KOMPAS.com - Kabar tentang “kiamat yang diprediksi terjadi pada 2026” kembali beredar dan memantik kegelisahan publik.
Narasi tersebut dikaitkan dengan pandangan fisikawan Universitas Illinois, Heinz von Foerster, yang melalui pendekatan matematika memperkirakan kehancuran umat manusia akibat ledakan populasi dan daya rusak yang ditimbulkannya sendiri.
Isu semacam ini bukan kali pertama muncul. Dalam sejarah modern, berbagai prediksi ilmiah tentang akhir dunia kerap mengemuka, lalu memudar seiring waktu.
Namun bagi umat Islam, pertanyaan tentang kiamat tidak sekadar soal kemungkinan, melainkan menyentuh wilayah akidah yang tegas dibatasi oleh wahyu.
Dalam Islam, kiamat adalah peristiwa pasti, tetapi waktunya merupakan rahasia Allah SWT.
Alquran secara eksplisit menegaskan bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya kiamat sepenuhnya berada dalam kekuasaan Tuhan. Allah berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ
Innallāha ‘indahū ‘ilmus-sā‘ah(ti), wa yunazzilul-gaiṡ(a), wa ya‘lamu mā fil-arḥām(i), wa mā tadrī nafsum māżā taksibu gadā(n), wa mā tadrī nafsum bi'ayyi arḍin tamūt(u), innallāha ‘alīmun khabīr(un).
Artinya: "Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti".
Ayat ini menjadi fondasi utama bahwa manusia, secerdas apa pun, tidak diberi akses untuk menentukan waktu kehancuran dunia.
Kiamat bukan sekadar kehancuran fisik alam semesta, tetapi peristiwa kosmik yang menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat, tempat seluruh amal manusia dihisab.
Dalam buku Dahsyatnya Hari Kiamat karya Ibnu Katsir, dibahas secara luas bahwa peristiwa kiamat mencakup kehancuran total yang hanya Allah yang mengetahuinya secara penuh dan rinci.
Baca juga: Tanda-Tanda Kiamat Kecil dan Besar yang Wajib Diketahui Umat Islam
Selain Alquran, hadis Nabi Muhammad SAW juga banyak membahas tentang kiamat, khususnya tanda-tandanya.
Namun menariknya, Rasulullah SAW tidak pernah menyebut tanggal, tahun, atau periode tertentu.
Ketika Malaikat Jibril bertanya tentang kapan kiamat terjadi, Nabi menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa bahkan seorang nabi pun tidak diberi pengetahuan tentang waktunya, apalagi manusia biasa.
Hal ini juga diceritakan oleh Allah dalam Alquran, di antaranya:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
Artinya: (Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya. (QS. Al-Anbiya: 104).
(1) الْقَارِعَةُ
(2) مَا الْقَارِعَةُ ۚ
(3) وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ
(4) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
(5) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
Artinya: "Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan." (QS. Al-Qari'ah: 1-5).
(13) فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ
(14) وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً
(15) فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
Artinya: "Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat." (Al-Haqqah: 13-15).
Dalam khazanah keislaman, ulama membedakan kiamat ke dalam dua pengertian. Pertama, kiamat kecil yang merujuk pada kematian individu.
Setiap manusia yang wafat sejatinya telah memasuki fase akhir kehidupannya.
Kedua, kiamat besar yaitu kehancuran total alam semesta, berakhirnya kehidupan dunia, dan dimulainya alam akhirat. Kiamat besar inilah yang menjadi fokus pembahasan eskatologi Islam.
Baca juga: Apa Itu Dabbah? Hewan yang Muncul sebagai Pertanda Hari Kiamat
Islam mengenal tanda-tanda kiamat kecil dan besar. Tanda kecil antara lain merosotnya moral, maraknya kebohongan, ketidakadilan, dan kerusakan sosial.
Adapun tanda besar mencakup peristiwa luar biasa seperti munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS, dan terbitnya matahari dari barat.
Namun para ulama menegaskan, tanda-tanda ini adalah peringatan moral, bukan alat untuk menetapkan tanggal kiamat. Bahkan ketika tanda besar muncul, tidak ada keterangan pasti berapa lama jeda menuju hari kehancuran total.
Prediksi Heinz von Foerster tentang kehancuran manusia akibat ledakan populasi sejatinya berbicara tentang krisis peradaban, bukan kiamat dalam pengertian Islam.
Dalam pandangan fikih dan teologi Islam, kehancuran sosial, ekologi, atau peradaban manusia tidak otomatis berarti kiamat.
Wahbah al-Zuhayli dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu menegaskan bahwa perkara-perkara gaib, termasuk kiamat, tidak dapat dijangkau oleh akal dan eksperimen ilmiah.
Sains boleh memprediksi risiko kehancuran akibat ulah manusia, tetapi tidak memiliki otoritas menentukan akhir zaman.
Baca juga: Benarkah Salju Turun di Arab Saudi Termasuk Tanda Kiamat? Ini Jawabannya
Alih-alih sibuk menunggu kapan dunia berakhir, Islam justru menekankan kesiapan spiritual dan tanggung jawab moral.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa jika kiamat datang esok hari dan di tangan seseorang ada benih tanaman, maka ia tetap dianjurkan menanamnya.
Pesan ini menegaskan bahwa iman dalam Islam tidak dibangun di atas ketakutan massal, melainkan kesadaran untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Isu viral tentang kiamat 2026 semestinya menjadi pengingat untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Bukan untuk menebar kecemasan, tetapi untuk menumbuhkan kebijaksanaan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang