KOMPAS.com – Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, banyak umat Islam mencari ketenangan melalui amalan-amalan sederhana namun penuh makna. Salah satu yang paling populer adalah membaca Surat Al-Waqiah secara rutin setiap hari.
Amalan ini tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga diperkuat oleh berbagai riwayat ulama dan literatur keislaman yang menempatkannya sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual dalam menjaga keberkahan hidup, terutama terkait rezeki dan ketenangan batin.
Lantas, benarkah membaca Surat Al-Waqiah setiap hari memiliki keutamaan khusus? Bagaimana penjelasan para ulama dan apa makna yang terkandung di baliknya?
Baca juga: Surat Yasin: Arab, Latin dan Artinya
Surat Al-Waqiah merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an yang tergolong Makkiyah, yakni diturunkan sebelum hijrah Nabi ke Madinah.
Kandungannya banyak membahas peristiwa hari kiamat serta pembagian manusia berdasarkan amalnya.
Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Surat Al-Waqiah menggambarkan tiga golongan manusia, golongan yang paling dekat dengan Allah (as-sabiqun), golongan kanan (ashabul yamin), dan golongan kiri (ashabul syimal). Pembagian ini menjadi refleksi mendalam tentang arah kehidupan manusia.
Sementara itu, dalam kitab Marah Labid, Syekh Nawawi Al-Bantani menegaskan bahwa surat ini memiliki kandungan akidah yang kuat, sekaligus menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh kehidupan dunia.
Baca juga: Rahasia Rezeki Lancar dari Surat Al Waqiah: Amalan Pesantren yang Banyak Diamalkan
Keutamaan membaca Surat Al-Waqiah sering dikaitkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi:
“Barang siapa membaca Surat Al-Waqiah setiap malam, maka ia tidak akan tertimpa kefakiran.”
Riwayat serupa juga dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Mas'ud, yang dikenal sebagai salah satu ahli Al-Qur’an.
Ia bahkan mengajarkan surat ini kepada keluarganya sebagai amalan perlindungan dari kesulitan hidup.
Meski sebagian ulama menilai kualitas hadis ini sebagai dhaif, banyak yang tetap membolehkannya dalam konteks fadhailul a’mal (keutamaan amalan).
Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi menegaskan bahwa hadis dhaif dapat diamalkan selama tidak berkaitan dengan hukum halal-haram dan memiliki dasar umum dalam syariat.
Kaitan antara Surat Al-Waqiah dan kelapangan rezeki tidak bisa dilepaskan dari pemahaman bahwa rezeki bersumber dari Allah SWT. Membaca Al-Waqiah menjadi sarana untuk memperkuat keyakinan tersebut.
Dalam buku Khulashoh Nurul Yaqin, Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan bahwa amalan-amalan Al-Qur’an memiliki efek spiritual yang nyata bagi pelakunya, termasuk dalam membuka pintu rezeki.
Pandangan ini diperkuat dalam buku Fadhail Al-Qur’an karya Ibnu Katsir, yang menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an dengan penuh keimanan dapat mendatangkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk materi. Ia bisa hadir dalam bentuk kesehatan, ketenangan hati, kemudahan urusan, hingga perlindungan dari musibah.
Baca juga: Surat Yunus Ayat 40–41: Arab, Latin, Arti, Tafsir dan Makna Mendalam tentang Keimanan
Di berbagai daerah, membaca Surat Al-Waqiah telah menjadi tradisi yang hidup. Banyak keluarga menjadikannya sebagai amalan rutin setelah salat Maghrib atau sebelum tidur.
Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk pendidikan spiritual dalam keluarga. Anak-anak diajarkan untuk dekat dengan Al-Qur’an sejak dini, sekaligus memahami bahwa kehidupan tidak lepas dari campur tangan Ilahi.
Dalam praktiknya, bacaan Al-Waqiah sering disertai doa khusus yang memohon kecukupan dan dijauhkan dari ketergantungan kepada manusia.
Salah satu doa yang sering dibaca setelah Al-Waqiah berbunyi:
اَللّٰهُمَّ صُنْ وُجُوْهَنَا بِالْيَسَارِ، وَلَا تَبْتَذِلْهَا بِالْاِقْتَارِ، فَنَسْأَلَ شَرَّ خَلْقِكَ، وَنُبْتَلَى بِحَمْدِ مَنْ أَعْطَى، وَذَمِّ مَنْ مَنَعَ، وَأَنْتَ مِنْ وَرَاءِ ذٰلِكَ كُلِّهِ وَلِيُّ الْإِعْطَاءِ وَالْمَنْعِ.
Allahumma shun wujuhana bil-yasār, wa lā tabtadzilhā bil-iqtār, fana’s-alu syarra khalqik, wa nubtalā bihamdi man a‘thā wa dzammi man mana‘, wa anta min warā’i dzālika kullihi waliyyul-i‘thā’i wal-man‘.
“Ya Allah, peliharalah wajah-wajah kami dengan kecukupan, dan jangan Engkau hinakan dengan kekurangan. Sehingga kami terpaksa meminta kepada makhluk-Mu yang buruk, lalu diuji dengan memuji orang yang memberi dan mencela orang yang tidak memberi. Padahal Engkaulah di balik semua itu Pemilik keputusan dalam memberi maupun menahan.”
Doa ini mengandung permohonan agar Allah menjaga kehormatan manusia dengan kecukupan, serta menjauhkan dari kondisi yang memaksa seseorang bergantung kepada orang lain.
Dalam perspektif tasawuf, doa semacam ini mencerminkan keseimbangan antara usaha lahir dan ketergantungan batin kepada Allah SWT.
Membaca Surat Al-Waqiah sejatinya bukan hanya tentang mengejar kelapangan rezeki. Lebih dari itu, ia adalah sarana membangun kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Ayat-ayat dalam surat ini mengingatkan manusia tentang kepastian hari akhir, sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab atas setiap perbuatan.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dijelaskan bahwa hati yang dekat dengan Al-Qur’an akan lebih tenang dan tidak mudah gelisah oleh urusan dunia.
Baca juga: Surat Yusuf Ayat 4: Arab, Latin, Arti, Tafsir Lengkap dan Maknanya dalam Kehidupan
Menariknya, kebiasaan membaca Al-Waqiah juga memiliki dampak psikologis. Rutinitas ini membantu menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan rasa optimisme.
Secara sosial, orang yang terbiasa dengan amalan ini cenderung memiliki sikap lebih sabar, dermawan, dan tidak mudah putus asa.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan spiritual dapat bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Para ulama menekankan bahwa membaca Al-Waqiah sebaiknya diiringi dengan amalan lain, seperti:
Amalan-amalan ini saling melengkapi dan memperkuat ikhtiar seorang Muslim dalam meraih keberkahan hidup.
Keutamaan membaca Surat Al-Waqiah setiap hari pada akhirnya kembali pada satu hal: istiqamah.
Amalan yang sederhana akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten dan penuh keikhlasan.
Di tengah ketidakpastian hidup, Surat Al-Waqiah menjadi pengingat bahwa rezeki, kehidupan, dan masa depan berada dalam kendali Allah SWT.
Bagi mereka yang menjadikannya sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya harapan akan kelapangan rezeki yang didapat, tetapi juga ketenangan jiwa yang sulit dinilai dengan materi.
Dan mungkin di situlah letak keutamaan yang sesungguhnya, ketika hati menjadi lebih dekat kepada Sang Pemberi rezeki, bukan sekadar mengejar apa yang diberikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang