KOMPAS.com - Bulan Sya’ban menempati posisi strategis dalam kalender hijriah. Ia hadir di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan, sekaligus menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan fase persiapan dan puncak ibadah umat Islam.
Dalam tradisi keilmuan Islam, Sya’ban bukan sekadar bulan transisi, melainkan waktu yang sarat makna, keberkahan, serta peluang besar untuk memperbaiki kualitas iman.
Para ulama menjelaskan bahwa siapa pun yang membiasakan diri meningkatkan ibadah pada bulan ini akan merasakan dampaknya ketika memasuki Ramadan.
Kebiasaan baik yang ditanam di Sya’ban akan menjadi modal spiritual yang kuat saat memasuki bulan puasa.
Baca juga: Doa Bulan Rajab: Persiapan Spiritual Menuju Ramadhan
Dalam kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dijelaskan bahwa Sya’ban memiliki makna simbolik yang dalam.
Sebagian ulama bahasa menyebut kata “Sya’ban” berasal dari lafaz yang bermakna tampak dan menonjol, karena pada bulan ini mulai terlihat hasil amal saleh yang ditanam pada bulan Rajab dan akan dipanen secara maksimal di bulan Ramadan.
Pendapat lain menyebutkan bahwa istilah Sya’ban berkaitan dengan makna “jalan menuju kebaikan”, yaitu fase perjalanan spiritual seorang mukmin dalam mendekat kepada Allah SWT.
Ada pula tafsiran yang menyebutkan bahwa Sya’ban bermakna “menutup celah”, yaitu simbol perbaikan hati yang retak akibat dosa dan kelalaian.
Menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, kemuliaan suatu waktu sangat dipengaruhi oleh peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.
Prinsip ini sejalan dengan kaidah yang digunakan para ulama bahwa Allah memuliakan waktu tertentu karena di dalamnya terdapat momentum ibadah dan sejarah penting dalam dakwah Islam.
Baca juga: Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Sya’ban menjadi fase ideal untuk memperbanyak taubat dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan pentingnya taubat sebagai pintu ketenangan hati:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wa tuubuu ilallaahi jamii’an ayyuhal mu’minuuna la’allakum tuflihuun.
Artinya: “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa taubat yang dilakukan sebelum datangnya waktu utama ibadah akan mempercepat terbukanya pintu hidayah dan membersihkan hati sehingga lebih siap menerima cahaya Ramadan.
Baca juga: Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa Balighna Ramadhan, Doa dan Maknanya
Salah satu peristiwa monumental yang terjadi pada bulan Sya’ban adalah perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah di Makkah.
Peristiwa ini menjadi simbol kemandirian umat Islam dan peneguhan identitas spiritual. Allah SWT berfirman:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
Qad naraa taqalluba wajhika fis samaa-i falanuwalliyannaka qiblatan tardhaahaa.
Artinya: “Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai.” (QS. Al-Baqarah: 144)
Dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menantikan turunnya wahyu ini sebagai bentuk doa dan kerinduan beliau terhadap kiblat Ka’bah. Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Ini Kalender dan Amalan Utamanya
Keistimewaan lain bulan Sya’ban adalah diangkatnya laporan amal manusia kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam An-Nasa’i dan Ahmad:
“Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, di antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Allah dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.”
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa pengangkatan amal pada Sya’ban bersifat tahunan, berbeda dengan laporan harian dan mingguan.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan memperbanyak puasa sunnah dan amal saleh pada bulan ini.
Sya’ban juga dikenal sebagai bulan shalawat. Hal ini berkaitan dengan turunnya perintah shalawat kepada Rasulullah SAW:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
Innallaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna ‘alan nabiyy.
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Dalam Al-Mawahib al-Ladunniyyah, Imam Al-Qusthalani menjelaskan bahwa sebagian ulama menyebut Sya’ban sebagai bulan memperbanyak shalawat karena ayat ini turun pada periode tersebut.
Shalawat tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW secara spiritual.
Baca juga: Kapan 1 Ramadan 1447 H Versi Muhammadiyah? Resmi Ditetapkan 18 Februari 2026
Sebagian ulama salaf menyebut Sya’ban sebagai bulan Al-Qur’an. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali disebutkan bahwa para tabi’in dan ulama generasi awal memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada bulan ini sebagai persiapan ruhani menuju Ramadan.
Salamah bin Kuhail menyebut Sya’ban sebagai “bulan para pembaca Al-Qur’an”. Bahkan Amr bin Qais al-Mula’i menutup aktivitas perdagangannya demi fokus membaca Al-Qur’an.
Tradisi ini menunjukkan bahwa Sya’ban berfungsi sebagai fase pemanasan spiritual sebelum memasuki bulan turunnya Al-Qur’an.
Bulan Sya’ban bukan sekadar bulan penghubung antara Rajab dan Ramadan, melainkan fase strategis pembentukan kualitas iman.
Di dalamnya terdapat momentum taubat, pelaporan amal, peristiwa sejarah penting, serta anjuran memperbanyak shalawat dan tilawah Al-Qur’an.
Dengan memahami keutamaan dan makna Sya’ban berdasarkan Alquran, hadis, dan penjelasan para ulama, umat Islam dapat memanfaatkan bulan ini sebagai sarana memperkuat kesiapan spiritual menuju Ramadan yang lebih berkualitas dan bermakna.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang