KOMPAS.com - Transformasi digital dalam layanan umrah di Arab Saudi memasuki babak baru.
Jamaah kini tidak lagi hanya mengandalkan dokumen fisik, tetapi sudah terhubung dengan sistem teknologi terpadu sejak berangkat dari negara asal hingga tiba di Masjidil Haram.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Arab Saudi dalam memperkuat pelayanan tamu Allah sekaligus menjawab tantangan lonjakan jumlah jamaah global.
Perubahan ini menandai pergeseran paradigma pelayanan ibadah: dari sistem manual yang rumit menuju ekosistem digital yang terintegrasi, cepat, dan berbasis data.
Baca juga: Kemenhaj Rilis Buku Manasik Haji dan Umrah 2026, Fokus Lansia dan Jamaah Berisiko Tinggi
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menyebutkan bahwa digitalisasi layanan umrah kini mencakup seluruh rantai perjalanan jamaah.
Mengutip laporan Ajel.sa, Program Pengalaman Jamaah (Pilgrim Experience Program) dirancang untuk memastikan setiap tahapan ibadah berlangsung lebih tertib dan efisien.
Mulai dari proses visa elektronik, validasi identitas, pemeriksaan kesehatan, hingga pengaturan akomodasi, semuanya terkoneksi dalam satu sistem pusat.
Jamaah tidak lagi harus membawa tumpukan dokumen fisik, karena data perjalanan tersimpan dalam basis data digital yang dapat diakses petugas secara real-time.
Langkah ini sejalan dengan target Vision 2030 Arab Saudi yang menempatkan sektor haji dan umrah sebagai pilar transformasi pelayanan publik berbasis teknologi.
Baca juga: Alasan Arab Saudi Bekukan 1.800 Travel Umrah hingga Stop Visa Baru
Salah satu pilar utama transformasi ini adalah pengembangan portal Nusuk. Platform ini kini menjadi pusat layanan digital jamaah internasional.
Melalui Nusuk, jamaah dapat mengajukan visa elektronik, memperoleh kartu identitas digital, memesan layanan ibadah, serta mengatur jadwal kunjungan ke area suci.
Aplikasi ini juga terhubung dengan lebih dari 25 lembaga pemerintah dan puluhan mitra layanan swasta.
Dalam laporan resmi Kementerian Haji dan Umrah, Nusuk saat ini tersedia dalam 10 bahasa dan menawarkan lebih dari 120 layanan digital, mulai dari panduan lokasi Masjidil Haram, peta keramaian, hingga notifikasi kepadatan jamaah.
Dalam buku Manajemen Haji dan Umrah karya Prof. Dr. Ali Al-Qaradaghi dijelaskan bahwa integrasi data jamaah merupakan kunci utama dalam menciptakan pelayanan ibadah yang aman dan berkelanjutan.
Sistem digital memungkinkan pengambilan keputusan cepat berbasis informasi aktual di lapangan.
Baca juga: Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd
Salah satu inovasi yang paling dirasakan manfaatnya oleh jamaah adalah program Makkah Route.
Melalui jalur ini, prosedur imigrasi dan pemeriksaan kesehatan dapat diselesaikan langsung di bandara keberangkatan.
Setelah mendarat di Arab Saudi, jamaah tidak lagi harus mengantre panjang di bandara. Mereka langsung diarahkan menuju penginapan di Makkah atau Madinah dengan pendampingan petugas.
Skema ini dinilai memangkas waktu tunggu dan mengurangi kelelahan jamaah, terutama bagi lansia dan jamaah dengan kebutuhan khusus.
Baca juga: Masuk Raudhah Kini Wajib Nusuk, Ini Cara Daftar dan Reservasinya
Setibanya di Tanah Suci, jamaah menerima kartu Haji Pintar berbasis teknologi NFC. Kartu ini menyimpan data identitas digital, jadwal ibadah, lokasi penginapan, nomor bus, hingga catatan medis.
Selain itu, Arab Saudi juga memperkenalkan gelang pintar Nusuk. Perangkat ini mampu memantau detak jantung, kadar oksigen, serta mengirim sinyal darurat jika jamaah membutuhkan bantuan.
Dalam konteks kesehatan jamaah, teknologi ini dinilai sangat penting. Menurut buku Ensiklopedia Fikih Indonesia karya Dr. Ahmad Sarwat, pemantauan kondisi fisik jamaah merupakan bagian dari upaya menjaga jiwa (hifzh an-nafs), salah satu tujuan utama maqashid syariah.
Transformasi digital juga merambah sektor logistik. Melalui sistem e-track, kontrak transportasi, konsumsi, dan penginapan dikelola secara elektronik.
Sistem ini memungkinkan pemerintah memantau pergerakan jamaah, ketersediaan bus, serta kapasitas hotel secara terpusat.
Dengan demikian, potensi keterlambatan layanan atau penumpukan jamaah dapat diantisipasi lebih dini.
Menurut laporan internal Kementerian Haji dan Umrah, e-track membantu meningkatkan transparansi layanan dan menekan praktik penyimpangan dalam pengelolaan akomodasi.
Aplikasi Tawakkalna juga menjadi bagian penting ekosistem digital ibadah. Melalui aplikasi ini, jamaah dapat mengakses izin umrah, status kesehatan, hingga layanan transportasi.
Saudi bahkan mulai mengembangkan asisten virtual berbasis kecerdasan buatan yang dapat membantu jamaah mencari informasi ibadah, jadwal doa, serta petunjuk lokasi.
Dalam buku Ushul Fikih karya Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah, dijelaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pelayanan ibadah tidak bertentangan dengan syariat selama bertujuan menghadirkan kemaslahatan dan kemudahan bagi umat.
Pemerintah Saudi mencatat bahwa inovasi teknologi ini berdampak signifikan terhadap kepuasan jamaah.
Dalam dua tahun terakhir, tingkat kepuasan meningkat dari 74 persen pada 2022 menjadi 81 persen pada 2024.
Lonjakan ini mencerminkan keberhasilan integrasi layanan digital dalam menciptakan pengalaman ibadah yang lebih tertib, aman, dan nyaman.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Wa man yu‘azhzhim sya‘ā’irallāhi fa innahā min taqwāl qulūb
Artinya: “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Ayat ini menjadi landasan spiritual bahwa pelayanan ibadah, termasuk melalui teknologi, merupakan bagian dari upaya memuliakan syiar Islam.
Transformasi digital yang dijalankan Arab Saudi menunjukkan bahwa pelayanan ibadah kini memasuki era baru.
Umrah tidak lagi sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga pengalaman terkelola secara profesional dan berbasis teknologi.
Ke depan, Arab Saudi menargetkan peningkatan jumlah jamaah hingga puluhan juta per tahun. Tanpa sistem digital yang kuat, target tersebut sulit dicapai.
Bagi jamaah, perubahan ini membawa satu pesan penting: persiapan ibadah kini bukan hanya soal niat dan fisik, tetapi juga kesiapan digital.
Dan di balik layar teknologi itu, tujuan utamanya tetap sama, yaitu menghadirkan ibadah yang khusyuk, aman, dan penuh keberkahan bagi setiap tamu Allah yang menapakkan kaki di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang