Editor
KOMPAS.com — Peristiwa Isra Miraj tidak sekadar dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai refleksi mendalam tentang kemanunggalan manusia dengan Sang Pencipta.
Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Isra Miraj adalah dialektika komunikasi spiritual antara makhluk dan Khalik yang hanya bisa dicapai melalui kebeningan hati dan keikhlasan total.
Menurut Dedi, dalam terminologi kehidupan modern, makna Isra Miraj sejatinya identik dengan spiritualitas. Yakni, proses komunikasi batin manusia dengan pemilik dirinya, Allah SWT.
Komunikasi spiritual itu, kata dia, hanya akan tercapai ketika manusia terbebas dari kepentingan-kepentingan personal yang kerap merusak nilai penyerahan diri.
Baca juga: 20 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Makna untuk Status WhatsApp
“Dialektika komunikasi spiritual antara makhluk dengan Khalik akan tercapai manakala manusia terbebas dari kepentingan yang bersifat personal,” ungkap Dedi dalam refleksinya memaknai Isra Miraj, kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2025).
Ia menjelaskan, sebelum Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha, ada fase kebersihan hati yang menjadi syarat utama.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kebersihan hati itu berarti terbebas dari rasa benci dan iri kepada siapa pun, serta melepaskan segala keinginan duniawi, kecuali satu: keinginan untuk mendapatkan cinta Allah.
Bagi Dedi, keinginan-keinginan personal sering kali menjadi penghalang utama dalam perjalanan spiritual manusia.
Keinginan itulah yang perlahan merusak tata nilai penyerahan diri, membuat manusia sulit mencapai kualitas tafakur yang sejati.
Ia menilai, proses tafakur yang mendalam nyaris sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Tafakur sejati justru lahir dalam kesendirian, tanpa ditemani siapa pun. Dalam Islam, bentuk tertinggi dari kesendirian spiritual itu tercermin dalam shalat tahajud.
“Tahajud itu kan kesendirian. Pada saat ada keriuhan, kita justru menghadapi kesunyian,” ujarnya.
Refleksi Isra Miraj itu pula yang, menurut Dedi, seharusnya menjadi pegangan seorang pemimpin.
Dalam pandangannya, pemimpin perlu menyediakan ruang untuk menyendiri, melakukan introspeksi diri, bercermin pada hati dan rasa.
“Seorang pemimpin harus berani mengambil kesendirian. Introspeksi diri, berkaca pada rasa. Di situ kita akan menandang wajah diri kita sendiri,” katanya.
Dedi mengakui, di balik aktivitasnya yang padat dari pagi hingga sore hari, ia justru banyak menghabiskan waktu sendiri di luar jam kegiatan resmi.
Kesendirian itu ia gunakan untuk merenung, mengevaluasi diri, sekaligus menyelaraskan kembali niat dan langkah.
Ia bahkan menyebut aktivitas sederhana seperti membersihkan sungai, menanam pohon, membersihkan tanaman, hingga berjalan sendiri di pematang sawah sebagai bagian dari proses kontemplasi. Kegiatan tersebut sering ia lakukan pada malam hari dengan kesendirian.
Baca juga: Isra Miraj 2026 Hari Ini: Makna, Sejarah, dan Hikmah Peristiwa Agung Nabi Muhammad SAW
Dalam keheningan itulah, ide-ide sering muncul, disertai koreksi batin tentang apa yang masih kurang tepat dan perlu diperbaiki.
“Diam, memperhatikan air, memperhatikan alam. Dari situ selalu muncul ide, lalu mengoreksi diri—oh ini yang kurang tepat,” tuturnya.
Bagi Dedi Mulyadi, Isra Miraj bukan hanya peristiwa sejarah keagamaan, melainkan pengingat abadi bahwa kepemimpinan, seperti halnya spiritualitas, membutuhkan kesunyian, kejujuran batin, dan keberanian untuk berdialog dengan diri sendiri di hadapan Tuhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang