
DARI sekian banyak tinjauan para sarjana Islam selama satu setengah milenium, Ramadan telah dibahas dari hampir setiap sudut—mulai dari mistisisme, teologi pahala, sains autofagi, hingga dampak ekonomi pasar kaget.
Namun, ada lapisan yang jarang disentuh: Ramadan sebagai “interupsi sistemik” dalam kehidupan modern. Ia bukan sekadar kalender ibadah, melainkan jeda masif yang membuktikan bahwa manusia masih memiliki tombol kendali atas sistem yang mendiktenya sepanjang tahun.
Selama ini, literatur Ramadan cenderung terbelah antara dua kutub: pahala dan eskatologi di satu sisi, serta manfaat kesehatan di sisi lain. Padahal, ada lapisan ketiga—fenomena sosio-psikologis ketika umat manusia secara kolektif menghentikan “mesin” peradaban industri yang linear dan masuk ke ritme yang lebih organik dan manusiawi.
Baca juga: Cahaya Ramadhan, 30 Ribu Lampu LED Hiasi Jantung Kota London
Bagi para pemikir Tradisionalis seperti Syeikh Abdul Wahid Yahya, Frithjof Schuon, dan Seyyed Hossein Nasr, dunia modern adalah “kerajaan kuantitas” yang kehilangan poros sakralnya.
Ramadan, dalam sudut pandang ini, bukan hanya jeda biologis. Ia adalah rekonsiliasi dengan Yang Transenden di tengah puing-puing desakralisasi dunia.
Manusia modern, kata mereka, hidup dalam “eksil spiritual”—terputus dari akar metafisika dan terjebak dalam rutinitas mekanistik yang profan. Jika dunia modern adalah mesin raksasa yang bergerak linear menuju kelelahan eksistensial, maka Ramadan adalah interupsi vertikal.
Ia bukan sekadar ritus, melainkan momen ketika hegemoni materi runtuh dan manusia kembali kepada fitrah primordialnya.
Transformasi Ramadan dimulai dari skala mikroskopis: tubuh dan otak manusia.
Saat tubuh beralih dari pembakaran glukosa ke keton, fokus mental sering kali menajam. Gangguan internal dari sistem pencernaan mereda, memberi ruang bagi indra luar untuk beresonansi lebih kuat.
Tak heran, suara tilawah di kejauhan atau dentang piring menjelang berbuka terasa lebih emosional. Kita mengalami apa yang bisa disebut sebagai “estetika rasa lapar”—keindahan yang lahir dari kekosongan, bukan konsumsi.
Dalam bahasa Frithjof Schuon, ini adalah “alkimia pengosongan”. Perut yang kosong membuka ruang batin yang lebih luas. Kita tak lagi sekadar melihat dunia, tetapi mulai menyaksikan ayat-ayat yang sebelumnya tertutup oleh kabut konsumerisme.
Efek individual ini kemudian meledak menjadi fenomena urban yang kolosal.
Jika kota dipandang sebagai organisme hidup, Ramadan adalah fase pembalikan metabolisme. Puncak aktivitas berpindah dari jam kantor ke waktu sahur dan menjelang magrib. Kota “bernapas” paling kencang saat dunia seharusnya tidur.
Seyyed Hossein Nasr menyebut kota modern sebagai ruang yang terdesakralisasi. Ramadan melakukan “re-enchantment”—menghidupkan kembali mantra sakral di ruang beton.
Dalam sebulan, kota membuktikan bahwa ia bisa hidup di luar dikte sembilan-ke-lima. Produktivitas ekonomi bukan lagi satu-satunya poros. Ritme ibadah kolektif mengambil alih.
Modernitas memenjarakan manusia dalam waktu linear (chronos)—detik yang harus produktif.
Ramadan memperkenalkan kembali waktu kualitatif (kairos). Satu jam menjelang berbuka terasa lebih berat, lebih lambat, lebih bermakna. Kita dipaksa menunggu. Dan dalam menunggu, ada penyerahan diri.
Jutaan orang bangun, makan, dan berhenti makan pada detik yang sama. Isolasi individu runtuh. Kita bergerak dalam satu napas waktu komunal.
Menunggu berbuka bukan sekadar menunggu makanan, melainkan latihan kesabaran metafisika—antisipasi terhadap “pertemuan” yang lebih besar.
Interupsi Ramadan merambat hingga ruang siber.
Sebelas bulan lain, algoritma media sosial memanen kemarahan. Namun selama Ramadan, terjadi semacam gencatan senjata siber. Pengguna cenderung menghindari debat kusir demi menjaga kualitas ibadah.
Fenomena ini bisa disebut sebagai “halalifikasi digital”—sensor mandiri kolektif tanpa komando pusat. Sebuah upaya merebut kembali kedaulatan jiwa dari penjajahan algoritma.
Dalam perspektif Tradisionalis, ini adalah bentuk eksorsisme kolektif: memutus rantai distraksi dan kembali pada keheningan.
Setiap interupsi yang indah meninggalkan luka saat berakhir.
Literatur sering merayakan Idul Fitri, tetapi jarang membahas kekosongan setelahnya. Ketika struktur sahur-buka, kehangatan tarawih, dan ketajaman sensorik tiba-tiba ditarik kembali, banyak orang mengalami disorientasi emosional.
Post-Ramadan Blues bukan sekadar rindu lapar, melainkan nostalgia akan kondisi jiwa yang lebih sakral dan teratur.
Kembali ke rutinitas “normal” terasa seperti kembali ke mesin tak berjiwa. Melankolia itu adalah pengakuan bahwa jiwa merasa lebih hidup saat dunia diinterupsi oleh ritme ilahiah.
Ramadan adalah pengingat bahwa manusia bukan sekadar unit produksi dan konsumsi.
Kita adalah makhluk sensorik yang butuh keheningan, makhluk sosial yang butuh ritme bersama, dan makhluk spiritual yang butuh jeda dari kebisingan.
Baca juga: Setelah Arab Saudi, Ini Daftar Negara yang Mulai Ramadhan 19 Februari 2026 Selain Indonesia
Dengan kacamata Tradisionalis, Ramadan adalah proyek restorasi kemanusiaan. Upaya tahunan agar manusia tidak berubah menjadi robot organik.
Ia tidak datang untuk sekadar mengubah jadwal, tetapi untuk mengubah siapa yang memegang kendali atas jadwal tersebut: mesin di tangan kita, atau jiwa di dalam diri kita.
Ramadan mengingatkan bahwa di balik kulit modernitas yang serba cepat dan berisik, masih ada pusat yang diam—tempat manusia kembali menjadi hamba yang bergetar hatinya, khusyuk dalam keheningan, dan merdeka dalam pengabdian kepada Sang Khalik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang