Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hewan Kurban Stres Bisa Bikin Daging Cepat Busuk, Dosen IPB Bagikan Cara Mencegahnya

Kompas.com, 2 Mei 2026, 18:25 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Salah satu momen penting bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban di hari raya Idul Adha pada tiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Selain memenuhi syariat Islam, proses penyembelihan hewan kurban juga harus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan.

Penanganan yang tidak tepat ternyata dapat memicu stres pada hewan dan berdampak langsung terhadap kualitas daging kurban.

Karena itu, proses penyembelihan dan perlakuan terhadap hewan kurban perlu dilakukan secara benar sejak sebelum penyembelihan berlangsung.

Baca juga: Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan

Penyembelihan Harus Sesuai Syariat dan Kesejahteraan Hewan

Dilansir dari laman LPPOM MUI, Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Ir. Henny Nuraini, MSi, menjelaskan bahwa proses penyembelihan merupakan kegiatan mematikan hewan hingga tercapai kematian sempurna dengan cara yang mengacu pada kaidah kesejahteraan hewan dan syariat Islam.

“Dalam proses ini, terdapat lima persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya yaitu standar hewan harus halal, dalam keadaan hidup, dan sehat,” ujar Henny yang juga sebagai auditor halal senior di LPH LPPOM.

Menurutnya, perlakuan terhadap hewan kurban menjadi bagian penting dalam proses penyembelihan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah mencegah hewan mengalami stres sebelum disembelih.

Baca juga: Idul Adha 2026: Cek Syarat dan Ciri Hewan Kurban Layak Disembelih

Hewan Kurban Stres Bisa Menurunkan Kualitas Daging

Senada, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, drh. Supratikno, M.Si., PAvet., mengatakan stres pada hewan kurban dapat dipicu berbagai faktor, baik fisik maupun psikologis.

Dari sisi fisik, stres dapat terjadi akibat kelelahan dan trauma karena perjalanan transportasi yang jauh. Sementara dari aspek psikologis, kondisi lapar, sakit, kepanasan, rasa takut, hingga perkelahian antar-hewan ternak juga dapat memicu stres.

“Stres menyebabkan glikogen dalam otot menurun sampai level yang sangat rendah. Hal ini membuat terjadinya perubahan komposisi biokimia dalam daging. Akibatnya, saat penyembelihan, kualitas daging menjadi DFD (Dark – Firm – Dry) atau bisa diartikan kualitas daging jelek,” terang Supratikno.

Ia menjelaskan, pada hewan yang mengalami stres akut berat akan terjadi respirasi anaerob yang menghasilkan asam laktat sebagai sisa metabolisme. Kadar asam laktat yang terlalu tinggi saat penyembelihan dapat menyebabkan penurunan pH terlalu cepat.

Kondisi tersebut membuat darah banyak tertinggal di dalam otak, otot, dan pembuluh darah sehingga proses pengeluaran darah menjadi tidak sempurna.

“Kedua hal tersebut menyebabkan ketidaksempurnaan pengeluaran darah. Kualitas daging menjadi pucat, lembek, dan berair. Daging seperti ini akan mudah busuk dan susut masaknya tinggi,” jelas Supratikno.

Hal yang Perlu Diperhatikan di Lokasi Penyembelihan

Untuk meminimalkan tingkat stres pada hewan kurban, beberapa hal terkait lokasi penyembelihan perlu diperhatikan, antara lain:

  1. Lokasi penyembelihan merupakan area terbatas.
  2. Hanya petugas dan pihak berkepentingan yang diperbolehkan masuk.
  3. Kondisi lokasi diupayakan tetap tenang.
  4. Tempat penyembelihan dipisahkan dari area penampungan hewan.
  5. Hewan hidup tidak boleh melihat hewan lain sedang disembelih atau dipisahkan kepalanya.
  6. Hewan baru dibawa ke lokasi penyembelihan setelah seluruh petugas dan peralatan siap digunakan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar