Penulis
KOMPAS.com - Setiap orang pernah mengalami episode terberat dalam hidup. Hal ini juga dialami Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tahun ke-10 Kenabian. Karena beratnya ujian, tahun tersebut dikenal sebagai tahun kesedihan atau 'amul huzni.
Seberat-beratnya dakwah, Rasulullah SAW masih bisa menjalani dengan tegar karena ada dua pilar yang menyokongnya. Pertama, Sang paman Abu Thalib yang senantiasa membela dan melindunginya. Kedua, Sang istri Khadijah yang setia mendampingi dan memperkuat dakwah Rasulullah SAW belakang.
Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia
Ketika kedua pilar tersebut hilang, yaitu keduanya meninggal dalam waktu berdekatan, maka hal itu menjadi episode terberat dalam kehidupan dan dakwah Rasulullah SAW. Apalagi kaum kafir Quraisy semakin menentang dakwah Rasulullah SAW.
Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad SAW yang merawat Nabi Muhammad SAW sejak usia 8 tahun, tepatnya setelah sang kakek, Abdul Muthalib meninggal. Abu Thalib sangat menyayangi keponakannya tersebut sampai akhir hayatnya.
Meskipun tidak bersedia masuk Islam, Abu Thalib senantiasa melindungi Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah dari serangan-serangan kaum musyrikin Mekkah.
Sayangnya, pada tahun ke-10 Kenabian, Abu Thalib menderita sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Saat sakit, Nabi Muhammad SAW berusaha untuk membujuk pamannya agar bersedia masuk Islam.
Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah
“Wahai pamanku, ucapkan Laa Ilaaha Illallah, kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah,” pinta Nabi Muhammad SAW.
Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpalinya, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?”
Akhirnya Abu Thalib mengatakan, “Saya tetap berada di dalam agama Abdul Muthalib.”
Sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tetap dalam kekafiran.
Ada dua kesedihan Nabi Muhammad SAW dari meninggalnya Abu Thalib. Pertama, Nabi Muhammad SAW kehilangan orang yang selama ini melindungi dakwahnya. Kedua, Abu Thalib tidak bersedia masuk Islam sehingga Nabi Muhammad SAW tidak bisa memberikan syafaat kepadanya.
Di dalam hadits dijelaskan bahwa Abu Thalib adalah orang yang mendapat siksaan paling ringan di neraka. Hal ini berkat jasanya melindungi Nabi Muhammad SAW selama hidup.
Baca juga: Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah
Mengenai ringannya siksaan Abu Thalib ini digambarkan dalam sebuah hadits:
أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُوْ طَالِبٍ. وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ
Artinya: “Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sendal yang denganya otaknya mendidih disebabkan keduanya.“ (H.R. Muslim)
Selang dua bulan setelah wafatnya Abu Thalib, menyusul Ummul Mukminin Khadijah meninggal dunia. Masih dalam tahun ke-10 Kenabian. Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.
Khadijah adalah sosok istri yang sangat luar biasa. Ia senantiasa mendukung, menguatkan, dan mengorbankan segala yang dimiliki untuk mendukung dakwah Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Kisah Salman Al Farisi: Perjalanan Mencari Kebenaran
Sanjungan mengenai Khadijah ini diampaikan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya:
مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ
Artinya: “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (H.R. Ahmad).
Baca juga: Kisah Luqman Al Hakim Bersama Anaknya dan Seekor Keledai
Tahun ke-10 Kenabian yang ditandai dengan meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah ini disebut dengan tahun kesedihan. Dua orang yang sangat berjasa terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW akhirnya meninggal dunia.
Hal ini menjadikan Nabi Muhammad SAW kemudian berusaha untuk berdakwah di luar Mekkah, tepatnya di daerah Thaif. Sayangnya, Dakwah ke Thaif ini juga mengalami penolakan.
Kondisi Nabi Muhammad SAW yang berada dalam kesedihan ini menjadikan Allah SWT memberikan 'hiburan' kepada Nabi Muhammad SAW dengan peristiwa Isra' Mi'raj.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang