
NAHDLATUL Ulama (NU) telah menapakkan kakinya di abad kedua. Sebuah pencapaian sejarah yang luar biasa, di mana fondasi tradisi Aswaja An-Nahdliyah berhasil dirawat melintasi zaman.
Namun, memasuki milenium kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sekadar fisik-kultural, melainkan teknologis-ideologis.
Salah satu tantangan paling mendesak dan krusial bagi NU saat ini adalah kesenjangan digital. Dunia dakwah kini tidak hanya berada di atas mimbar masjid atau surau pesantren.
Kiblat audiens telah beralih ke layar kaca digital: smartphone, media sosial, dan platform konten instan.
Baca juga: Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Tragisnya, dalam kecepatan siber, konten-konten moderat yang mengusung Islam wasathiyah (moderat) seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.
Narasi ekstrem seringkali disajikan dalam kemasan visual yang bombastis dan menarik, menyasar generasi muda yang membutuhkan jawaban agama secara cepat, instan, namun mendalam.
Kebutuhan umat, khususnya Nahdlin akan bimbingan agama yang solutif di era digital ini belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional yang cenderung lambat dan kurang adaptif.
Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang punya akses internet dan siapa yang tidak. Dalam konteks NU, ini adalah gap kemampuan antara narasi moderasi yang berakar pada khazanah kitab kuning dengan kecepatan narasi ekstrimisme di ruang siber.
Jika narasi moderat kalah cepat, maka ruang publik maya akan didominasi oleh pemahaman yang kaku, eksklusif, dan mudah menyalahkan, yang pada akhirnya mengancam keharmonisan beragama.
Solusi ke depan adalah jihad literasi digital. NU perlu membangun ekosistem di mana setiap Nahdliyin adalah agen moderasi.
Jika narasi ekstremisme adalah virus di ruang siber, maka konten moderasi yang estetis dan mendalam adalah vaksinnya.
Penguatan literasi digital bukan lagi sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari "riyadhah" masa kini. Konten-konten kreatif yang menarik harus menjadi garda terdepan untuk merebut kembali narasi yang sempat tercuri.
NU harus membuktikan bahwa bimbingan agama yang mendalam tidak harus kaku, dan yang instan tidak harus dangkal.
Maka NU perlu terus proaktif dan berkelanjutan. Teknologi digital harus dimanfaatkan secara masif untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi dan Aswaja An-Nahdliyah.
Penguatan literasi digital di kalangan nahdliyin tidak bisa ditawar lagi. Lebih jauh, NU harus melahirkan "Ulama Digital".
Sosok tersebut bukan hanya sekadar santri yang mahir bahtsul masail secara tekstual-konvensional, tetapi mereka yang juga cakap dalam bahtsul masa'il kontemporer di dunia maya.
Ulama Digital adalah mereka yang mampu menerjemahkan rumitnya fiqih, ushul fiqih, dan tasawuf ke dalam bahasa konten digital yang ringan, menarik, namun tetap berakar pada sanad keilmuan yang valid.
Abad kedua NU adalah era di mana himmah (semangat) harus bertemu dengan hikmah digital. Keberhasilan NU menjaga umat (Nahdliyin) bergantung pada seberapa proaktif kita menghuni ruang siber.
Saatnya mentransformasi tradisi menjadi konten yang menginspirasi, memastikan bahwa di setiap sudut internet yang bising, suara moderasi yang menyejukkan tetap terdengar nyaring.
Baca juga: PBNU Pulihkan Gus Yahya sebagai Ketua Umum, Tegaskan Islah Tuntas
Sudah saatnnya NU untuk menunjukkan bahwa merawat tradisi (al-muhafazhah 'ala al-qadimi al-shalih) dan mengambil hal baru yang lebih baik (al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah) dapat dilakukan secara simultan melalui layar-layar digital.
Jadi siapapun nakhoda PBNU, melawan narasi ekstrem di ruang siber adalah bentuk jihad modern, di mana konten moderat yang menarik adalah senjatanya. Wallahu'alam bishawab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang