di perkebunan sawit sejak 2011 ini berangkat pukul 11.00 siang menuju Samarinda, menginap semalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Balikpapan pagi harinya.

Mengaku rindu dengan kedua anak mereka yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren, Edi dan Anita mengakui bahwa perjalanan kali ini jauh lebih menantang secara fisik.

"Sebenarnya memang lebih ringkas naik pesawat, tapi ya sudah, dinikmati saja. Memang agak ribet, harus berdesak-desakan dan duduk di tenda seperti ini menunggu," ungkap Anita.

Baca juga: Kisah Hangat Mudik di Kendal: Pemudik Nikmati Pijat Gratis hingga Servis Motor di Posko NU Peduli

Harapan untuk Fasilitas Mudik

Sebagai pemudik yang baru pertama kali merasakan suasana padatnya Pelabuhan Semayang, Anita berharap ada peningkatan fasilitas di masa mendatang. Baginya, kenyamanan tempat menunggu sangat krusial, terutama bagi pemudik yang membawa anak kecil atau orang tua.

"Kami berharap ke depan tempat bagi pemudik ini lebih enak ya, tendanya lebih luas," harapnya.

Puncak Arus Mudik dari Pelabuhan Semayang

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan mencatat Rabu (18/3/2026) sebagai puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Semayang. Sebanyak 7.000 penumpang dijadwalkan bertolak dari Balikpapan menuju berbagai kota tujuan pada hari ini.

Kepala Bagian Tata Usaha KSOP Kelas I Balikpapan, Capt. Dedy Kurniadi, mengungkapkan bahwa kepadatan ini meningkat signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Sebagai pembanding, pada 16 Maret lalu, total penumpang yang berangkat melalui pelabuhan ini tercatat sebanyak 2.900 orang.

"Hari ini merupakan puncak mudik di Pelabuhan Semayang. Setidaknya ada enam armada kapal yang dijadwalkan bertolak," ujar Capt. Dedy, Rabu.

Baca juga: Shalat di Mobil, Bus, atau Pesawat Saat Mudik? Ini Tata Caranya

Adapun enam kapal yang melayani pemudik hari ini meliputi KM Sinabung, KM Bukit Siguntang, KM Lambelu, serta dua armada dari Dharma Lautan Utama, yakni KM Dharma Ferry VII, KM Dharma Kencana IX, serta satu armada dari Damai Lautan Nusantara.

Kota Surabaya dan Parepare (Sulawesi Selatan) masih menjadi destinasi favorit bagi para pemudik tahun ini.

Berbeda dengan angka keberangkatan yang melonjak tajam, jumlah penumpang yang tiba di Pelabuhan Semayang terpantau jauh lebih rendah.

Capt. Dedy menyebutkan, untuk kapal milik PT Pelni, jumlah penumpang yang turun hanya berkisar di angka 400 orang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar