KOMPAS.com - Bulan Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa dan penguatan spiritual umat Islam.
Dalam lintasan sejarah, Ramadhan juga tercatat sebagai bulan yang menyimpan peristiwa-peristiwa monumental yang membentuk arah peradaban Islam.
Dari turunnya wahyu, kemenangan strategis umat Muslim, hingga hadirnya malam penuh rahmat yang nilainya melampaui usia manusia, Ramadhan menjadi momentum transformatif yang terus relevan hingga hari ini.
Para ulama klasik menyebut Ramadhan sebagai syahr at-tarikh al-ruhi, bulan sejarah spiritual. Sebab, di bulan inilah intervensi ilahi berulang kali hadir dalam fase-fase krusial umat Islam.
Berikut tiga peristiwa besar Ramadhan yang menjadi fondasi penting dalam sejarah keislaman.
Baca juga: Kapan Puasa 2026 Tiba? Jadwal Lengkap Ramadhan hingga Idul Adha
Ramadhan memiliki kedudukan istimewa sebagai bulan diturunkannya wahyu. Hal ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an:
Syahru Ramadhânalladzî unzila fîhil Qur’ân hudan lin nâsi wa bayyinâtim minal hudâ wal furqân.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 185)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa bukan hanya Al-Qur’an yang diturunkan di bulan Ramadhan, tetapi juga kitab-kitab samawi sebelumnya.
Disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim, Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an seluruhnya memiliki momentum turunnya pada bulan yang sama.
Kitab Faidhu Al-Qadir Syarah Al-Jami' Ash-Shaghir karya Syekh Muhammad Abdurrauf Al-Manawi menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengalami dua fase penurunan.
Pertama, diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Kedua, diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun sesuai kebutuhan umat.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebut metode bertahap ini sebagai bentuk hikmah ilahi agar umat mampu memahami, menghafal, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an secara gradual.
Turunnya wahyu di bulan Ramadhan memperkuat makna puasa sebagai latihan spiritual untuk membangun kesadaran moral, bukan sekadar menahan lapar dan haus.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Ramadhan? Ini Perkiraannya
Ramadhan juga mencatat peristiwa politik dan militer paling menentukan dalam sejarah awal Islam, yaitu Perang Badar. Pertempuran ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah.
Jumlah pasukan Muslim saat itu hanya sekitar 313 orang, berhadapan dengan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy yang dilengkapi persenjataan lengkap.
Secara logika militer, peluang kemenangan nyaris mustahil. Namun sejarah mencatat hasil sebaliknya.
Allah SWT berfirman:
Wa laqad nasharakumullâhu bi Badrin wa antum adzillah.
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” (QS Ali Imran: 123)
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa Perang Badar bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi menjadi titik balik legitimasi politik umat Islam di Jazirah Arab.
Sejak kemenangan ini, posisi kaum Muslim tidak lagi dipandang sebagai kelompok kecil yang terpinggirkan.
Sejarawan Muslim seperti Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh as-Sirah menekankan bahwa kemenangan Badar menunjukkan kombinasi antara strategi, doa, disiplin, dan keteguhan iman.
Ramadhan dalam konteks ini bukan bulan pasif, melainkan bulan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Baca juga: Ramadhan 2026 Bertepatan Musim Hujan, Begini Cara Tetap Khusyuk Puasa
Puncak kemuliaan Ramadhan terletak pada hadirnya Lailatul Qadar, malam yang nilainya melampaui usia manusia. Allah SWT berfirman:
Lailatul qadri khairum min alfi syahr.
“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)
Dalam tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa nilai “seribu bulan” bukan sekadar hitungan matematis, tetapi simbol kelimpahan pahala dan kualitas spiritual yang tak tertandingi.
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda bahwa siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan penuh pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Kaifa Nata’amal Ma’a menyebut Lailatul Qadar sebagai momentum rekonstruksi spiritual, di mana seorang Muslim diberi kesempatan memulai kembali lembaran hidupnya.
Baca juga: Persiapan Ramadhan dari Rumah hingga Hati, Sudahkah Anda Siap?
Jika ditarik benang merah, ketiga peristiwa besar ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi bulan perubahan peradaban.
Wahyu membangun fondasi nilai, Badar memperkuat posisi umat secara sosial-politik, sementara Lailatul Qadar membentuk kesadaran spiritual individu.
Dalam perspektif sejarah Islam, Ramadhan selalu menjadi titik kebangkitan. Dari generasi sahabat hingga era modern, bulan ini terus menjadi ruang perbaikan diri dan penguatan solidaritas umat.
Tidak berlebihan jika para ulama menyebut Ramadhan sebagai “madrasah tahunan” yang menyiapkan umat menghadapi tantangan zaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang