KOMPAS.com - Nama Abu Sufyan bin al-Harits tidak sepopuler Abu Sufyan bin Harb. Namun dalam lintasan sejarah Islam, kisahnya justru menyimpan pelajaran yang lebih getir dan mendalam.
Ia bukan musuh jauh yang asing, melainkan kerabat dekat Nabi Muhammad SAW, sepupu sekaligus saudara sesusuan.
Kedekatan itulah yang membuat permusuhannya terasa lebih menyakitkan, dan pertobatannya kelak terasa lebih menggetarkan.
Dikutip dari buku 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Ra'fat al-Basya, sejak muda, Abu Sufyan bin al-Harits tumbuh bersama Nabi Muhammad. Mereka saling mengenal watak dan karakter masing-masing.
Namun ketika Nabi menerima wahyu dan menyampaikan dakwah Islam, Abu Sufyan memilih jalan yang berseberangan.
Ia menjadi salah satu penentang Islam paling vokal. Bukan dengan pedang, melainkan dengan syair dan propaganda.
Sebagai penyair Quraisy, Abu Sufyan menggunakan kata-kata untuk menyerang Nabi, merendahkan dakwah, dan membangkitkan kebencian.
Dalam masyarakat Arab, syair adalah senjata yang tajam dan Abu Sufyan menggunakannya tanpa ragu.
Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam
Berbeda dengan penentang lain yang didorong kepentingan politik, permusuhan Abu Sufyan bin al-Harits bersifat personal dan emosional.
Ia merasa kehilangan posisi, pengaruh, dan identitas lama. Islam baginya, bukan hanya ajaran baru, tetapi ancaman terhadap dunia yang ia kenal.
Selama hampir dua dekade, ia berdiri di luar barisan Islam. Namanya kerap muncul dalam catatan sejarah sebagai penyair yang paling menyakitkan hati Nabi Muhammad. Luka itu tidak selalu tampak, tetapi nyata.
Perubahan tidak datang tiba-tiba. Menjelang Fathu Makkah, Abu Sufyan mulai diliputi kegelisahan.
Ia menyadari bahwa Makkah akan jatuh dan sejarah sedang bergerak ke arah yang tak bisa ia lawan.
Dalam perjalanan penuh ketakutan dan penyesalan, ia mendatangi Nabi Muhammad. Namun Rasulullah menolak menemuinya. Penolakan itu bukan dendam, melainkan cermin luka yang belum sembuh.
Abu Sufyan tidak menyerah. Bersama anaknya, ia menunggu di pinggir jalan, berharap belas kasih.
Hingga akhirnya, melalui perantaraan Ummu Salamah, Nabi luluh. Ia menerima Abu Sufyan, sebuah penerimaan yang lebih berat dari sekadar pengampunan.
Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia
Ketika Abu Sufyan bin al-Harits memeluk Islam, ia melakukannya dengan tobat total. Ia menyadari besarnya kesalahan masa lalu. Sejak itu, ia memilih hidup dalam diam, rendah hati, dan penuh penyesalan.
Ia menghindari sorotan. Syair yang dulu menjadi alat permusuhan kini berubah menjadi ungkapan iman.
Ia tidak menuntut posisi, tidak meminta penghormatan. Baginya, diterima sebagai Muslim saja sudah cukup.
Kesungguhan tobat Abu Sufyan terbukti dalam Perang Hunain. Ketika pasukan Muslim porak-poranda oleh serangan mendadak, banyak yang mundur. Namun Abu Sufyan bin al-Harits justru berada di barisan terdepan.
Ia memegang kendali tunggangan Nabi Muhammad, melindungi Rasulullah di tengah kekacauan.
Kerabat yang dulu menyerang dengan kata-kata kini mempertaruhkan nyawa. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu momen paling jujur dari perubahan iman.
Baca juga: Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang Penuh Kesabaran
Abu Sufyan bin al-Harits menjalani sisa hidupnya dalam kesunyian. Ia memperbanyak ibadah dan menjauh dari kemewahan dunia.
Menjelang wafat, ia bahkan menggali kuburnya sendiri sebuah simbol kesiapan dan kerendahan hati.
Ia wafat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Tidak ada sorak, tidak ada pujian berlebihan. Namun kisah hidupnya berbicara lebih keras dari semua itu.
Kisah Abu Sufyan bin al-Harits mengajarkan bahwa musuh paling keras pun bisa berubah dan kedekatan masa lalu tidak menghalangi seseorang untuk tersesat atau kembali.
Dalam sejarah Islam, ia dikenang bukan karena permusuhannya, melainkan karena keberanian untuk bertobat secara utuh, meski harus menelan malu dan menanggalkan masa lalu sepenuhnya
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang