KOMPAS.com – Perayaan Idulfitri di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tradisi menyuguhkan kue kering kepada tamu.
Di tengah beragam pilihan kue modern, masyarakat Betawi tetap menjaga keberadaan kue-kue tradisional yang sarat sejarah dan makna budaya.
Bagi warga Betawi, kue kering bukan sekadar camilan. Ia menjadi bagian dari identitas kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Baca juga: BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Mulai 13 Februari, Cek Jadwal dan Cara Pesan di PINTAR
Kehadirannya di ruang tamu saat Lebaran mencerminkan penghormatan kepada tamu sekaligus ungkapan syukur atas datangnya hari kemenangan.
Budayawan Betawi kerap menyebut bahwa ragam kuliner Betawi merupakan hasil pertemuan berbagai budaya, mulai dari Melayu, Arab, hingga Tiongkok.
Hal ini juga tercermin dalam variasi kue kering khasnya.
Berikut sejumlah kue Lebaran khas Betawi yang hingga kini masih setia menghiasi meja tamu.
Ilustrasi biji ketapang renyah tidak keras.Kue ini umumnya dibuat dari campuran tepung terigu, santan kelapa, gula, dan telur yang kemudian digoreng hingga kering.
Nama “biji ketapang” merujuk pada bentuknya yang menyerupai biji pohon ketapang. Pada masa lalu, pohon ketapang banyak tumbuh di kawasan Jakarta, sehingga penamaan ini terasa dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Aroma santan yang khas menjadi ciri kuat biji ketapang. Tak heran jika kue ini hampir selalu hadir dalam toples Lebaran keluarga Betawi.
Baca juga: 10 Kue Lebaran Paling Populer, Ikon Wajib di Meja Tamu
Ilustrasi kue satu kacang hijau. Bahan utamanya adalah tepung kacang hijau yang telah disangrai dan ditumbuk halus, lalu dicampur gula hingga membentuk adonan padat.
Dalam sejumlah literatur kuliner Nusantara, kue satu disebut memiliki akar pengaruh Tiongkok yang kemudian beradaptasi dengan cita rasa lokal.
Kesederhanaan bahan tidak mengurangi nilai historisnya. Justru, teknik pembuatannya yang masih tradisional membuat kue satu memiliki daya tarik tersendiri di tengah gempuran kue modern.
Baca juga: Libur Lebaran 2026: Jadwal Resmi Cuti Bersama, Libur Sekolah, dan Kalender Pendidikan
Kembang goyangTeksturnya tipis dan renyah, dengan rasa manis yang ringan. Taburan wijen sering ditambahkan untuk memperkaya aroma dan cita rasa.
Kembang goyang tidak hanya populer saat Lebaran, tetapi juga kerap hadir dalam berbagai hajatan Betawi. Keberadaannya menegaskan kuatnya tradisi gotong royong dalam setiap perayaan masyarakat.
Baca juga: Kue Lebaran 2026 Apa Saja? Ini Daftar Suguhan Wajib dan Ide Unik yang Lagi Tren
Ilustrasi kue akar kelapa khas Betawi.Rasanya cenderung gurih dengan sentuhan manis yang tidak berlebihan. Teksturnya renyah dan cukup padat, sehingga cocok dijadikan teman minum teh saat menerima tamu.
Nama dan bentuknya mencerminkan kedekatan masyarakat Betawi dengan unsur alam. Kelapa sendiri merupakan bahan pangan penting dalam banyak kuliner tradisional Indonesia.
Ilustrasi kue sagon. Meski diyakini berasal dari Pulau Jawa, sagon telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner Betawi.
Rasa kelapa yang dominan berpadu dengan aroma panggangan menciptakan sensasi khas yang sulit dilupakan.
Kelapa dalam kajian pangan tradisional disebut sebagai bahan serbaguna yang kaya lemak nabati dan kerap digunakan dalam berbagai sajian Nusantara.
Baca juga: 5 Rekomendasi Kue Lebaran Kekinian yang Lagi Tren
Kue kepang khas betawiKue kepang memiliki tampilan menarik karena adonannya dibentuk menyerupai kepangan rambut sebelum dipanggang. Bagian atasnya biasanya diolesi kuning telur agar menghasilkan warna keemasan.
Terbuat dari bahan sederhana seperti tepung terigu, mentega, dan gula, kue ini memiliki rasa manis lembut dengan tekstur renyah di luar dan sedikit empuk di bagian dalam.
Bentuknya yang cantik membuat kue kepang kerap menjadi pilihan untuk memperindah sajian Lebaran.
Keberadaan kue-kue kering khas Betawi menunjukkan bahwa tradisi kuliner lokal tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Menurut sejumlah kajian budaya dari lembaga kebudayaan Betawi, makanan tradisional bukan hanya soal rasa, melainkan juga simbol identitas dan kesinambungan sejarah.
Di hari yang fitri, ketika silaturahmi kembali terjalin, kue-kue ini menjadi medium sederhana untuk berbagi kebahagiaan.
Melestarikan kue Lebaran khas Betawi berarti turut menjaga warisan budaya yang telah hidup bersama masyarakat selama puluhan tahun.
Di tengah ragam kue modern, sajian tradisional ini tetap memiliki tempat istimewa, menghadirkan rasa yang akrab sekaligus mengingatkan pada akar budaya yang tak lekang oleh waktu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang