Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, Kok Dosa Masih Banyak?

Kompas.com, 22 Januari 2026, 11:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, umat Islam kerap mendengar sabda Rasulullah SAW tentang dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dan menjadi rujukan utama dalam pembahasan keutamaan Ramadhan.

Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

"Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (HR Muslim no. 1079).

Namun, realitas sosial menunjukkan paradoks. Di tengah suasana Ramadhan, masih ditemukan praktik kemaksiatan, perilaku konsumtif berlebihan, pertengkaran, hingga pelanggaran moral di ruang digital.

Fenomena ini kemudian melahirkan pertanyaan kritis, jika setan benar-benar dibelenggu, mengapa manusia masih berbuat dosa?

Makna “Setan Dibelenggu” dalam Perspektif Ulama Hadits

Secara bahasa, kata shuffidat berasal dari akar kata shaffada yang berarti mengikat atau membelenggu dengan rantai. Namun, para ulama tidak serta-merta memaknainya secara literal.

Syekh Badruddin Al-‘Aini dalam kitab ‘Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa makna pembelengguan setan dapat dipahami sebagai pembatasan ruang gerak mereka dalam menggoda orang-orang yang menjalankan puasa dengan benar.

Artinya, pengaruh setan menjadi lemah ketika seorang Muslim menjaga puasa secara lahir dan batin.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Al-Halimi yang menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan, setan tidak seleluasa bulan lain karena manusia sibuk beribadah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan menjaga diri dari syahwat.

Dengan demikian, “dibelenggu” bukan berarti setan hilang sepenuhnya, melainkan pengaruhnya dibatasi oleh atmosfer spiritual Ramadhan.

Baca juga: Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya

Setan Tidak Sendiri: Peran Nafsu dan Kebiasaan Buruk

Para ulama juga menegaskan bahwa sumber keburukan manusia tidak hanya berasal dari setan jin.

Dalam kitab Kasyful Musykil min Haditsis Shahihain, Ibnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat faktor internal berupa nafsu, kebiasaan buruk, dan dorongan ego yang tetap aktif meskipun setan dibelenggu.

Nafsu amarah dan syahwat, jika tidak dikendalikan dapat mendorong seseorang pada perbuatan maksiat tanpa harus menunggu godaan eksternal.

Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap terjerumus dalam dosa meskipun berada di bulan Ramadhan.

Selain itu, terdapat pula konsep “setan manusia”, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 112, yaitu orang yang menyebarkan keburukan, provokasi, dan pengaruh negatif dalam lingkungan sosial.

Tafsir Kiasan: Setan Terbelenggu bagi Orang yang Taat

Ulama besar Andalusia, Abu ‘Umar Al-Qurthubi, memberikan pendekatan majazi (kiasan) terhadap hadits ini.

Dalam kitab Al-Istidzkar, ia menjelaskan bahwa pembelengguan setan bermakna perlindungan ilahi bagi orang-orang beriman yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah Ramadhan.

Artinya, Allah memberikan kekuatan spiritual tambahan kepada hamba-Nya yang berpuasa dengan benar sehingga godaan maksiat dapat ditekan. Dengan kata lain, efek “belenggu” setan sangat bergantung pada kualitas ibadah seseorang.

Hal ini sejalan dengan kaidah dalam tasawuf yang dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa puasa sejati bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari dosa.

Baca juga: Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026: Tinggal 28 Hari Lagi, Ini Prediksi Awal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Mengapa Maksiat Tetap Ada di Bulan Ramadhan?

Fenomena maksiat di bulan Ramadhan dapat dipahami dari beberapa aspek. Pertama, tidak semua orang menjalankan puasa dengan kesadaran spiritual.

Puasa yang hanya bersifat ritual formal tanpa pengendalian diri tidak memberikan efek penguatan iman.

Kedua, budaya permisif dan arus digital mempercepat penyebaran konten negatif yang memicu syahwat dan emosi.

Ketiga, lemahnya kontrol diri dan rendahnya literasi keislaman menyebabkan Ramadhan hanya dimaknai sebagai tradisi, bukan momentum transformasi moral.

Dalam konteks ini, Ramadhan sejatinya bukan jaminan otomatis kesalehan, tetapi peluang emas untuk membangun disiplin spiritual.

Ramadhan sebagai Momentum Mengalahkan Musuh Utama

Para ulama sepakat bahwa makna terdalam dari hadits pembelengguan setan adalah dorongan agar umat Islam lebih fokus melawan musuh utama dalam diri, yakni hawa nafsu.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam buku Fiqh Ash-Shiyam menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk karakter takwa, yaitu kemampuan mengendalikan dorongan destruktif dan memperkuat kesadaran moral.

Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya bulan menahan diri dari makan dan minum, melainkan fase latihan spiritual untuk membangun kontrol diri, etika sosial, dan kesalehan pribadi.

Baca juga: Warga Indonesia, Simak Aturan Baru Ramadhan di Arab Saudi

Belenggu Setan dan Tanggung Jawab Manusia

Hadits tentang dibelenggunya setan tidak boleh dipahami sebagai penghapusan tanggung jawab manusia atas perilakunya.

Justru sebaliknya, Ramadhan menghadirkan lingkungan spiritual yang kondusif agar manusia lebih mudah memilih jalan kebaikan.

Ketika maksiat masih terjadi, itu menjadi cermin bahwa tantangan terbesar bukan hanya setan, melainkan nafsu, kebiasaan buruk, dan lemahnya kesadaran iman.

Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya dimaknai sebagai momentum perbaikan diri. Semakin seseorang menjaga adab puasa, memperbanyak ibadah, dan mengendalikan hawa nafsu, semakin nyata pula “belenggu” setan itu bekerja dalam kehidupannya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Tanpa Disadari, 10 Tanda-Tanda Kiamat Kecil Ini Sudah Terjadi
Tanpa Disadari, 10 Tanda-Tanda Kiamat Kecil Ini Sudah Terjadi
Doa dan Niat
Kenapa Nisfu Syaban Istimewa? Ulama Sebut Hari Raya Malaikat
Kenapa Nisfu Syaban Istimewa? Ulama Sebut Hari Raya Malaikat
Doa dan Niat
11 Waktu Mustajab Untuk Berdoa: Saat Doa yang Dilangitkan Mudah Dikabulkan
11 Waktu Mustajab Untuk Berdoa: Saat Doa yang Dilangitkan Mudah Dikabulkan
Doa dan Niat
Bukan Cuma Sya’ban, Ini Waktu-waktu Amal Dilaporkan ke Allah
Bukan Cuma Sya’ban, Ini Waktu-waktu Amal Dilaporkan ke Allah
Doa dan Niat
Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, Kok Dosa Masih Banyak?
Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, Kok Dosa Masih Banyak?
Aktual
Puasa Qadha Ramadhan: Panduan Niat Ganti Puasa dan Dasar Hukumnya Menurut Ulama
Puasa Qadha Ramadhan: Panduan Niat Ganti Puasa dan Dasar Hukumnya Menurut Ulama
Doa dan Niat
Amalan Utama di Bulan Ramadhan Beserta Dalilnya
Amalan Utama di Bulan Ramadhan Beserta Dalilnya
Doa dan Niat
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan Menurut Hisab dan Rukyat
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan Menurut Hisab dan Rukyat
Aktual
Niat Puasa Ramadhan: Wajib Setiap Malam atau Cukup Sekali? Ini Penjelasan Ulama
Niat Puasa Ramadhan: Wajib Setiap Malam atau Cukup Sekali? Ini Penjelasan Ulama
Doa dan Niat
Puasa Syaban dan Rajab: Bacaan Niat, Keutamaannya, serta Bolehkah Digabung dengan Qadha Ramadhan?
Puasa Syaban dan Rajab: Bacaan Niat, Keutamaannya, serta Bolehkah Digabung dengan Qadha Ramadhan?
Doa dan Niat
Berapa Kali Rasulullah Puasa Ramadhan? Ini Jawaban Sejarah Islam
Berapa Kali Rasulullah Puasa Ramadhan? Ini Jawaban Sejarah Islam
Aktual
Muhaimin Dorong Sarjana NU Perkuat Transformasi Pesantren
Muhaimin Dorong Sarjana NU Perkuat Transformasi Pesantren
Aktual
Amalan Hari Jumat untuk Muslimah, Raih Berkah dan Pahala Besar
Amalan Hari Jumat untuk Muslimah, Raih Berkah dan Pahala Besar
Aktual
Puasa Qadha Ramadhan: Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Bolehkah Digabung dengan Puasa Sunnah?
Puasa Qadha Ramadhan: Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Bolehkah Digabung dengan Puasa Sunnah?
Doa dan Niat
Jemaah Haji Dilarang Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina
Jemaah Haji Dilarang Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com