Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ma'ruf Amin Dukung Transformasi Pesantren, Apresiasi Pelatihan 5.000 Pengasuh Ponpes

Kompas.com, 6 Juli 2026, 18:23 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Mantan Wakil Presiden Ke-13 RI, Prof Dr KH Ma'ruf Amin, menyatakan dukungannya terhadap gerakan transformasi pesantren yang digagas Pengasuh Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, KH Imam Jazuli.

Dukungan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker pada Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-5 yang diikuti sekitar 400 pengasuh pesantren dari Banten, DKI Jakarta, dan Lampung.

Kegiatan yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Sabtu (4/7/2026), mengangkat tema transformasi pesantren sebagai upaya memperkuat daya saing lembaga pendidikan Islam menghadapi perubahan zaman.

Dalam sambutannya, KH Ma'ruf Amin mengapresiasi langkah KH Imam Jazuli yang menargetkan pelatihan bagi 5.000 kiai dari berbagai daerah di Indonesia.

"Workshop yang mengangkat tema transformasi pesantren ini sebetulnya menjadi langkah konkret dari realisasi pemikiran para kiai pesantren zaman dulu (at-tafkir al-ma'hadi). Karena itu, saya mengapresiasi langkah Kiai Imam Jazuli untuk meneruskan tradisi yang baik ini," ungkap KH Ma'ruf Amin dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).

Baca juga: Peluang Cirebon Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35 Menguat, Pesantren Buntet Dinilai Penuhi Syarat

Menurutnya, pesantren tidak lagi cukup hanya mencetak ulama yang mendalami ilmu agama (al-mutafaqqihun), tetapi juga harus melahirkan generasi pemimpin yang mampu membangun peradaban melalui penguasaan sains dan teknologi.

"Karena itu, saya mengajak masyarakat kiai untuk menerapkan cara berpikir yang terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Saya sendiri bekerja sama dengan kampus di China untuk pengembangan sains dan teknologi," tegasnya.

Sementara itu, KH Imam Jazuli mengajak para pengasuh pesantren untuk memiliki keberanian melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Bukan perubahan yang membuat suatu lembaga itu mati, tetapi cara kita dalam memberikan respons itulah yang akan menentukan hidup dan matinya lembaga," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan, termasuk pesantren, kini menghadapi era disrupsi digital yang mengubah perilaku dan harapan masyarakat.

"Itulah yang disebut disrupsi digital atau perubahan yang mengacaukan tatanan lama. Disrupsi menghasilkan pilihan informasi yang berlimpah. Disrupsi mendorong perubahan ekspektasi dan harapan masyarakat sehingga ketika kita gagal merespons perubahan, sudah jelas kita ditinggalkan dan dimarjinalkan zaman," jelas KH Imam Jazuli.

Menurutnya, menurunnya jumlah santri di sebagian pesantren bukan berarti minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren berkurang.

Yang terjadi justru perpindahan minat ke pesantren yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

"Saya lebih yakin bahwa yang terjadi adalah terjadinya migrasi, perpindahan dari pesantren model A ke pesantren model B. Ada banyak pesantren lama yang turun jumlah peminatnya, dan sebaliknya ada pesantren baru yang jumlah santrinya membeludak," paparnya.

Kiai Imam Jazuli juga mengingatkan besarnya potensi pengembangan pesantren di Indonesia.

Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat lebih dari 53 juta penduduk usia sekolah, sementara jumlah santri yang tercatat di Kementerian Agama masih kurang dari 4 juta orang.

"Artinya, masih sangat banyak jumlah penduduk Indonesia yang bisa diajak masuk pesantren. Tapi tentu butuh pesantren yang diterima oleh zaman ini," katanya.

Dalam workshop yang berlangsung selama 16 jam tersebut, KH Imam Jazuli membahas berbagai strategi transformasi pesantren, mulai dari pembaruan kurikulum, pengelolaan sumber daya manusia dan keuangan, peningkatan daya tarik pesantren bagi generasi muda, hingga penguatan branding, digital marketing, akses ke perguruan tinggi negeri, serta peluang memperoleh beasiswa ke luar negeri.

Baca juga: Menag: Pesantren Jadi Benteng Karakter Bangsa, Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat

Panitia sekaligus moderator, Ubaydillah Anwar, mengatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan pelatihan khusus bagi tim media pesantren agar mampu memperkuat publikasi dan komunikasi digital lembaga.

Salah seorang peserta, KH Basyirun R MA dari Banten, mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti workshop tersebut.

"Arahan dan pilihan strategi yang disampaikan Kiai Imam Jazuli sangat membumi, bisa diterapkan langsung, dan sudah terbukti hasilnya," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar