Penulis
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَوَعَدَ الْمُتَّقِيْنَ بِالْفَوْزِ وَالنَّجَاةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus jalan menuju kebahagiaan yang abadi di akhirat.
Pada kesempatan Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita merenungkan makna pergantian waktu, khususnya ketika kita memasuki bulan Jumadil Awal. Pergantian bulan dalam kalender Hijriah hendaknya tidak hanya kita pahami sebagai perubahan tanggal, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan amal saleh.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Bulan Jumadil Awal merupakan salah satu bulan dalam kalender Hijriah. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan hidup yang Allah berikan kepada kita semakin berkurang.
Hari demi hari berlalu. Usia bertambah, tetapi jatah kehidupan kita di dunia semakin sedikit. Pertanyaannya, apakah pertambahan usia kita diiringi dengan pertambahan ketakwaan? Apakah semakin banyak waktu yang kita lalui, semakin dekat pula kita kepada Allah SWT?
Baca juga: Khutbah Jumat 23 Oktober: Menjaga Lisan dan Jari dari Ghibah di Era Digital
Jangan sampai kita sibuk menghitung keuntungan dunia, tetapi lupa menghitung bekal akhirat. Jangan sampai kita begitu cermat merencanakan masa depan keluarga, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah, yakni mengevaluasi diri atas segala perbuatan yang telah kita lakukan.
Jumadil Awal hendaknya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: bagaimana kualitas salat kita? Sudahkah kita menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain? Sudahkah kita menunaikan amanah dengan baik? Sudahkah kita memperlakukan pasangan, anak, orang tua, tetangga, dan sesama manusia dengan penuh kasih sayang?
Jika selama ini kita masih sering melalaikan kewajiban, inilah saatnya memperbaiki diri. Jika kita pernah menyakiti orang lain, marilah berusaha meminta maaf. Jika kita pernah mengambil hak orang lain, marilah mengembalikannya. Jika kita masih jauh dari Al-Qur’an, marilah kembali membacanya, memahami kandungannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan menunggu datangnya Ramadan untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu usia tua untuk bertaubat. Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemput.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada tiga hal penting yang patut kita jadikan pegangan dalam mengisi bulan Jumadil Awal.
Ketakwaan tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Ketakwaan harus tercermin dalam perilaku, keputusan, dan cara kita menjalani kehidupan.
Orang yang bertakwa berusaha menjaga salatnya, menjauhi perbuatan haram, mencari rezeki yang halal, serta menunaikan tanggung jawabnya dengan jujur.
Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 102:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Ayat ini mengingatkan kita agar menjaga keimanan sepanjang kehidupan. Kita tidak boleh hanya menjadi orang saleh ketika berada di masjid, tetapi juga harus menjaga kesalehan ketika berada di rumah, tempat kerja, pasar, dan ruang publik.
Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih menipu dalam perdagangan. Jangan sampai kita fasih berbicara tentang agama, tetapi masih merendahkan orang lain. Jangan sampai kita mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, tetapi mengabaikan hak-hak sesama manusia.
Ketakwaan sejati harus tampak dalam seluruh aspek kehidupan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan beragama, terkadang kita bersemangat melakukan ibadah pada waktu tertentu, tetapi semangat itu perlahan memudar. Kita rajin membaca Al-Qur’an selama beberapa hari, kemudian meninggalkannya. Kita bertekad menjaga salat berjamaah, tetapi kembali lalai karena kesibukan dunia.
Padahal, salah satu kunci penting dalam beribadah adalah istikamah, yaitu konsisten dalam menjalankan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan dalam satu waktu, tetapi juga dari ketekunan kita dalam menjaganya.
Membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari dengan rutin lebih baik daripada bersemangat membacanya dalam jumlah banyak, tetapi kemudian meninggalkannya dalam waktu lama.
Bersedekah sedikit tetapi berkelanjutan merupakan kebiasaan yang baik. Menjaga salat tepat waktu, membiasakan zikir, membantu tetangga, dan berkata jujur adalah bentuk amal saleh yang dapat kita pelihara setiap hari.
Karena itu, mari kita jadikan bulan Jumadil Awal sebagai awal penguatan kebiasaan baik. Bukan sekadar membuat janji, melainkan benar-benar melaksanakannya dengan penuh kesungguhan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Tidak semua orang menjalani kehidupan dengan keadaan yang sama. Ada saudara kita yang memperoleh kelapangan rezeki, ada pula yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada yang sehat, ada yang diuji dengan sakit. Ada yang memiliki pekerjaan tetap, ada yang masih berusaha mencari penghidupan.
Dalam keadaan apa pun, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan rasa syukur dan kepedulian.
Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan kalimat alhamdulillah. Syukur juga harus diwujudkan melalui perbuatan.
Jika Allah memberikan kita harta, gunakanlah untuk hal-hal yang bermanfaat dan jangan lupakan hak orang yang membutuhkan. Jika Allah memberikan kesehatan, manfaatkanlah untuk beribadah dan menolong sesama. Jika Allah memberikan ilmu, ajarkanlah kebaikan dan jangan gunakan ilmu untuk menyesatkan orang lain.
Mari kita jadikan Jumadil Awal sebagai momentum memperkuat persaudaraan. Ringankan beban tetangga yang kesulitan, bantu anak yatim, hormati orang tua, jaga hubungan keluarga, dan hindari permusuhan yang tidak perlu.
Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah, tetapi tidak peduli pada tetangga yang kelaparan. Jangan sampai kita bangga dengan banyaknya harta, tetapi lupa bahwa sebagian rezeki dapat menjadi jalan untuk menolong sesama.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perlu kita pahami bahwa tidak ada dalil sahih yang menetapkan amalan khusus dengan pahala tertentu hanya karena bulan Jumadil Awal. Karena itu, kita tidak perlu mengada-adakan ritual khusus yang tidak memiliki landasan syariat.
Namun, memperbanyak ibadah yang memang disyariatkan, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, berpuasa sunah sesuai tuntunan, dan memperbaiki akhlak, tetap merupakan kebaikan yang dapat dilakukan sepanjang tahun, termasuk pada bulan Jumadil Awal.
Dengan demikian, yang terpenting bukanlah menganggap bulan ini memiliki keistimewaan ibadah tertentu tanpa dasar, melainkan memanfaatkan perjalanan waktu sebagai pengingat untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Semoga kita menjadi hamba yang pandai mengambil pelajaran dari pergantian hari dan bulan, mampu memperbaiki kesalahan, serta senantiasa menjaga istikamah hingga akhir hayat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.)
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.
Melalui khutbah Jumat Jumadil Awal ini, marilah kita mengambil tiga pelajaran penting: memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga istikamah dalam amal saleh, serta meningkatkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Jangan biarkan pergantian bulan berlalu tanpa perubahan dalam diri kita. Jika sebelumnya kita lalai, marilah memperbaiki diri. Jika sebelumnya kita kurang bersyukur, marilah belajar menerima dan memanfaatkan nikmat Allah dengan baik. Jika sebelumnya hubungan kita dengan sesama dipenuhi perselisihan, marilah berusaha memperbaikinya.
Semoga bulan Jumadil Awal menjadi momentum untuk menumbuhkan pribadi Muslim yang lebih sabar, jujur, amanah, dan bermanfaat bagi orang lain.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT.
Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: Menjaga Kejujuran di Tengah Godaan Dunia
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kemampuan menjaga kehormatan diri, dan kecukupan.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi pegangan hidup kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kami menjalani kehidupan. Dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kami kembali.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ الْمُسْتَقِيْمِيْنَ.
Ya Allah, berkahilah usia kami, amal perbuatan kami, dan rezeki kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang saleh, ikhlas, dan istikamah dalam menjalankan kebaikan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang saleh.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.