Editor
KOMPAS.com - Shalat Istisqa digelar di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Sabtu (29/8/2026), sebagai ikhtiar masyarakat memohon turunnya hujan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Khatib Shalat Istisqa KH Ahmad Zamroni mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, menghentikan pembakaran lahan, serta memperkuat persatuan dan silaturahmi untuk menghadapi bencana kabut asap.
Baca juga: Pemkot Palembang Gelar Sholat Istisqa di Tengah Kabut Asap dan Ancaman Karhutla
KH Ahmad Zamroni, berharap hujan segera mengguyur Kota Pontianak dan wilayah Kalimantan Barat.
Hujan diharapkan dapat membantu memadamkan titik api sekaligus mengakhiri bencana kabut asap.
Ia menyampaikan harapan tersebut seusai pelaksanaan Shalat Istisqa. Menurutnya, doa bersama menjadi bentuk ikhtiar untuk memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.
“Harapannya api ini padam. Terlebih lagi kegiatan hari ini kita semua berdoa dengan harapan Allah SWT memberikan berkah kepada kita, menurunkan hujan sehingga memadamkan api bencana ini segera,” ujar KH Ahmad Zamroni.
Selain memohon hujan, KH Ahmad Zamroni mengajak masyarakat melakukan introspeksi dan meninggalkan berbagai perbuatan yang dapat memicu bencana, termasuk praktik pembakaran lahan.
Menurutnya, pelaksanaan Shalat Istisqa perlu diikuti dengan perubahan perilaku serta kesungguhan untuk meninggalkan kesalahan yang dapat berdampak pada lingkungan dan masyarakat.
“Ini harus diikuti dengan kesungguhan niat untuk menghentikan semua perbuatan dosa dan kesalahan kita, termasuk membakar lahan"
"Itu juga bagian dari perbuatan yang mengakibatkan munculnya bencana ini,” katanya.
KH Ahmad Zamroni juga mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, bersalawat, dan melaksanakan shalat tobat sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Terus taubat kepada Allah kita lakukan. Istighfar, istighfar, istighfar. Dan satu hal yang penting, hentikan segala bentuk kesalahan. Ayo kita berhenti melakukan kesalahan dan jangan diulang lagi. Salah satunya adalah membakar lahan,” tegasnya.
KH Ahmad Zamroni menilai Shalat Istisqa tidak hanya menjadi sarana untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga dapat menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan silaturahmi masyarakat.
Menurutnya, berkumpulnya masyarakat dalam kegiatan tersebut membuka ruang komunikasi sekaligus mempererat hubungan antarsesama. Kebersamaan dan hubungan baik itu dinilai menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan rahmat Allah SWT.
“Ada kebersamaan, ada persatuan. Ada silaturahmi terjadi di tempat ini, ada komunikasi terjadi di tempat ini. Itu juga pintu-pintu mendatangkan rahmat. Silaturahmi, hubungan baik sesama itu yang mesti terus kita jaga,” pungkasnya.
Pelaksanaan Shalat Istisqa dilakukan Masjid Raya Mujahidin merupakan salah satu masjid terbesar di Kalimantan Barat dan berada di Jalan Ayani, Pontianak.
Masjid tersebut berjarak sekitar 15 kilometer dari Bandara Supadio dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Sementara jarak dari Masjid Raya Mujahidin menuju Terminal ALBN Ambawang sekitar 12,1 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 24 menit.
Shalat Istisqa menjadi bentuk ikhtiar bersama masyarakat untuk memohon hujan di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul "Salat Istisqa di Pontianak, Warga Berdoa Hujan Segera Turun Padamkan Karhutla".
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT