Editor
KOMPAS.com - Pameran Kaligrafi Internasional 2026 yang digelar di Mal Ciputra Semarang menampilkan 250 karya dari seniman asal 50 negara.
Pameran ini menjadi salah satu event pendukung rangkaian Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 yang berlangsung di Semarang hingga 19 September 2026.
Baca juga: Mulai 2027, MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, STQ Ditiadakan
Ketua Panitia Pameran Kaligrafi Internasional 2026, Sukri Karjono mengatakan bahwa karya yang ditampilkan telah melalui proses seleksi dari sekitar 300 hingga 400 karya yang masuk.
"Dalam pameran ini ada 50 negara dengan 250 karya," sebut Sukri.
Menurut Sukri, proses kurasi dan seleksi berlangsung selama sekitar dua bulan. Proses tersebut dilakukan oleh dua kurator yang berasal dari India dan Indonesia sebelum karya-karya dipamerkan kepada publik.
Baca juga: Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
"Dari 300 sampai 400-an, 250 yang terseleksi," sebutnya.
Selain seniman dari berbagai negara, pameran ini juga melibatkan peserta dari sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Di antaranya peserta dari UIN di Semarang serta seniman yang berasal dari Kalimantan.
Dari sisi harga, karya yang dipamerkan memiliki nilai yang beragam. Harga karya dimulai dari Rp1 juta hingga mencapai Rp100 juta.
"Bervariasi, mulai dari 1 juta sampai 100 juta," sebutnya.
Pada hari kedua pameran, Sukri mengatakan karya dengan harga tinggi belum terlihat terjual.
Menurutnya, pameran tersebut tidak hanya berorientasi pada penjualan atau keuntungan secara finansial.
"Kalau yang harga-harga tinggi belum. Kami cari masyarakat untuk senang dengan seni sudah Alhamdulillah. Meskipun dari yang senang itu mungkin enggak sampai 10 persen itu yang mampu," ucapnya.
Sukri menjelaskan, penyelenggaraan Pameran Kaligrafi Internasional 2026 lebih diarahkan untuk memperkenalkan seni kaligrafi sekaligus mendekatkannya kepada masyarakat.
"Artinya kalau kita berniat untuk mencari profit, mencari penghasilan pendapatan dari event semacam ini ya saya kira itu tidak, karena misi besar yang kita bawa itu jauh lebih besar. Kan peluang orang membeli itu kan sedikit sekali, karena kita enggak akan mencari nilai nominal dari situ," terangnya.
Pameran tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah, termasuk dalam hal penyediaan tempat penyelenggaraan.
"Jadi kita cenderung disupport Jakarta Islamic Centre dan Pemerintah Kota Semarang," ujarnya.
Untuk minat dari luar negeri, Sukri menyebut pameran kaligrafi yang sebelumnya digelar secara daring saat pandemi Covid-19 mendapat perhatian cukup besar dari peminat internasional.
Sementara untuk pameran yang digelar secara luring, peminat dari luar negeri masih ada, tetapi jumlahnya belum tercatat secara khusus.
"Kalau di online itu dulu pernah virtual ya. Ketika pandemi kita virtual itu peminat dari luar negeri banyak. Tapi ketika offline semacam ini ya terbatas," imbuhnya.
Salah satu peserta Pameran Kaligrafi Internasional 2026 adalah seniman asal Driyorejo, Gresik, Andi, yang menggunakan nama seni Andiy Qutuz.
Andiy menampilkan karya berjudul Doa Rasulullah. Karya tersebut mengangkat pesan tentang pentingnya amanah dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap umat.
Andiy menjelaskan, karya itu terinspirasi dari doa Rasulullah SAW yang berkaitan dengan pemimpin dan tanggung jawabnya terhadap umat.
"Allahumma man waliya min amri ummati syai'an fa syaqqa 'alaihim fasyquq 'alaih," ucapnya membacakan kaligrafi yang dilukiskannya.
"Jadi Rasulullah itu pernah berdoa, 'Ya Allah, siapa saja yang diserahi urusan untuk urusan umat tetapi kemudian penguasa itu mengkhianati umat, maka sengsarakanlah penguasa itu.' Ini satu pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa menjadi pemimpin itu penuh dengan amanah," jelas Andiy.
Menurutnya, pesan dalam karya tersebut semakin relevan karena pameran menjadi bagian dari rangkaian MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 yang membawa semangat membangun masyarakat makmur dan sejahtera.
“Apalagi ini rangkaiannya MTQ. Kemarin kan ada Mars MTQ. 'Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur'. Tentu kita ingin Nusantara, Indonesia nanti menjadi negara yang adidaya, makmur, sejahtera baik bagi muslim maupun non muslim," terangnya.
Karya Doa Rasulullah lahir dari kegelisahan Andiy melihat berbagai persoalan yang terjadi di dunia, khususnya berkaitan dengan pemerintahan dan kepemimpinan.
Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan hadis yang membahas fase-fase pemerintahan.
"Ide ini muncul ketika ya ini carut-marut tentang dunia yang ada saat ini, terutama pemerintahan. Terus terang memang saya mengamati ada hadis Rasulullah SAW, di situ bunyinya salah satunya adalah 'summa takunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah'."
“Sebelumnya itu ada nama namanya 'mulkun adhdhan', terus 'mulkun jabriyatan'. Jadi pemerintahan yang dipenuhi kabut, kemudian pemerintahan yang dipenuhi dengan kediktatoran."
"Nah, kemudian nanti ada 'summa takunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah'. Akan ada negara khilafah yang sesuai dengan khilafah nubuwwah. Cuman kita enggak tahu nanti seperti apa dan di mana itu," lanjutnya.
Andiy membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk menyelesaikan karya Doa Rasulullah. Sebelum dipamerkan, karya tersebut juga harus melewati proses kurasi.
"Karena ini selektif banget. Saya mengirim dua, tertolak satu. Akhirnya yang diterima yang ini," bebernya.
Satu karya lain yang dikirim Andiy tidak lolos kurasi. Karya tersebut mengangkat tema sufistik dengan kaligrafi "Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu", yang bermakna barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.
"Itu yang tertolak ya saya sendiri merasa kurang. Nah, ini baru saya totalitas di sini. akhirnya diterima oleh tim kurator di sini," ucapnya.
Selain karyanya sendiri, Andiy turut mengikutsertakan karya murid yang sekaligus merupakan putrinya. Karya tersebut menampilkan lafaz "La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah" dan dibuat oleh siswa SMA Negeri 1 Driyorejo.
"Jadi total ada dua karya," ucapnya.
Andiy mengaku telah menekuni dunia seni lukis sejak 1998. Pada awalnya, ia lebih banyak membuat lukisan dengan gaya realis sebelum kemudian mengeksplorasi gaya ekspresif, kaligrafi, hingga abstrak.
"Dulu awal-awalnya lukisan realis ya. Tapi karena memang ada ketidakpuasan dengan lukisan realis itu akhirnya lari ke ekspresif kaligrafi abstrak ini," ujarnya.
Keikutsertaan Andiy dalam rangkaian MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 menjadi pengalaman tersendiri. Ia menilai ruang yang diberikan kepada seniman dalam ajang tersebut merupakan langkah positif, terlebih MTQ kali ini berskala internasional.
“Sangat sangat mendukung sekali sih. Jadi saya sangat mendukung secara pribadi, apalagi seniman diberi ruang yang sangat luar biasa di ajang MTQ ini. Terutama ini kan event-nya event internasional," ungkapnya.
Meski mendukung, Andiy berharap penyelenggara dapat menyediakan ruang pamer yang lebih representatif dan terintegrasi dengan pelaksanaan MTQ pada masa mendatang.
"Memang tidak ada gading yang tak retak. Artinya kita butuh ruang yang spesial, tidak di mal, tapi ruangan khusus galeri seni."
"Dan tidak terpisah dari MTQ. Ini kan sepertinya terpisah ini. Itu aja yang disayangkan dari teman-teman seniman," ungkapnya.
Bagi Andiy, melukis kaligrafi bukan sekadar kegiatan artistik. Ia merasakan kepuasan batin ketika menuangkan ayat Alquran maupun pesan-pesan Rasulullah ke dalam sebuah karya seni.
“Kepuasannya itu adalah ada di batin. Karena memang setiap lukisan itu sangat spiritual, apalagi kalau misalnya kaligrafi. Pesan-pesan Rasulullah, ayat-ayat Alquran itu kita ada kelegaan di batin, di hati ya. Itu. Sehingga kita setelah melukis itu rasanya plong gitu, bahagia," ungkapnya.
Namun, proses membuat karya kaligrafi juga memiliki tantangan tersendiri. Menurut Andiy, tantangan terbesar justru muncul sebelum proses melukis dimulai, yakni ketika menentukan ide dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya.
"Tantangannya itu ide. Ide ini mau kita bikin apa, pesan yang kita sampaikan apa, ayat apa, hadis apa, itu yang kemudian kita itu ramainya di pikiran sebelum kita tuangkan di kanvas," imbuhnya.
Andiy berharap semangat yang dibawa dalam MTQ dapat berjalan seiring dengan cita-cita membangun Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Ia juga menegaskan keterbukaannya terhadap berbagai pihak selama tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Karena Nusantara juga bangkit, Majapahit kedua katanya juga ingin bangkit. Nah, itu sungguh sangat suatu kebahagiaan tersendiri apalagi menuju Nusantara ya, Indonesia emas gitu. Kita welcome saja kepada siapa saja asalkan memang untuk memakmurkan rakyat," ungkapnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Kaligrafi 50 Negara Dipamerkan di Semarang, Harga Karya Tembus Rp100 Juta”.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.