Editor
KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menawarkan pendekatan pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara untuk memperkuat perdamaian dunia.
Kedua gagasan tersebut menekankan penghormatan terhadap perbedaan serta hubungan manusia dengan alam yang dilandasi kepedulian.
Gagasan itu disampaikan Nasaruddin saat menjadi pembicara kunci dalam “Forum 16 – Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi” di Casa Leonori, Assisi, Italia.
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Gagas Gerakan Sepekan Sekali Bersarung
Forum tersebut merupakan bagian dari Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertajuk “Unarmed and Disarming Peace”.
Dalam paparannya, Nasaruddin menyebut Indonesia sebagai salah satu model pengembangan kehidupan beragama yang ramah, progresif, dan inklusif.
Ia menawarkan pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman sebagai bahan pembelajaran untuk membangun harmoni global.
Nasaruddin menjelaskan, pluralisme progresif atau beyond tolerance menempatkan kerukunan lebih dari sekadar kesediaan hidup berdampingan.
Menurut dia, kerukunan tidak semestinya dibangun di atas dominasi mayoritas terhadap minoritas. Perbedaan perlu dihormati secara tulus tanpa memaksakan penyeragaman.
“Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama,” ujar Nasaruddin, dikutip dari laman Kemenag, Rabu (28/10/2026).
Ia menekankan pentingnya menjadikan penghormatan terhadap keberagaman sebagai praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Menag Ajak Tradisikan Bersarung dan Berpeci sebagai Identitas Kebangsaan
Gagasan kedua yang disampaikan Nasaruddin adalah ekoteologi nusantara atau beyond domination.
Menurut dia, krisis iklim juga berkaitan dengan cara manusia memandang alam sebagai objek yang dapat dikuasai dan dieksploitasi.
Melalui perspektif sufistik Islam, ia mengajak masyarakat melihat alam sebagai tajalli atau manifestasi keindahan Tuhan. Pandangan tersebut, menurutnya, perlu diikuti dengan sikap yang mengutamakan kasih sayang dan pemeliharaan lingkungan.
“Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak,” tegasnya.
Nasaruddin yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal mencontohkan pengelolaan masjid tersebut sebagai penerapan kepedulian lingkungan dalam kehidupan beragama.
Ia mengatakan, Masjid Istiqlal telah memperoleh sertifikasi bangunan hijau Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC).
Menurut Nasaruddin, penggunaan panel surya dan pengelolaan air wudu yang efisien menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan sumber daya di masjid tersebut.
“Melalui peremajaan ramah lingkungan yang mencakup penggunaan panel surya pintar serta pengelolaan air wudu yang efisien, Istiqlal berhasil membuktikan penghematan energi sebesar 23 persen dan air hingga 36 persen, menjadikannya teladan nyata bagaimana spiritualitas mampu menjawab tantangan perubahan iklim dunia,” paparnya.
Dalam forum tersebut, Nasaruddin juga mengajak para pemimpin dunia menggunakan bahasa agama dalam diplomasi internasional untuk membantu menyelesaikan krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan.
Ia menilai, pendekatan spiritual dapat membantu meredakan permusuhan serta membuka ruang perjumpaan di tengah konflik.
Pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman, menurut dia, dapat menjadi salah satu rujukan untuk mengembangkan dialog dan kerja sama lintas agama.
Sejumlah peserta forum menanggapi gagasan yang disampaikan Nasaruddin.
Penasihat Khusus Abrahamic Family House di Uni Emirat Arab, David Rosen, menekankan pentingnya mewujudkan dialog dalam aksi persaudaraan di tingkat lokal untuk meredam polarisasi.
Sementara itu, tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai dari Jepang, Megumi Hirota Wada, menyoroti pelestarian bumi sebagai tanggung jawab spiritual bersama.
Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama Takhta Suci, Kardinal George Jacob Koovakad, disebut menilai pengalaman kerukunan Indonesia dan Deklarasi Istiqlal 2024 sebagai contoh dialog yang mendorong tindakan kemanusiaan bersama.
Adapun Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association dari Kamboja, Touch Sarith, menyoroti pentingnya pendekatan yang menolak dominasi mayoritas terhadap minoritas.
Setelah mengikuti forum di Assisi, Nasaruddin dijadwalkan melanjutkan agenda ke Vatikan untuk membahas penguatan kemitraan serta menjajaki kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI).
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.