KOMPAS.com – Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga terbenam matahari.
Ibadah ini adalah latihan spiritual untuk membentuk ketakwaan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Jakarta Hari Ini, 21 Februari 2026
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit umat Islam yang tanpa sadar melakukan kekeliruan saat berpuasa.
Puasa menjadi sekadar rutinitas fisik, sementara nilai spiritualnya justru terabaikan. Lalu, apa saja kesalahan puasa yang sering terjadi dan perlu dihindari agar pahala tetap maksimal?
Setelah seharian menahan lapar, sebagian orang melampiaskan rasa haus dan lapar dengan makan berlebihan saat berbuka. Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang pentingnya menjaga porsi makan.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Miqdam bin Ma’d, Nabi SAW bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ ... فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh anak Adam selain perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR At-Tirmidzi)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu rahasia puasa adalah melemahkan syahwat, bukan justru menguatkannya kembali saat berbuka.
Baca juga: Apa Manfaat Puasa di Bulan Ramadhan? Ini Penjelasan Haditsnya
Sebagian orang sengaja tidak sahur karena merasa cukup kuat berpuasa. Padahal, sahur memiliki nilai keberkahan.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR Bukhari)
Dalam Fiqhul Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa sahur adalah sunnah muakkadah yang membedakan puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab. Melewatkan sahur berarti mengabaikan peluang meraih keberkahan.
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan dan sikap. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ ... إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mengajaknya bertengkar, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR Muslim)
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif menegaskan bahwa puasa sejati adalah puasa anggota badan dari maksiat. Tanpa menjaga akhlak, puasa hanya menjadi lapar dan haus semata.
Baca juga: Bagaimana Hukum Sengaja Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Ulama
Ramadhan sering kali diisi dengan ibadah tambahan seperti Tarawih dan tadarus. Namun, ada yang justru lalai terhadap kewajiban utama seperti shalat lima waktu tepat waktu atau tanggung jawab pekerjaan.
Dalam Ushul Fiqh: Kajian Hukum Islam karya Iwan Hermawan dijelaskan bahwa kewajiban tidak bisa digugurkan oleh ibadah sunnah. Artinya, semangat Ramadhan tidak boleh menjadi alasan mengabaikan tanggung jawab dasar.
Rasa lelah saat puasa memang wajar. Namun menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidur sepanjang hari justru mengurangi nilai ibadah.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa Ramadhan adalah musim kebaikan.
Mengisinya dengan kemalasan berarti menyia-nyiakan kesempatan emas yang hanya datang setahun sekali.
Media sosial, tontonan daring, dan hiburan digital kerap menjadi pelarian untuk mengalihkan rasa lapar. Tanpa disadari, waktu berharga habis untuk scrolling tanpa arah.
Padahal Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Syahru Ramaḍānal-lażī unzila fīhil-Qur’ān
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
Momentum ini seharusnya diisi dengan tadarus, dzikir, dan amal saleh, bukan distraksi berlebihan.
Baca juga: Apa Saja yang Makruh Saat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasan Ulama
Puasa melatih kesabaran. Namun dalam praktiknya, sebagian orang justru mudah tersulut emosi karena merasa lapar dan lelah.
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa menjaga diri dari amarah termasuk kesempurnaan puasa. Emosi yang tidak terkendali dapat mengurangi pahala, meski tidak membatalkan puasa.
Kesalahan-kesalahan tersebut tidak selalu membatalkan puasa secara fikih. Namun secara spiritual, hal-hal itu dapat mengurangi nilai dan pahala ibadah.
Puasa yang ideal bukan hanya sah menurut hukum, tetapi juga membawa perubahan karakter dan kedekatan kepada Allah SWT. Ramadhan adalah madrasah ruhani, tempat melatih disiplin, empati, dan pengendalian diri.
Menahan lapar dan haus hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga hati, lisan, waktu, dan perilaku agar tetap berada dalam koridor takwa.
Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum ini, umat Islam dapat menjalani Ramadhan secara lebih sadar dan bermakna, sehingga puasa tidak berhenti pada fisik, tetapi benar-benar menjadi jalan menuju ketakwaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang