Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2 Metode Penentuan Awal Puasa Ramadhan di Indonesia: Rukyatul Hilal dan Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Kompas.com, 4 Februari 2026, 14:00 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Penentuan awal puasa Ramadhandi Indonesia dilakukan melalui dua metode utama, yakni rukyatul hilal dan hisab hakiki wujudul hilal.

Kedua metode ini menjadi rujukan umat Islam dalam menentukan kapan mulai berpuasa, berdasarkan dalil Al Quran, hadits, serta praktik keilmuan falak.

Di Indonesia, metode tersebut juga menjadi dasar penetapan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama, maupun organisasi masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah.

Baca juga: Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadhan 2026: Jadwal, Tahapan, dan Kriterianya

Dasar Metode Penentuan Awal Puasa Ramadhan

Penentuan awal Ramadhan ditentukan melalui dua metode yang diakui dalam Islam, yaitu metode rukyatul hilal dan hisab hakiki wujudul hilal dilandasi oleh hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya: "Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa) dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Syaban menjadi 30 hari," (HR Bukhari dan Muslim, hadits no.1776).

Dalam ayat dan hadits tersebut, Allah dan Rasul-Nya mengaitkan kewajiban berpuasa dengan terlihatnya hilal.

Artinya, kewajiban umat Islam untuk berpuasa ditetapkan melalui rukyat hilal atau dengan menyempurnakan bulan Syaban menjadi 30 hari apabila hilal tidak terlihat.

Pemahaman atas kedua metode ini penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan syariat dan mempersiapkan diri dengan baik.

2 Metode Penentuan Awal Puasa Ramadhan

Berikut penjelasan penentuan puasa awal Ramadhan melalui dua metode tersebut, seperti dilansir dari laman BAZNAS

1. Metode Rukyatul Hilal

Rukyat berarti melihat, sedangkan hilal adalah bulan sabit sehingga Rukyatul Hilal adalah penentuan awal puasa Ramadhan dengan metode rukyatul hilal didasarkan pada pengamatan langsung terhadap kemunculan bulan sabit pertama dari permukaan bumi.

Metode ini merupakan cara yang disyariatkan dalam Islam.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: "Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut."

Bulan yang dimaksud adalah hilal, yaitu bulan sabit muda yang sangat tipis pada fase awal bulan baru.

Pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30 bulan berjalan. Apabila hilal terlihat, maka malam tersebut sudah masuk bulan baru.

Namun jika tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Diriwayatkan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

"Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30)." (HR Bukhari dan Muslim).

Secara astronomis, hilal umumnya dapat terlihat apabila posisi bulan berada sekitar dua derajat di atas matahari dengan elongasi yang memadai. Semakin besar jarak elongasi, semakin mudah hilal diamati.

Penggunaan rukyatul hilal sebagai metode penentuan awal bulan Hijriah di Nusantara telah dikenal sejak awal masuknya Islam.

Pada mulanya, pengamatan dilakukan dengan mata telanjang tanpa alat bantu.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, rukyat kini dilakukan dengan berbagai metode observasi.

Rukyatul hilal merupakan observasi terhadap lengkungan bulan sabit paling tipis yang berada rendah di atas ufuk barat setelah matahari terbenam.

Pengamatan dilakukan dengan tiga cara, yaitu menggunakan mata telanjang, mata yang dibantu alat optik seperti teleskop, serta alat optik yang terhubung dengan sensor atau kamera.

Dari metode tersebut, keterlihatan hilal dibagi menjadi kasatmata telanjang, kasatmata teleskop, dan kasat-citra.

Meski menggunakan rukyatul hilal, Nahdlatul Ulama tidak meninggalkan metode hisab.

Hisab digunakan sebagai alat bantu untuk memastikan akurasi pelaksanaan rukyat, karena pengamatan hilal tidak dapat dilakukan tanpa perhitungan falak yang tepat.

2. Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Metode penentuan awal Ramadhan berikutnya adalah hisab hakiki wujudul hilal, yakni penentuan awal bulan melalui perhitungan astronomis.

Metode ini meyakini keberadaan hilal meskipun tidak terlihat secara kasatmata, selama memenuhi kriteria tertentu.

Terdapat tiga syarat dalam metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu telah terjadi ijtimak (konjungsi), ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam piringan atas bulan berada di atas ufuk.

Apabila ketiga kriteria ini terpenuhi, maka telah masuk awal bulan Hijriah.

Namun, apabila menggunakan kriteria ijtimak sebelum gurub (al-ijtima qabla al-gurub), maka tidak lagi mempertimbangkan posisi bulan di atas ufuk saat matahari terbenam.

Jika ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, malam itu dan keesokan harinya sudah dianggap sebagai bulan baru. Sebaliknya, jika ijtimak terjadi setelah matahari terbenam, maka bulan berjalan digenapkan.

Metode hisab hakiki wujudul hilal ini digunakan oleh Muhammadiyah. Kriteria tersebut dipahami berdasarkan Surah Yasin ayat 39-40 yang menjelaskan peredaran bulan dan matahari pada garis edarnya masing-masing.

Atas dasar ayat tersebut, para ulama yang memahami ilmu hisab menyusun pola peredaran bumi, bulan, dan matahari sebagai dasar penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Dalam Pedoman Hisab Muhammadiyah dijelaskan bahwa hisab berasal dari kata al-hisab yang berarti perhitungan, dan dalam fikih digunakan untuk menentukan waktu-waktu ibadah.

Penggunaan hisab juga memiliki dasar dalam Al Quran, antara lain Surat Ar Rahman ayat 5 yang menyebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, serta Surat Yunus ayat 5 yang menegaskan fungsi peredaran bulan untuk mengetahui bilangan waktu dan tahun.

Beberapa hadits Bukhari dan Muslim juga menyebutkan perintah berpuasa dengan melihat hilal serta penjelasan bahwa jumlah hari dalam satu bulan bisa 29 atau 30 hari.

Penggabungan Kedua Metode di Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggabungkan metode rukyatul hilal dan hisab dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Kebijakan ini merujuk pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Dengan penggabungan kedua metode tersebut, penetapan awal puasa Ramadhan diharapkan dapat dilakukan secara ilmiah, syar’i, dan dapat diterima oleh seluruh umat Islam di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
5 Makna Ikhlas dalam Al-Qur'an Sebagai Panduan Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Kehidupan Seorang Muslim
5 Makna Ikhlas dalam Al-Qur'an Sebagai Panduan Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Kehidupan Seorang Muslim
Aktual
8 Nama Surga dalam Islam Menurut Al-Qur'an dan Hadis, Simak Penjelasannya
8 Nama Surga dalam Islam Menurut Al-Qur'an dan Hadis, Simak Penjelasannya
Aktual
Lahaula Wala Quwwata Illa Billah Artinya Apa? Ini Makna, Keutamaan, dan Bacaan Hauqalah
Lahaula Wala Quwwata Illa Billah Artinya Apa? Ini Makna, Keutamaan, dan Bacaan Hauqalah
Doa dan Niat
Inna Ma'al Usri Yusra Artinya Apa? Makna Surat Al-Insyirah Ayat 6
Inna Ma'al Usri Yusra Artinya Apa? Makna Surat Al-Insyirah Ayat 6
Doa dan Niat
Doa Sapu Jagat: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Terbaik Mengamalkannya
Doa Sapu Jagat: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Terbaik Mengamalkannya
Doa dan Niat
Baznas dan Warga Binaan Lapas Bangun Rumah Penggembala Kambing dalam 12 Hari
Baznas dan Warga Binaan Lapas Bangun Rumah Penggembala Kambing dalam 12 Hari
Aktual
Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
UI Bangun Zona Halal di Kampus, Seluruh Tenan Kantin Vokasi Kini Bersertifikat Halal
UI Bangun Zona Halal di Kampus, Seluruh Tenan Kantin Vokasi Kini Bersertifikat Halal
Aktual
Perdebatan Panjang soal Hukum Khitan Perempuan, dari Fikih hingga Isu HAM
Perdebatan Panjang soal Hukum Khitan Perempuan, dari Fikih hingga Isu HAM
Aktual
Enam Faktor Ini Bisa Merusak Nilai Ibadah dalam Bekerja
Enam Faktor Ini Bisa Merusak Nilai Ibadah dalam Bekerja
Aktual
Manfaat Medis Khitan Laki-laki dan Kedudukan Hukumnya dalam Islam
Manfaat Medis Khitan Laki-laki dan Kedudukan Hukumnya dalam Islam
Aktual
Menag Dukung Rumah Ibadah 6 Agama di UI, Kampus Disiapkan Jadi Etalase Kerukunan Indonesia
Menag Dukung Rumah Ibadah 6 Agama di UI, Kampus Disiapkan Jadi Etalase Kerukunan Indonesia
Aktual
PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama dengan Qatar, Buka Peluang untuk Lulusan Kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
PP Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama dengan Qatar, Buka Peluang untuk Lulusan Kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
Aktual
Cara Mengunduh 90 Buku PAI dan Bahasa Arab Gratis untuk Siswa Madrasah
Cara Mengunduh 90 Buku PAI dan Bahasa Arab Gratis untuk Siswa Madrasah
Aktual
Rahasia Fattah Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Kuliah dan Organisasi
Rahasia Fattah Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Kuliah dan Organisasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar