KOMPAS.com - Telaga al-Kautsar merupakan anugerah istimewa yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam berbagai riwayat sahih, telaga ini menjadi tempat pertemuan Rasulullah dengan umatnya pada Hari Kiamat.
Airnya digambarkan lebih putih dari susu, lebih harum dari minyak misk, dan siapa pun yang meminumnya tidak akan merasakan haus selamanya.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, sebuah kitab hadis populer yang membahas nilai akhlak, ibadah, dan pembinaan spiritual umat, dijelaskan bahwa telaga ini adalah simbol kemuliaan Rasulullah dan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Islam.
Namun, kemuliaan tersebut tidak otomatis diberikan kepada semua orang yang mengaku sebagai umat Nabi.
Baca juga: Kiamat Menurut Islam: Antara Dalil Ilahi dan Prediksi Sains
Peringatan keras tentang kondisi di Telaga al-Kautsar disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Aisyah RA.
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau telah berada lebih dahulu di telaga dan menanti umatnya. Namun, ketika sebagian orang hendak diberi minum, mereka justru dijauhkan.
Rasulullah SAW berseru, “Wahai Tuhanku, mereka adalah umatku.” Namun Allah SWT menjawab bahwa Rasulullah tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat setelah beliau wafat, terutama perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan.
Hadis ini menunjukkan bahwa kedekatan secara simbolik dengan Islam tidak cukup. Konsistensi iman dan kesetiaan pada ajaran Nabi menjadi penentu keselamatan di akhirat.
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pandangan mengenai siapa yang dimaksud sebagai golongan yang dijauhkan dari telaga.
Sebagian ulama menyebut mereka adalah orang-orang munafik dan mereka yang murtad. Secara lahiriah, mereka pernah menampakkan keislaman, tetapi iman tidak benar-benar tertanam dalam hati. Ketika Rasulullah wafat, mereka berpaling dari ajaran Islam.
Pendapat lain menyatakan bahwa yang dimaksud adalah kelompok yang hidup pada masa Nabi, kemudian keluar dari Islam setelah beliau wafat.
Peristiwa kemurtadan massal di awal masa kekhalifahan Abu Bakar menjadi bukti bahwa iman membutuhkan penjagaan yang serius dan berkelanjutan.
Baca juga: Tanda-Tanda Kiamat Kecil dan Besar yang Wajib Diketahui Umat Islam
Sebagian ulama juga memasukkan pelaku maksiat besar dan pembuat bid’ah ke dalam kelompok yang terhalang dari telaga.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa menyimpang dari sunnah Rasulullah dan merusak kemurnian ajaran Islam memiliki konsekuensi berat di akhirat.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa keselamatan umat bergantung pada komitmen mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Nabi.
Penyimpangan akidah dan praktik ibadah yang tidak berdasar dapat menggerus nilai keimanan seseorang, meskipun ia masih mengaku sebagai Muslim.
Meski demikian, Islam tidak menutup pintu harapan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada pula orang-orang beriman yang tertahan sementara di telaga sebagai bentuk penyucian akibat dosa yang pernah dilakukan. Setelah itu, dengan rahmat Allah SWT, mereka tetap berpeluang masuk surga.
Konsep ini menunjukkan keseimbangan antara keadilan dan kasih sayang Allah. Setiap amal akan diperhitungkan, tetapi rahmat-Nya selalu lebih luas bagi hamba yang bertobat dan kembali kepada-Nya.
Baca juga: Hikmah Membaca Surat Al-Waqi’ah: Refleksi Hari Kiamat hingga Keberkahan Rezeki
Kisah tentang Telaga al-Kautsar bukan sekadar gambaran peristiwa akhir zaman, melainkan peringatan moral bagi umat Islam di dunia.
Di tengah arus informasi yang deras dan ragam pemahaman keagamaan yang tidak selalu bersandar pada sumber otoritatif, umat dituntut lebih selektif dan kritis.
Menjaga kemurnian akidah, menghidupkan sunnah Nabi, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi perpecahan dan penyimpangan menjadi bekal utama agar kelak tidak termasuk golongan yang dijauhkan dari Rasulullah.
Kerinduan umat Islam kepada Rasulullah SAW seharusnya tidak berhenti pada ungkapan cinta semata.
Ia harus diwujudkan dalam ketaatan, akhlak mulia, dan kesetiaan pada ajaran Islam. Telaga al-Kautsar menjadi simbol pertemuan yang penuh kemuliaan, sekaligus cermin evaluasi diri.
Harapannya, setiap Muslim dapat menjadi bagian dari umat yang disambut Rasulullah di telaga, meminum air keberkahan, dan melangkah menuju surga dengan iman yang terjaga dan hati yang bersih.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang