Penulis
KOMPAS.com - Mahram dan muhrim sering dianggap kata yang mempunyai makna yang sama. Padahal dua kata tersebut mempunyai makna yang jauh berbeda.
Dalam konteks bercandaan, ada orang yang mau disentuh kemudian mengatakan "bukan muhrim". Penggunaan kata muhrim dalam konteks tersebut kurang tepat.
Agar tidak keliru dalam menggunakan kata mahram dan muhrim, berikut penjelasan selengkapnya.
Baca juga: Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Mahram adalah kata yang dipakai dalam konteks pernikahan. Pengertian mahram adalah orang yang haram dinikahi secara permanen karena hubungan tertentu, baik hubungan darah, persusuan, maupun pernikahan.
Seorang perempuan boleh menanggalkan hijabnya di hadapan mahram namun tetap dalam batasan yang wajar dan sopan. Boleh juga bepergian bersama dan boleh bersentuhan dalam batas wajar.
Status mahram dalam Islam disampaikan dalam Al Quran surat An Nisa ayat 23:
"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Baca juga: Tata Cara Ihram Lengkap dengan Niat dan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Ada beberapa jenis mahram dikarenakan sebab tertentu, berikut perinciannya:
Inilah golongan yang menjadi mahram karena nasab:
Orang yang menjadi mahram karena adanya hubungan menyusui (radha’ah) adalah ibu susuan dan saudara sesusuan.
Hubungan persusuan menjadi mahram didasarkan pada hadits: “Diharamkan karena persusuan apa yang diharamkan karena nasab.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Daftar Wanita Mahram yang Diharamkan Dinikahi dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan dan Dalilnya
Adanya pernikahan juga memunculkan mahram, diantara mahram yang disebabkan pernikahan adalah:
Muhrim digunakan dalam konteks ibadah haji dan umroh. Muhrim adalah orang yang sedang berada dalam keadaan ihram, baik untuk haji maupun umroh.
Seseorang yang sudah mengenakan pakaian ihram dan berniat melaksanakan haji atau umroh di miqat, ia disebut dengan muhrim.
Seorang muhrim terikat dengan larangan tertentu, seperti memotong rambut dan kuku, menggunakan wangi-wangian, menutup kepala (bagi laki-laki), berburu, dan melakukan hubungan suami istri.
Baca juga: Siapa Saja yang Haram Dinikahi dalam Islam? Ini Penjelasannya
Memahami perbedaan mahram dan muhrim adalah hal penting bagi setiap Muslim.
Mahram berkaitan dengan hubungan keluarga dan hukum pernikahan, sedangkan muhrim berkaitan dengan kondisi ibadah haji dan umrah.
Pemahaman yang benar dalam menggunakan istilah dalam Islam, meskipun tidak mengandung konsekuensi hukum, tetapi menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang agama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang