KOMPAS.com – Di tengah upaya global menjaga warisan peradaban, Arab Saudi kembali menghadirkan temuan berharga yang mengundang perhatian dunia Islam dan akademisi internasional.
Sebuah manuskrip Al-Qur’an kuno berusia lebih dari 1.000 tahun dipamerkan ke publik, membuka kembali jendela sejarah tentang bagaimana tradisi keilmuan Islam berkembang sejak masa awal.
Manuskrip ini bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi juga jejak intelektual yang merekam cara para ulama memahami, menafsirkan, dan menjaga otentisitas Al-Qur’an lintas generasi.
Baca juga: Saudi Pastikan Haji 2026 Lancar, Evaluasi Layanan Dilakukan Menyeluruh
Naskah yang dipamerkan oleh King Abdulaziz Public Library tersebut berjudul Gharib Al-Qur’an, karya ulama klasik Abu Ubaidah Ma'mar Ibn Al Muthanna.
Berasal dari abad keempat Hijriah, manuskrip ini terdiri dari 23 lembar dengan ukuran relatif kecil, sekitar 17 x 22 cm.
Meski tampak sederhana, nilai ilmiahnya sangat tinggi karena termasuk karya awal dalam bidang studi linguistik Al-Qur’an, khususnya dalam menjelaskan istilah-istilah yang dianggap sulit dipahami.
Dalam kajian ilmu Al-Qur’an, gharib merujuk pada kata-kata asing atau jarang digunakan, yang membutuhkan penjelasan kontekstual agar maknanya tidak disalahartikan.
Salah satu daya tarik utama manuskrip ini terletak pada gaya penulisannya. Dikutip dari Gulf News, teks utama ditulis menggunakan aksara Andalusia yang dikenal rapi dan mudah dibaca, sementara nama-nama surah ditulis dalam aksara Kufi, salah satu bentuk kaligrafi Arab paling awal.
Perpaduan dua gaya ini menunjukkan dinamika perkembangan seni tulis Islam, sekaligus menjadi bukti adanya pertukaran budaya antara wilayah Timur Tengah dan Andalusia pada masa itu.
Dalam buku Islamic Calligraphy karya Sheila S. Blair dijelaskan bahwa evolusi kaligrafi Arab tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga dengan fungsi ilmiah dan religius, terutama dalam menjaga keakuratan penulisan Al-Qur’an.
Baca juga: Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Manuskrip Gharib Al-Qur’an memperlihatkan bahwa sejak awal, para ulama tidak hanya berfokus pada penyalinan teks suci, tetapi juga melakukan analisis mendalam terhadap bahasa Al-Qur’an.
Dalam buku The Study Quran karya Seyyed Hossein Nasr disebutkan bahwa tradisi tafsir dan linguistik dalam Islam berkembang sangat pesat sejak abad-abad awal, sebagai upaya memahami wahyu secara komprehensif.
Karya seperti ini membantu menjelaskan konteks historis, makna leksikal, hingga nuansa bahasa yang tidak selalu dapat dipahami secara literal. Dengan kata lain, manuskrip ini menjadi bagian penting dari fondasi ilmu tafsir modern.
Selain manuskrip utama, perpustakaan juga menampilkan lebih dari 185 naskah langka lain yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an, tata bahasa Arab, hingga metode pembacaan.
Di antara karya yang turut dipamerkan adalah tulisan ulama besar seperti Abu Ishaq Al-Zajjaj dan Ibn Qutaybah Al-Dinawari, serta bagian dari Tafsir al-Tabari karya Al-Tabari yang disalin pada abad keenam Hijriah.
Keberagaman koleksi ini menunjukkan betapa luasnya spektrum keilmuan Islam, yang tidak hanya mencakup aspek teologis, tetapi juga linguistik, filologi, hingga sejarah intelektual.
Baca juga: Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Pameran ini merupakan bagian dari komitmen Arab Saudi dalam melestarikan warisan budaya Islam sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi publik dan peneliti.
Perpustakaan tidak hanya menyimpan manuskrip, tetapi juga mendigitalisasi koleksi, menampilkan artefak, dokumen, hingga koin bersejarah untuk mendukung riset akademik.
Langkah ini sejalan dengan tren global dalam pelestarian manuskrip kuno, di mana akses terbuka menjadi kunci dalam memperluas kajian ilmiah lintas negara.
Dalam buku Manuscripts of the Middle East karya Geoffrey Khan disebutkan bahwa digitalisasi manuskrip memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan studi sejarah dan filologi di era modern.
Pameran manuskrip Al-Qur’an kuno ini bukan hanya tentang melihat masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana tradisi keilmuan Islam dapat terus relevan di masa kini.
Di balik lembaran-lembaran tua tersebut, tersimpan semangat intelektual yang kuat—sebuah upaya manusia untuk memahami wahyu secara mendalam dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar artefak, manuskrip ini adalah pengingat bahwa peradaban besar dibangun bukan hanya oleh kekuatan politik atau ekonomi, tetapi oleh tradisi ilmu yang terus dijaga dan diwariskan.
Dan di tengah dunia yang terus berubah, jejak-jejak seperti ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan, ketika dirawat dengan baik, mampu melampaui zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang