Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Abu Sufyan bin al-Harits: Dari Musuh Terdekat Menjadi Pembela Setia Nabi

Kompas.com, 3 Januari 2026, 14:14 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Abu Sufyan bin al-Harits tidak sepopuler Abu Sufyan bin Harb. Namun dalam lintasan sejarah Islam, kisahnya justru menyimpan pelajaran yang lebih getir dan mendalam.

Ia bukan musuh jauh yang asing, melainkan kerabat dekat Nabi Muhammad SAW, sepupu sekaligus saudara sesusuan.

Kedekatan itulah yang membuat permusuhannya terasa lebih menyakitkan, dan pertobatannya kelak terasa lebih menggetarkan.

Kerabat yang Berbalik Arah

Dikutip dari buku 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Ra'fat al-Basya, sejak muda, Abu Sufyan bin al-Harits tumbuh bersama Nabi Muhammad. Mereka saling mengenal watak dan karakter masing-masing.

Namun ketika Nabi menerima wahyu dan menyampaikan dakwah Islam, Abu Sufyan memilih jalan yang berseberangan.

Ia menjadi salah satu penentang Islam paling vokal. Bukan dengan pedang, melainkan dengan syair dan propaganda.

Sebagai penyair Quraisy, Abu Sufyan menggunakan kata-kata untuk menyerang Nabi, merendahkan dakwah, dan membangkitkan kebencian.

Dalam masyarakat Arab, syair adalah senjata yang tajam dan Abu Sufyan menggunakannya tanpa ragu.

Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam

Permusuhan yang Panjang dan Personal

Berbeda dengan penentang lain yang didorong kepentingan politik, permusuhan Abu Sufyan bin al-Harits bersifat personal dan emosional.

Ia merasa kehilangan posisi, pengaruh, dan identitas lama. Islam baginya, bukan hanya ajaran baru, tetapi ancaman terhadap dunia yang ia kenal.

Selama hampir dua dekade, ia berdiri di luar barisan Islam. Namanya kerap muncul dalam catatan sejarah sebagai penyair yang paling menyakitkan hati Nabi Muhammad. Luka itu tidak selalu tampak, tetapi nyata.

Titik Balik Menjelang Fathu Makkah

Perubahan tidak datang tiba-tiba. Menjelang Fathu Makkah, Abu Sufyan mulai diliputi kegelisahan.

Ia menyadari bahwa Makkah akan jatuh dan sejarah sedang bergerak ke arah yang tak bisa ia lawan.

Dalam perjalanan penuh ketakutan dan penyesalan, ia mendatangi Nabi Muhammad. Namun Rasulullah menolak menemuinya. Penolakan itu bukan dendam, melainkan cermin luka yang belum sembuh.

Abu Sufyan tidak menyerah. Bersama anaknya, ia menunggu di pinggir jalan, berharap belas kasih.

Hingga akhirnya, melalui perantaraan Ummu Salamah, Nabi luluh. Ia menerima Abu Sufyan, sebuah penerimaan yang lebih berat dari sekadar pengampunan.

Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia

Masuk Islam dan Tobat Total

Ketika Abu Sufyan bin al-Harits memeluk Islam, ia melakukannya dengan tobat total. Ia menyadari besarnya kesalahan masa lalu. Sejak itu, ia memilih hidup dalam diam, rendah hati, dan penuh penyesalan.

Ia menghindari sorotan. Syair yang dulu menjadi alat permusuhan kini berubah menjadi ungkapan iman.

Ia tidak menuntut posisi, tidak meminta penghormatan. Baginya, diterima sebagai Muslim saja sudah cukup.

Membela Nabi di Medan Hunain

Kesungguhan tobat Abu Sufyan terbukti dalam Perang Hunain. Ketika pasukan Muslim porak-poranda oleh serangan mendadak, banyak yang mundur. Namun Abu Sufyan bin al-Harits justru berada di barisan terdepan.

Ia memegang kendali tunggangan Nabi Muhammad, melindungi Rasulullah di tengah kekacauan.

Kerabat yang dulu menyerang dengan kata-kata kini mempertaruhkan nyawa. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu momen paling jujur dari perubahan iman.

Baca juga: Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang Penuh Kesabaran

Akhir Hidup dalam Kerendahan Hati

Abu Sufyan bin al-Harits menjalani sisa hidupnya dalam kesunyian. Ia memperbanyak ibadah dan menjauh dari kemewahan dunia.

Menjelang wafat, ia bahkan menggali kuburnya sendiri sebuah simbol kesiapan dan kerendahan hati.

Ia wafat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Tidak ada sorak, tidak ada pujian berlebihan. Namun kisah hidupnya berbicara lebih keras dari semua itu.

Kisah Abu Sufyan bin al-Harits mengajarkan bahwa musuh paling keras pun bisa berubah dan kedekatan masa lalu tidak menghalangi seseorang untuk tersesat atau kembali.

Dalam sejarah Islam, ia dikenang bukan karena permusuhannya, melainkan karena keberanian untuk bertobat secara utuh, meski harus menelan malu dan menanggalkan masa lalu sepenuhnya

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar