Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penjelasan Terbaru Muhammadiyah Mengapa Awal Ramadhan Bisa Berbeda

Kompas.com, 16 Februari 2026, 09:18 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Wacana tentang perbedaan awal Ramadhan kembali mengemuka dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (13/02/2026).

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis, peserta menyoroti implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dan potensi perbedaan dengan keputusan pemerintah.

Topik ini menjadi hangat karena menyentuh pertanyaan mendasar umat Islam: mungkinkah awal puasa bisa benar-benar seragam jika pendekatan yang digunakan berbeda?

KHGT: Standar Lebih Ketat dan Bersifat Global

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah meninggalkan metode hisab hakiki wujudul hilal dan beralih ke KHGT yang berbasis kriteria astronomis global.

Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 18 atau 19 Februari 2026? Ini Versi Muhammadiyah, NU, BRIN, dan Pemerintah

Jika sebelumnya wujudul hilal cukup mensyaratkan ijtimak terjadi dan posisi hilal berada di atas ufuk berapa pun derajatnya, KHGT menetapkan standar yang lebih ketat:

  • Tinggi hilal minimal 5 derajat
  • Elongasi minimal 8 derajat
  • Ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC

“Kalau kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, maka dihitung sebagai awal bulan hijriah,” jelasnya.

Pendekatan ini menggunakan prinsip matlak global, berbeda dengan pemerintah yang memakai pendekatan wilayah lokal (wilayatul hukmi).

Perbedaan kerangka inilah yang membuat kemungkinan tidak selalu bertemunya tanggal awal Ramadhan tetap terbuka.

Mengapa Selandia Baru Bisa Jadi Acuan?

Salah satu pertanyaan peserta yang cukup kritis adalah soal penggunaan wilayah seperti Selandia Baru sebagai referensi awal bulan.

Maesyarah menjelaskan bahwa ijtimak memang fenomena global, tetapi KHGT memperhitungkan lokasi pertama munculnya fajar setelah ijtimak.

Dalam kondisi tertentu, wilayah seperti Selandia Baru lebih dulu memasuki waktu fajar sehingga memenuhi syarat kalender global.

Artinya, parameter yang digunakan bukan sekadar posisi hilal di Indonesia, melainkan skala dunia.

Perbedaan Bukan Hal Baru

Muhammadiyah menilai perbedaan dengan pemerintah bukan sesuatu yang baru. Bahkan sebelum KHGT diberlakukan, perbedaan awal Ramadhan atau Idulfitri sudah beberapa kali terjadi.

Menurut Maesyarah, keunggulan metode hisab adalah kepastian jangka panjang. Kalender dapat disusun puluhan tahun ke depan karena berbasis perhitungan astronomi.

“Kalender 1450 Hijriah sudah bisa diakses sekarang karena kita menggunakan hisab,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bahwa praktik rukyat di lapangan terkadang tidak sepenuhnya selaras dengan hasil perhitungan astronomi, sehingga faktor non-teknis bisa ikut memengaruhi keputusan.

Strategi Internasionalisasi KHGT

Sementara itu, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa KHGT bukan sekadar proyek nasional, melainkan agenda global.

Muhammadiyah aktif membangun dialog akademik dan komunikasi dengan pakar dari Malaysia, Mesir, hingga Suriah. Jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri juga dilibatkan untuk sosialisasi.

“Konsep kita global, jadi tidak boleh menjadi katak dalam tempurung,” ujarnya.

Bagi komunitas Muslim minoritas di Eropa dan Amerika, kalender global dinilai memberi manfaat administratif, termasuk kepastian dalam pengajuan cuti kerja untuk hari raya.

Kepastian Ditawarkan, Perbedaan Masih Mungkin

KHGT hadir dengan tawaran kepastian berbasis sains dan sistem global terintegrasi. Namun selama pendekatan lokal dan global masih berjalan berdampingan, perbedaan awal Ramadhan tetap mungkin terjadi.

Baca juga: Muhammadiyah Awal Puasa 18 Februari 2026, Ini Alasan Ilmiahnya dan Potensi Beda dengan Pemerintah

Muhammadiyah memandang fase ini sebagai bagian dari evolusi pemikiran kalender Islam menuju kesatuan umat yang lebih luas.

Di tengah dinamika tersebut, satu hal yang tetap sama: semangat menyambut Ramadhan dengan penuh kebersamaan dan kesiapan spiritual.

Menurut Anda, apakah kalender global bisa menjadi solusi penyatuan awal Ramadhan di masa depan?

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar