Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Usai Wirid, Korban Banjir Bandang Ikrarkan Sumpah Tapanuli

Kompas.com, 9 Januari 2026, 07:00 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Di atas tanah yang masih basah oleh lumpur dan sisa kayu gelondongan, ratusan korban banjir bandang di Desa Kutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru (Mabang), Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengikrarkan Sumpah Tapanuli.

Ikrar sakral itu dilantunkan usai doa bersama dan wirid, tepat di jantung lokasi bencana, Kamis (8/1/2026).

Laki-laki, perempuan, pemuda hingga anak-anak duduk bersila di atas terpal sederhana, berhadapan langsung dengan sungai yang menjadi saksi murka alam.

Dalam suasana khidmat dan penuh haru, mereka menyatukan tekad: menjaga tanah leluhur Tapanuli dari eksploitasi yang telah melahirkan bencana antropogenik.

Baca juga: Wasekjen PBNU Gagas Taman Monumen Bencana Antropogenik di Tapanuli

Doa dan wirid dipimpin dengan penuh kekhusyukan. Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir, termasuk tokoh Tapanuli yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Rahmat Hidayat Pulungan.

Usai doa, Rahmat menyampaikan pesan yang menggugah nurani para korban. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya kuat menghadapi musibah, tetapi juga berani menuntaskan akar persoalan di balik bencana.

“Kita harus kuat, menghadapi bencana dan juga harus berani menyelesaikan akar masalah bencana ini,” tegas Rahmat di hadapan para korban.

Ia menegaskan komitmen tanpa kompromi terhadap segala bentuk eksploitasi yang mengancam keberlanjutan tanah leluhur.

“Tidak ada kompromi terhadap perusakan tanah leluhur. Keberlanjutan Tapanuli harus kita jaga bersama,” tandasnya.

Sebagai bentuk solidaritas, Rahmat menyerahkan bantuan sebesar Rp 50 juta kepada perwakilan korban, Emma Aisyah. Bantuan tersebut disebutnya sebagai amanah dari rakyat Indonesia untuk warga Tapanuli yang terdampak bencana.

Emma menerima bantuan itu dengan linangan air mata. Ia menyampaikan terima kasih seraya berharap tragedi banjir bandang tidak lagi berulang di tanah kelahiran mereka.

Sumpah dari Tanah yang Terluka

Ratusan korban banjir bandang di Desa Kutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru (Mabang), Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengikrarkan Sumpah Tapanuli, Kamis (8/1/2026).KOMPAS.com/ FARID ASSIFA Ratusan korban banjir bandang di Desa Kutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru (Mabang), Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengikrarkan Sumpah Tapanuli, Kamis (8/1/2026).

Puncak acara ditandai dengan seluruh korban berdiri dan mengikrarkan Sumpah Tapanuli dalam dua bahasa: bahasa lokal dan bahasa Indonesia.

Dalam bahasa lokal, mereka bersumpah menjaga tanah leluhur dengan segenap raga dan jiwa, memajukan sumber daya manusia Tapanuli, serta menjaga kekayaan dan keberlanjutan daerah itu untuk generasi mendatang.

Sementara dalam bahasa Indonesia, ikrar itu menggema dengan penuh emosi:

1. Kami bersumpah akan menjaga tanah leluhur kami dengan darah dan air mata.

2. Kami bersumpah akan memajukan sumber daya manusia Tapanuli.

3. Kami bersumpah akan menjaga keberlanjutan Tapanuli untuk generasi yang akan datang.

Sebagai penutup, para korban menyampaikan penghormatan dan rasa terima kasih kepada para pendahulu Tapanuli—tokoh nasional, ulama, pejuang, dan pemikir—yang telah berjasa membesarkan dan menjaga martabat tanah Tapanuli.

Baca juga: PBNU Gelar Doa untuk Negeri Satu NU Satu Bangsa untuk Bantu Penyintas Bencana

Rahmat Pulungan menunjuk mantan Wakil Presiden Adam Malik, Jenderal Ahmad Haris Nasution, pendiri Pesantren Tertua di Sumatera Musthafawiyah Syekh Mustofa Nasution, pendiri HMI Lafran Pane, mantan ketua DPR Akbar Tandjung hingga mantan Menhan Jenderal M Panggabean .

Di tengah duka dan puing bencana, ikrar itu menjadi penanda: Tapanuli tidak sekadar berduka, tetapi bangkit dengan sumpah, ingatan, dan perlawanan terhadap perusakan alam.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar