Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Kue Kering Jadul Khas Lebaran, Dari Lidah Kucing hingga Pastel Mini

Kompas.com, 20 Februari 2026, 14:07 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Lebaran selalu identik dengan silaturahmi dan hidangan khas yang tersaji di meja tamu.

Di antara opor, ketupat, dan rendang, ada satu sajian yang hampir tak pernah absen: kue kering jadul.

Deretan toples bening berisi kue klasik seolah menjadi penanda bahwa Hari Raya benar-benar telah tiba.

Dalam buku Pangan Nusantara karya Murdijati Gardjito dijelaskan bahwa tradisi menyajikan kue kering saat Idul Fitri berkembang dari budaya menjamu tamu sebagai bentuk penghormatan.

Kue kering dipilih karena tahan lama, praktis disajikan, dan bisa dibuat jauh hari sebelum Lebaran. Berikut ragam kue kering jadul yang hingga kini tetap dirindukan.

Baca juga: Trend Baju Lebaran 2026, Tampil Elegant dan Effortless Jadi Pilihan

Lidah Kucing, Si Tipis Renyah yang Legendaris

ilustrasi kue lidah kucing.SHUTTERSTOCK/Rizvisual ilustrasi kue lidah kucing.
Kue lidah kucing dikenal dengan bentuknya yang pipih dan memanjang. Teksturnya tipis serta renyah dengan cita rasa manis ringan.

Dalam buku 74 Resep Favorit Kursus NCC karya NCC (Natural Cooking Club), disebutkan bahwa lidah kucing mulai populer pada era kolonial, terinspirasi dari biskuit Belanda bernama “katetong”.

Perpaduan mentega, gula halus, dan putih telur menjadi kunci kerenyahannya. Meski kini hadir dalam berbagai varian rasa seperti cokelat atau keju, versi klasik tetap menjadi primadona karena menghadirkan rasa nostalgia yang kuat.

Baca juga: Rekomendasi Kue Lebaran Antimainstream, Sajian Unik di Hari Fitri

Kembang Goyang, Warisan Tradisi Betawi

Kembang goyangDOK. Kemenparekraf Kembang goyang
Kembang goyang identik dengan bentuknya yang menyerupai bunga dan tekstur renyah. Nama “goyang” berasal dari proses pembuatannya yang menggunakan cetakan khusus yang digoyangkan dalam minyak panas.

Menurut buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita karya JJ Rizal, kembang goyang sudah dikenal sejak abad ke-19 sebagai kudapan perayaan, termasuk Idul Fitri.

Rasanya gurih-manis dan aromanya khas santan membuat kue ini tetap bertahan di tengah gempuran camilan modern.

Kue Jahe, Hangat dan Sarat Makna

Ilustrasi kue kering jahe.Dok. Freepik/azerbaijan_stockers Ilustrasi kue kering jahe.
Kue jahe memiliki aroma rempah yang kuat dan sensasi hangat saat disantap. Jahe dalam tradisi Nusantara kerap digunakan sebagai simbol kehangatan dan kesehatan.

Dalam buku Jejak Rasa Nusantara karya Fadly Rahman dijelaskan bahwa penggunaan jahe dalam kue Lebaran mencerminkan adaptasi bahan lokal dalam tradisi perayaan Islam.

Teksturnya renyah dengan rasa manis pedas yang khas, cocok dinikmati bersama teh hangat saat silaturahmi.

Kue Semprit, Ikon Toples Lebaran

ilustrasi kue semprit untuk lebaranDok.Shutterstock/Ricky_herawan ilustrasi kue semprit untuk lebaran
Bentuknya menyerupai bunga dengan hiasan selai di tengah, menjadikan kue semprit mudah dikenali. Adonan dasar mentega dan tepung menghasilkan tekstur lembut yang lumer di mulut.

Kue ini populer sejak era 1980-an dan sering dibuat bersama keluarga menjelang Lebaran. Proses mencetaknya dengan spuit menjadi bagian dari kenangan masa kecil banyak orang.

Baca juga: Kue Lebaran Khas Betawi, Warisan Rasa yang Menghangatkan Silaturahmi

Kue Sagon, Gurih Kelapa yang Autentik

Ilustrasi kue sagon. SHUTTERSTOCK/DARINOL Ilustrasi kue sagon.
Kue sagon terbuat dari campuran kelapa parut sangrai dan tepung ketan. Rasanya cenderung gurih dengan sentuhan manis ringan.

Dalam buku 280 Resep Kue & Jajanan Khas Indonesia karya Lilly T. Erwin, disebutkan bahwa sagon merupakan kue khas Jawa yang kerap hadir dalam upacara adat maupun perayaan keagamaan. Aromanya yang khas membuatnya tetap bertahan sebagai sajian Lebaran klasik.

Putu Kacang, Khas Bugis yang Lumer

Kue putu kacang (AI) Kue putu kacang
Putu kacang dikenal dengan teksturnya yang rapuh dan rasa kacang tanah yang dominan. Kue ini banyak ditemukan di Sulawesi Selatan dan identik dengan tradisi Bugis.

Bentuknya sederhana, namun cita rasanya kaya. Campuran kacang tanah sangrai, gula, dan sedikit tepung menghasilkan tekstur lembut yang mudah hancur di mulut.

Akar Kelapa, Renyah Berpilin

Ilustrasi akar kelapa keju.DOK.SHUTTERSTOCK/RAHMAH HASTUTI Ilustrasi akar kelapa keju.
Kue akar kelapa memiliki bentuk memanjang dan berpilin seperti akar. Teksturnya keras dan renyah dengan rasa manis gurih.

Kue ini banyak dijumpai di wilayah Betawi dan Jawa Barat. Proses pembuatannya menggunakan cetakan khusus sehingga menghasilkan bentuk unik yang mudah dikenali.

Baca juga: 5 Rekomendasi Kue Lebaran Kekinian yang Lagi Tren

Kue Bangkit Melayu, Simbol Kelembutan

Ilustrasi Kue Bangkit PekanbaruDOK.Tribunnews/SintaAgustia Ilustrasi Kue Bangkit Pekanbaru
Kue bangkit populer di wilayah Sumatera dan Riau. Teksturnya sangat ringan dan mudah hancur ketika digigit.

Menurut literatur kuliner Melayu, nama “bangkit” merujuk pada teksturnya yang mengembang saat dipanggang. Kue ini sering dibuat dengan tepung sagu yang telah disangrai terlebih dahulu.

Teng Teng atau Enting Kacang, Manis Klasik

Ilustrasi enting geti. SHUTTERSTOCK/HASNIA Ilustrasi enting geti.
Meski sering dikategorikan sebagai camilan pasar, teng teng atau enting kacang juga kerap hadir di meja Lebaran. Terbuat dari kacang tanah dan gula karamel, rasanya manis legit dengan tekstur renyah.

Kudapan ini populer di Jawa Tengah dan menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kekayaan rasa.

Pastel Mini, Gurih Menggoda

Kue kering pastel mini(AI) Kue kering pastel mini
Pastel mini berisi abon atau kacang menjadi pilihan gurih di antara dominasi kue manis. Ukurannya kecil dan praktis disantap dalam sekali gigit.

Isian abon ayam atau sapi memberikan rasa gurih yang kontras dengan kue kering lainnya, sehingga sering menjadi favorit tamu.

Nostalgia yang Tak Tergantikan

Kue kering jadul bukan sekadar camilan, tetapi bagian dari memori kolektif keluarga Indonesia.

Setiap toples menyimpan cerita tentang ibu yang sibuk di dapur, anak-anak yang membantu mencetak adonan, hingga tawa saat tamu berdatangan.

Lebaran mungkin terus berubah mengikuti zaman, tetapi kue kering klasik tetap bertahan. Di tengah maraknya dessert modern, rasa autentik dari resep turun-temurun justru menjadi pengingat bahwa tradisi adalah bagian dari identitas.

Dan ketika tangan meraih satu keping lidah kucing atau semprit dari toples, yang terasa bukan hanya manisnya gula, melainkan juga hangatnya kenangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com