Editor
KOMPAS.com - Daging biawak masih dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia karena dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan.
Di sisi lain, muncul anggapan bahwa biawak sama dengan dhab atau kadal gurun yang disebut halal dalam beberapa hadis.
Kesamaan bentuk fisik keduanya membuat banyak orang keliru dalam memahami hukumnya. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum mengonsumsi daging biawak menurut Islam?
Baca juga: Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Dalam pandangan Islam, hukum mengonsumsi daging biawak adalah haram. Meski sekilas memiliki bentuk yang mirip dengan dhab, biawak dan dhab merupakan dua jenis hewan yang berbeda sehingga status hukumnya pun tidak sama.
Kesalahpahaman ini kerap muncul karena sebagian orang menganggap biawak adalah dhab yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW sebagai hewan yang halal dikonsumsi.
Padahal, para ulama menjelaskan bahwa keduanya memiliki karakteristik dan habitat yang berbeda.
Baca juga: LPPOM: Kolesom yang Viral Termasuk Khamr dan Haram, Alkohol Capai 19,7 Persen
Hewan dhab merupakan salah satu jenis kadal gurun yang dagingnya halal dikonsumsi oleh umat Islam. Imam al-Qulyubi menjelaskan karakteristik dhab sebagai berikut:
(قَوْلُهُ وَضَبٌّ) وَهُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيْشُ نَحْوَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لاَ يَشْرَبُ الْمَاءَ. وَأَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا مَرَّةً وَأَنَّهُ لِلأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ.
Artinya: “Binatang dhab adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Sebagian dari spesifikasi binatang ini adalah tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Hewan dhab yang betina mempunyai dua alat kelamin, dan yang jantan pun mempunyai dua alat kelamin” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Juz IV, Hal. 259).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dhab memang memiliki kemiripan bentuk dengan biawak, tetapi keduanya bukan hewan yang sama. Dhab berukuran lebih kecil dan lebih tepat diterjemahkan sebagai kadal gurun.
Selain itu, dhab hidup di kawasan padang pasir dengan makanan utama berupa rerumputan dan belalang. Karena tidak termasuk hewan buas, dhab dinyatakan halal untuk dikonsumsi sebagaimana ditegaskan dalam sejumlah hadis.
Berbeda dengan dhab, biawak dinilai sebagai hewan yang haram dikonsumsi. Penegasan tersebut dijelaskan dalam kitab Bulghah at-Thullab sebagai berikut:
الحَيَوَانُ المَعْرُوْفُ عِنْدَنَا المُسَمَّى بِنْيَاوَاكْ سَلِيْرَا لَيْسَ هُوَ الضَّبُّ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ
Artinya: “Hewan yang dikenal di kalangan (sekitar) kita dengan nama biawak seliro itu sejatinya bukanlah binatang dlabb, maka haram mengonsumsinya” (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, Hal. 357).
Keterangan tersebut menegaskan bahwa biawak bukan termasuk dhab sehingga tidak dapat disamakan status kehalalannya.
Selain bukan termasuk dhab, biawak juga digolongkan sebagai binatang buas yang bertaring. Dalam hadis Nabi SAW disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ [رواه مسلم].
Artinya: Dari Abu Hurairah ra (diriwayatkan), dari Nabi SAW beliau bersabda: Setiap yang bertaring dari binatang buas, maka memakannya adalah haram (HR. Muslim no. 1933).
Berdasarkan penjelasan para ulama dan dalil tersebut, hukum mengonsumsi daging biawak adalah haram.
Meski memiliki kemiripan fisik dengan dhab, biawak merupakan hewan yang berbeda dan termasuk binatang buas sehingga tidak halal untuk dikonsumsi oleh umat Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang