Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?

Kompas.com, 29 April 2026, 19:46 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERNYATAAN menohok dari sahabat Andi Jamaro Dulung, tokoh senior PBNU, dalam Halalbihalal Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII (PB IKA PMII) pada Selasa (28/4/2026) kembali membuka kotak pandora yang selama ini tabu dibicarakan secara terbuka: minimnya representasi ulama daerah di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dalam pidatonya itu, sahabat Andi Jamaro Dulung menyinggung formasi masa khidmat 2004-2009 di bawah kepemimpinan KH Ahmad Hasyim Muzadi dan KH MA Sahal Mahfudh, menjadi cermin terbaik, karena melibatkan perwakilan Luar Jawa.

Saat itu Katib Aam-nya adalah Profesor Nasaruddin Umar dan Sekjend-nya adalah KH Muhyidin Arubusman dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca juga: Forum Ketua PWNU Desak PBNU Gelar Muktamar Juli-Agustus 2026 atau Hadapi Mosi Tidak Percaya

Andi Jamaro, kemudian merujuk pada hasil Muktamar Makassar, Jombang, hingga Lampung, menyoroti adanya kecenderungan sentralisasi kepengurusan yang mengabaikan kiai-kiai di luar Jawa.

Kritik ini bukan sekadar urusan bagi-bagi jabatan. Ini adalah refleksi kritis atas arah gerak organisasi terbesar di Indonesia ini.

Memang, selama tiga periode terakhir—muktamar ke-33 di Jombang hingga ke-34 di Lampung—terasa ada pergeseran gaya kepemimpinan.

PBNU cenderung diisi oleh figur-figur yang berbasis di Jakarta atau pulau Jawa, dengan latar belakang akademisi atau profesional.

Sementara itu, kiai-kiai pengasuh pesantren dan aktifis NU di luar Jawa yang merawat jamaah sehari-hari semakin jarang mendapat tempat strategis di struktural PBNU.

Padahal, kekuatan NU bukan pada Jawa, atau elit perkotaan, melainkan pada loyalitas jamaah di seluruh pelosok Nusantara.

Kiai luar bagian dari ujung tombak yang memahami betul denyut nadi persoalan umat. Mereka adalah benteng pertahanan terakhir Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dari infiltrasi paham radikal.

Proporsionalitas yang Hilang

Menuntut keterlibatan ulama daerah secara proporsional bukanlah tindakan separatis. Sebaliknya, ini adalah upaya merawat kebinekaan NU.

Bagaimana mungkin PBNU bisa merumuskan kebijakan yang relevan untuk seluruh Indonesia, jika narasi yang terbangun hanya berpusat pada dinamika Jawa atau elite perkotaan?

Representasi luar Jawa yang minim menyebabkan PBNU terkesan jauh dari jangkauan akar rumput. PWNU (Wilayah) dan PCNU (Cabang) di luar Jawa sering kali merasa "hanya" menjadi penyumbang suara saat Muktamar, namun kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan strategis.

Sahabat Andi Jamaro benar ketika menekankan pentingnya mekanisme AD/ART. Namun, organisasi yang sehat juga membutuhkan penyegaran ide dan struktur.

Keterlibatan ulama luar Jawa akan membawa warna baru yang lebih membumi. Mereka membawa perspektif lokal yang otentik—soal konflik lahan di Sumatra, isu keagamaan di Sulawesi, hingga tantangan dakwah di Papua.

Tiga periode (15 tahun) adalah waktu yang cukup lama untuk mengevaluasi bahwa sentralisasi kepengurusan tidak serta-merta membuat NU lebih solid. Bahkan, terkadang menimbulkan jarak kultural antara PBNU dan basis di luar Jawa.

Karena itu, penting kiranya merespons seruan Andi Jamaro, PBNU kedepan harus berani melakukan "desentralisasi kepengurusan" secara kultural maupun struktural.

Menempatkan ulama luar Jawa di jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah bukan saja tentang keadilan geografis, tapi tentang keberlangsungan NU itu sendiri.

Baca juga: Gus Ipul Ungkap Syarat Ketum PBNU: Harus Punya Track Record Baik, Semua Kader Berpeluang

Nahdlatul Ulama, sebagaimana dicita-citakan muassis (pendiri), adalah organisasi yang didorong oleh kiai-kiai pesantren, bukan sekadar organisasi yang dijalankan oleh elite birokrat.

Saatnya memberikan panggung lebih luas bagi kiai luar Jawa agar NU tetap menjadi "jam'iyyah mubarakah" yang benar-benar dirasakan manfaatnya dari kota hingga ke desa-desa terpencil. Wallahu'alam bishawab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar