Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hukum Mencabut Uban dalam Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama

Kompas.com, 31 Juli 2026, 18:34 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Memiliki uban sering dikaitkan dengan bertambahnya usia sehingga sebagian orang memilih mencabutnya demi menjaga penampilan.

Namun, dalam Islam, uban bukan sekadar perubahan warna rambut, melainkan memiliki makna tersendiri sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

Karena itu, umat Islam perlu memahami hukum mencabut uban agar tidak keliru dalam menyikapinya.

Baca juga: Hukum Istri Menambahkan Nama Suami dalam Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasanya

Karena itu, perlu disimak penjelasan hukum mencabut uban menurut hadis dan pandangan ulama.

Hukum Mencabut Uban dalam Islam

Dalam Islam, uban dipandang sebagai salah satu tanda yang memiliki keutamaan bagi seorang Muslim.

Baca juga: Hukum Berhijab Tapi Memakai Wig atau Rambut Palsu, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasannya

Menurut Taudhihul Adillah karya Hadzami (2010:379), uban merupakan rambut yang memutih dan dipandang sebagai nur atau cahaya bagi seorang Muslim. Bahkan, uban disebut akan menjadi penerang pada hari kiamat.

Secara umum, tidak terdapat penjelasan khusus mengenai hukum mencabut rambut yang masih hitam.

Namun, mencabuti rambut secara berlebihan tidak dianjurkan karena dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan rambut.

Sementara itu, hukum mencabut uban dalam Islam adalah makruh sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

"Janganlah kalian mencabut uban, karena ia merupakan cahaya bagi seorang Muslim. Tidaklah seorang Muslim membiarkan ubannya selama ia masih Islam, kecuali Allah akan mencatat baginya satu kebaikan, mengangkat satu derajat, dan menghapus satu kesalahan." (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Pandangan Ulama tentang Mencabut Uban

Pendapat mengenai kemakruhan mencabut uban juga dijelaskan dalam pandangan ulama Mazhab Syafi'i.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menyebutkan bahwa mencabut uban, baik di kepala maupun jenggot, hukumnya makruh.

Makruh berarti perbuatan tersebut tidak sampai berdosa apabila dilakukan. Namun, meninggalkannya lebih utama dan mendatangkan pahala.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak mencabut uban sebagai bentuk mengikuti anjuran Rasulullah SAW.

Hikmah Membiarkan Uban dan Tidak Mencabutnya

Uban dapat menjadi pengingat bahwa usia seseorang terus bertambah dan kehidupan dunia bersifat sementara.

Kehadirannya juga menjadi pengingat agar seorang Muslim semakin mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

Karena itu, uban tidak semestinya dipandang sebagai aib yang mengurangi penampilan. Sebaliknya, uban dapat dimaknai sebagai simbol kedewasaan, pengalaman, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Ada Alternatif Selain Mencabut Uban

Bagi seseorang yang merasa kurang percaya diri dengan uban, Islam memberikan alternatif berupa mewarnai rambut menggunakan bahan yang diperbolehkan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ubah warna uban ini, tetapi hindari warna hitam.” (HR. Muslim).

Anjuran tersebut menunjukkan bahwa mewarnai uban diperbolehkan selama tidak menggunakan warna hitam sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Meski demikian, pilihan untuk mewarnai rambut tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan niat masing-masing, selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Dengan demikian, hukum mencabut uban dalam Islam adalah makruh menurut mayoritas ulama berdasarkan hadis Rasulullah SAW.

Meninggalkan kebiasaan tersebut lebih utama karena uban memiliki keutamaan sebagai cahaya bagi seorang Muslim.

Dengan memahami ajaran ini, umat Islam diharapkan dapat menyikapi munculnya uban dengan bijak, menjadikannya sebagai pengingat untuk meningkatkan keimanan, serta lebih mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar