Editor
KOMPAS.com - Di Arab Saudi, unta bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah simbol budaya, penopang ekonomi, sekaligus saksi hidup perjalanan panjang peradaban yang tumbuh dari kerasnya padang pasir.
Bagi pengunjung yang ingin memahami Arab Saudi lebih dalam—melampaui gedung pencakar langit dan proyek-proyek megah—unta menjadi pintu masuk paling autentik untuk mengenal identitas Kerajaan.
Selama berabad-abad, unta berperan penting dalam kelangsungan hidup masyarakat Arab. Di bentang alam yang kering dan ekstrem, unta menjadi alat transportasi utama, sumber pangan, dan mitra setia dalam perjalanan jauh.
Baca juga: Hasil Pemeriksaan Medis Baik, Raja Salman Tinggalkan RS di Riyadh
Menurut Saudi Press Agency (SPA), susu unta sejak lama menjadi makanan pokok masyarakat gurun, baik saat menetap maupun bepergian, karena kandungan gizinya yang tinggi.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahkan mengakui susu unta sebagai pangan sehat yang relevan secara global.
Warisan itu kini berevolusi menjadi industri modern. Merek dairy Sawani & Noug—yang berafiliasi dengan Public Investment Fund—mengolah susu unta menjadi produk kontemporer seperti es krim dan minuman beraroma misk, mengubah sumber bertahan hidup menjadi bagian dari gaya hidup masa kini.
Peran unta juga mendapat pengakuan internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 22 Juni sebagai World Camel Day dan menjadikan 2024 sebagai International Year of Camelids, menyoroti kontribusi unta terhadap ketahanan pangan dan warisan budaya dunia.
Arab Saudi menjadi salah satu negara paling aktif dalam upaya tersebut, menegaskan posisi unta sebagai elemen penting dalam identitas peradaban Kerajaan.
Secara ekonomi, peran unta tetap signifikan. Kementerian Kebudayaan Arab Saudi mencatat populasi unta di Kerajaan mencapai lebih dari 2,1 juta ekor, dengan sekitar 1,8 juta di antaranya dimiliki oleh lebih dari 80 ribu orang.
Sektor unta berkontribusi sekitar 50 miliar riyal Saudi per tahun bagi perekonomian nasional. Di sejumlah lelang bergengsi, khususnya di wilayah Hail, unta ras langka bahkan terjual hingga lebih dari 11 juta riyal Saudi per ekor.
Pemerintah juga telah menginvestasikan lebih dari 1 miliar riyal Saudi untuk riset, pembiakan, dan pengembangan produksi unta—tanda komitmen jangka panjang terhadap sektor ini.
Bagi wisatawan, festival unta menawarkan pengalaman budaya yang mendalam. King Abdulaziz Camel Festival memadukan warisan, kompetisi, dan hiburan dalam skala besar.
Kontes kecantikan unta—resmi dikenal sebagai King Abdulaziz Mazayen al-Ibl Award—menilai unta berdasarkan standar estetika tertentu, sementara ajang balap digelar di lintasan khusus.
Salah satu edisi Crown Prince Camel Festival bahkan tercatat dalam Guinness World Records dengan partisipasi 21.637 ekor unta, mencerminkan besarnya antusiasme masyarakat.
Hingga 2024, Arab Saudi memiliki empat festival unta utama: King Abdulaziz Camel Festival, King Salman Camel Racing Festival, Crown Prince Camel Festival, dan Festival Janadriyah.
Dalam sejarah Islam, unta memiliki makna spiritual yang mendalam. Unta Nabi Muhammad SAW, Al-Qashwa, berhenti di lokasi yang kemudian menjadi Masjid Nabawi di Madinah—menjadikannya bagian dari narasi suci Islam.
Sejarawan mencatat Raja Abdulaziz, pendiri Kerajaan Arab Saudi, memiliki kelompok unta terkenal bernama Al-Raimat, termasuk unta kesayangannya, Al-Duwaila. Para penyair Arab klasik seperti Al-A‘sha juga mengabadikan unta dalam karya sastra mereka.
Julukan “kapal padang pasir” bukan tanpa alasan. Secara historis, unta mampu membawa muatan hingga 400 kilogram di jalur perdagangan kuno, termasuk Jalur Sutra.
Riset ilmiah tentang unta terus berkembang. International Camel Organization yang berbasis di Riyadh fokus pada penelitian genom dan peningkatan kesejahteraan unta.
Sementara itu, otoritas kesehatan hewan Saudi melakukan pemeriksaan ketat di setiap festival untuk mencegah penyakit dan menjaga kesehatan kawanan.
Unta juga dikenal memiliki sistem komunikasi unik melalui suara yang berbeda-beda, mencerminkan kondisi fisik dan psikologisnya. Penelitian modern menunjukkan unta memiliki kecerdasan sosial dan daya ingat yang beragam.
Upaya pelestarian kini tak hanya menjaga populasinya, tetapi juga mempertahankan nilai budaya dan pengetahuan yang melekat pada hewan ini.
Baca juga: 3 Teori Fisika yang Kerap Dikaitkan dengan Peristiwa Isra Miraj
Di Arab Saudi, unta bukan artefak sejarah. Ia adalah bagian dari kehidupan yang terus bergerak—dari lintasan balap, festival budaya, hingga produk susu modern.
Mengalami budaya unta berarti memahami bagaimana masa lalu Arab Saudi terus membentuk identitasnya hari ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang