Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Tiga Datok Pembawa Islam di Luwu dan Cahaya Obor Malam Takbiran yang Menjaga Ingatan

Kompas.com, 21 Maret 2026, 14:03 WIB
Add on Google
Amran Amir,
Khairina

Tim Redaksi

LUWU, KOMPAS.com – Malam di Desa Pabbaresseng, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, tidak pernah benar-benar gelap saat takbiran tiba.

Cahaya obor berkelip di sepanjang jalan desa, menyatu dengan lantunan takbir yang menggema dari mulut ke mulut, dari generasi tua ke generasi muda.

Di desa yang dipercaya sebagai salah satu titik awal masuknya Islam di wilayah Luwu ini, takbiran bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadhan.

Ia adalah cara warga merawat ingatan tentang datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh tiga datok dari Sumatera Barat, yakni Datok Sulaiman, Datok Ri Bandang dan Datok DiTiro, sekaligus tentang bagaimana nilai-nilai itu tetap hidup hingga hari ini.

Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga remaja, berjalan beriringan dalam pawai obor, Jumat (20/3/2026) malam.

Mereka menyusuri jalan desa sejauh kurang lebih dua kilometer, melintasi dusun-dusun yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kampung tersebut.

Mutia, salah seorang peserta, berjalan di antara barisan anak-anak yang sesekali tertawa sambil tetap mengumandangkan takbir.

Baginya, pawai obor bukan sekadar tradisi, melainkan momen yang sarat perasaan.

Ia terharu dapat mengikuti kegiatan tersebut bersama warga lainnya.

Ia merasakan kebersamaan yang kuat selama pawai berlangsung.

“Di malam takbiran ini rasanya sangat terharu, karena kami akan meninggalkan bulan Ramadhan dan menyambut Idul Fitri,” kata Mutia saat dikonfirmasi usai melaksanakan pawai obor.

Mutia mengatakan rute pawai obor yang ditempuh peserta mencapai sekitar dua kilometer.

“Walaupun rutenya cukup jauh, rasa capek tidak terasa karena kami menikmatinya bersama,” ucapnya.

Di sela langkah yang terus bergerak, ia juga merasakan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Alhamdulillah, kami semua kompak, bahagia, dan bisa takbir bersama sambil membawa obor,” ujarnya.

Cahaya api dari obor-obor sederhana itu bukan hanya menerangi jalan, tetapi juga memantulkan wajah-wajah penuh harap.

Di sanalah, tradisi bertemu dengan keyakinan, dan kebersamaan menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Panitia pelaksana, Dandi Anies, menyebut pawai obor sebagai hasil gotong royong warga yang masih terjaga hingga kini.

Persiapan dilakukan bersama, dari pemuda hingga orang tua, tanpa sekat.

“Kegiatan ini kami siapkan bersama-sama dengan teman-teman pemuda dan dukungan penuh dari masyarakat. Alhamdulillah, pelaksanaannya berjalan lancar dan mendapat antusias yang tinggi,” tutur Dandi.

Dandi menuturkan, rute yang dipilih sengaja melintasi seluruh dusun agar setiap warga dapat merasakan suasana takbiran yang sama.

“Kami ingin semua warga terlibat dan merasakan kebersamaan. Ini adalah bagian dari tradisi yang harus terus dijaga,” imbuhnya.

Di tengah arus modernisasi yang perlahan masuk ke desa-desa, pawai obor di Pabbaresseng tetap bertahan.

Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatannya.

Tokoh agama setempat, Wahyu, memandang kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami makna syukur dan kebersamaan dalam Islam.

“Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk memeriahkan malam takbiran sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT setelah menjalankan ibadah Ramadhan sebulan lamanya. Kami berharap kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun,” jelas Wahyu.

Wahyu juga menyebutkan bahwa pawai obor telah beberapa kali digelar, namun pada tahun ini terasa lebih ramai dibandingkan sebelumnya.

Hal itu, menurut dia, tidak lepas dari meningkatnya partisipasi masyarakat serta semangat generasi muda yang semakin tinggi.

“Pawai obor ini sudah sering dilaksanakan, namun tahun ini lebih ramai. Kami berharap tahun depan bisa lebih meriah lagi dengan keterlibatan masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.

Menurut Wahyu, tradisi seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, antara sejarah masuknya Islam dan praktik keagamaan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.

Seiring langkah para peserta yang terus bergerak dari satu dusun ke dusun lainnya, gema takbir tidak hanya terdengar sebagai ritual, tetapi juga sebagai penegasan identitas.

Di Pabbaresseng, obor-obor itu bukan sekadar cahaya.

Ia adalah simbol tentang iman yang diwariskan, tentang kebersamaan yang dirawat, dan tentang sejarah yang tidak ingin dilupakan.

Malam takbiran pun berlalu, tetapi jejak langkah dan cahaya obor itu tetap tinggal dalam ingatan warga, menjadi bagian dari cerita yang akan terus diceritakan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji Nonprosedural dan Imbau Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji 1447 H
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji Nonprosedural dan Imbau Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji 1447 H
Aktual
Kutim Luncurkan Beasiswa 1.000 Penghafal Al-Quran: Cetak Generasi Qurani
Kutim Luncurkan Beasiswa 1.000 Penghafal Al-Quran: Cetak Generasi Qurani
Aktual
Cukup Lihat Giginya! Begini Cara Memastikan Usia Hewan Kurban yang Sah Sesuai Syariat
Cukup Lihat Giginya! Begini Cara Memastikan Usia Hewan Kurban yang Sah Sesuai Syariat
Aktual
Fasilitas Baru di Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah, Lantai Tebal dan Urinoir
Fasilitas Baru di Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah, Lantai Tebal dan Urinoir
Aktual
Arab Saudi Gelar 23.000 Inspeksi Jelang Haji 2026, Awasi Harga dan Ketersediaan Pangan
Arab Saudi Gelar 23.000 Inspeksi Jelang Haji 2026, Awasi Harga dan Ketersediaan Pangan
Aktual
Jemaah Haji 2026 Hanya Boleh Bawa Satu Tas ke Mina, Tas Tambahan Dilarang
Jemaah Haji 2026 Hanya Boleh Bawa Satu Tas ke Mina, Tas Tambahan Dilarang
Aktual
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Band Metal Saudi “Dune” Bangkit Lagi, Scene Rock Riyadh Kini Makin Menggila
Band Metal Saudi “Dune” Bangkit Lagi, Scene Rock Riyadh Kini Makin Menggila
Aktual
“Ayo Ada Bubur Kacang Ijo!” Suasana Pasar Indonesia di Tengah Kota Mekkah
“Ayo Ada Bubur Kacang Ijo!” Suasana Pasar Indonesia di Tengah Kota Mekkah
Aktual
Wukuf 2026 Lebih Tertata, Tenda Arafah Kini Punya Identitas Lengkap Penghuni
Wukuf 2026 Lebih Tertata, Tenda Arafah Kini Punya Identitas Lengkap Penghuni
Aktual
Bupati Bandung Wacanakan Bangun Asrama Haji Mandiri, Tak Perlu Lagi ke Indramayu
Bupati Bandung Wacanakan Bangun Asrama Haji Mandiri, Tak Perlu Lagi ke Indramayu
Aktual
Tiga Jemaah Haji Asal Jatim Meninggal Dunia di Tanah Suci
Tiga Jemaah Haji Asal Jatim Meninggal Dunia di Tanah Suci
Aktual
Lirboyo, 'Pabrik' Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia
Lirboyo, "Pabrik" Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia
Aktual
Kisah Fransiska Mainake Saat Layani Jemaah Haji di Tanah Suci, Pernah Dampingi Jamaah yang Takut Tersesat
Kisah Fransiska Mainake Saat Layani Jemaah Haji di Tanah Suci, Pernah Dampingi Jamaah yang Takut Tersesat
Aktual
 Kemenhaj Temukan Jemaah Haji  di Jeddah Belum Patuhi Aturan Ihram, Gunakan Pakaian Dalam dan Bersepatu
Kemenhaj Temukan Jemaah Haji di Jeddah Belum Patuhi Aturan Ihram, Gunakan Pakaian Dalam dan Bersepatu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com