Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Ngabuburit? Asal Usul dan Sejarahnya di Bulan Ramadhan

Kompas.com, 20 Februari 2026, 12:37 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap Ramadhan tiba, satu istilah selalu kembali terdengar di berbagai sudut kota: ngabuburit.

Dari Bandung hingga Jakarta, dari kota kecil sampai media sosial, kata ini seolah menjadi simbol khas menjelang azan Maghrib.

Namun, apa sebenarnya arti ngabuburit? Dari mana asal katanya? Dan bagaimana sejarahnya hingga menjadi istilah nasional?

Di balik kesan santai berjalan sore atau berburu takjil, ngabuburit menyimpan jejak bahasa, sejarah sosial, hingga nilai-nilai religius yang berakar kuat di tanah Sunda.

Baca juga: Jangan Salah, Ini Perkara yang Membatalkan Puasa Ramadhan

Apa Itu Ngabuburit?

Secara umum, ngabuburit adalah aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

Dalam praktiknya, kegiatan ini bisa berupa berjalan santai, berkumpul bersama teman, mengikuti kajian, hingga berburu makanan takjil.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu waktu berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Namun secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Sunda.

Menurut penjelasan dalam Kamus Umum Basa Sunda, kata “burit” berarti sore atau petang. Sementara dalam tradisi lisan masyarakat Sunda dikenal frasa “ngalantung ngadagoan burit” yang bermakna berjalan santai sambil menunggu waktu sore. Seiring waktu, ungkapan panjang tersebut mengalami pemendekan menjadi “ngabuburit”.

Dengan demikian, ngabuburit bukanlah singkatan, melainkan bentuk adaptasi linguistik dari bahasa Sunda yang kemudian populer secara nasional.

Baca juga: Apa Manfaat Puasa di Bulan Ramadhan? Ini Penjelasan Haditsnya

Jejak Sejarah Ngabuburit di Tanah Sunda

Sejumlah kajian budaya menyebutkan bahwa tradisi ngabuburit berkembang seiring masuknya Islam ke wilayah Sunda.

Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra dijelaskan bahwa proses islamisasi di Nusantara berlangsung melalui pendekatan budaya, termasuk melalui kebiasaan sosial masyarakat setempat.

Menjelang waktu Maghrib, masyarakat Sunda yang telah memeluk Islam mengisi waktu dengan kegiatan bernuansa religius.

Anak-anak belajar membaca Al Quran di surau, orang dewasa mengikuti pengajian, sementara sebagian lainnya berdzikir atau berdiskusi tentang agama.

Tradisi ini sejalan dengan anjuran untuk memanfaatkan waktu secara produktif. Allah SWT berfirman:

Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr.

Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini kerap ditafsirkan sebagai pengingat agar manusia tidak menyia-nyiakan waktu, termasuk waktu menjelang berbuka puasa.

Pada masa lampau, ngabuburit juga diwarnai permainan tradisional seperti bebeledugan (meriam bambu).

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa ngabuburit sejak awal memiliki dimensi sosial, bukan hanya ritual keagamaan.

Transformasi di Era Modern

Memasuki era perkotaan dan modernisasi, bentuk ngabuburit mengalami perubahan signifikan.

Jika dahulu terpusat di masjid dan ruang ibadah, kini aktivitasnya meluas ke taman kota, pusat kuliner, hingga pusat perbelanjaan.

Fenomena ini sejalan dengan perubahan pola hidup urban. Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi disebutkan bahwa esensi ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga membentuk kesadaran spiritual dan sosial.

Karena itu, ngabuburit dalam konteks modern idealnya tetap diarahkan pada aktivitas yang membawa nilai positif, seperti kajian Ramadhan, berbagi takjil, membaca Al Quran, atau kegiatan sosial lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:

La yazalun naasu bikhairin maa ‘ajjalul fithr.

Artinya: "Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan pentingnya momentum menjelang Maghrib sebagai bagian dari sunnah, sehingga waktu tersebut tidak sekadar menjadi waktu menunggu, tetapi waktu yang bermakna.

Baca juga: Bagaimana Hukum Sengaja Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Ulama

Dari Bahasa Lokal Menjadi Istilah Nasional

Menariknya, meski berasal dari bahasa Sunda, istilah ngabuburit kini digunakan secara luas di berbagai daerah Indonesia. Media massa dan perkembangan teknologi komunikasi turut mempercepat penyebarannya.

Dalam kajian sosiolinguistik, fenomena ini disebut sebagai difusi bahasa, ketika istilah lokal diterima secara nasional karena mudah diucapkan dan relevan dengan pengalaman kolektif masyarakat.

Beberapa daerah sebenarnya memiliki istilah sendiri. Dalam bahasa Minang dikenal ungkapan “malengah puaso” yang berarti mengalihkan rasa haus saat berpuasa.

Namun secara nasional, kata ngabuburit lebih populer dan mendominasi pemberitaan maupun percakapan publik.

Hal ini menunjukkan bagaimana budaya lokal mampu bertransformasi menjadi identitas bersama.

Makna Ngabuburit di Tengah Kehidupan Kontemporer

Di tengah hiruk pikuk perkotaan, ngabuburit bukan lagi sekadar tradisi menunggu azan Maghrib. Ia menjadi simbol kebersamaan, ruang interaksi sosial, sekaligus refleksi spiritual.

Dalam buku Adab dalam Islam karya Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada dijelaskan bahwa menjaga akhlak dan etika sosial merupakan bagian penting dari ibadah.

Dengan demikian, ngabuburit yang dilakukan dengan tetap menjaga adab, kebersihan, dan ketertiban juga memiliki nilai moral.

Lebih dari itu, ngabuburit mencerminkan pertemuan antara bahasa, budaya, dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah warisan budaya Sunda yang kini menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia.

Baca juga: BI Bali Gandeng 6 Bank untuk Penukaran Uang Selama Ramadhan 2026, Ini Jadwal dan Lokasinya

Mengisi Ngabuburit dengan Lebih Bermakna

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga melatih kesabaran dan pengendalian diri.

Waktu menjelang Maghrib sering kali menjadi momen paling berat bagi orang yang berpuasa. Di sinilah ngabuburit menemukan maknanya.

Apakah diisi dengan membaca Al Quran, mengikuti kajian, berbagi takjil, atau sekadar berjalan santai sambil merenung, yang terpenting adalah menjadikan waktu tersebut sebagai bagian dari ibadah.

Ngabuburit mengajarkan bahwa menunggu pun bisa menjadi aktivitas bermakna. Dari tanah Sunda, istilah ini tumbuh dan berkembang, menjadi bagian dari narasi Ramadhan di Indonesia.

Dan ketika azan Maghrib akhirnya berkumandang, ngabuburit bukan hanya selesai sebagai kegiatan sore hari, melainkan sebagai perjalanan kecil yang mempertemukan tradisi, bahasa, dan iman dalam satu waktu yang sama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bacaan Doa untuk Indonesia agar Tetap Aman dan Makmur
Bacaan Doa untuk Indonesia agar Tetap Aman dan Makmur
Doa dan Niat
MTsN Bogor Rehabilitasi Ruang Rp 5,5 Miliar dari Program Presiden
MTsN Bogor Rehabilitasi Ruang Rp 5,5 Miliar dari Program Presiden
Aktual
MUI Indramayu Telaah Dugaan Aliran Sesat 'Islam 4S' di Kroya
MUI Indramayu Telaah Dugaan Aliran Sesat "Islam 4S" di Kroya
Aktual
Menambah Bacaan Doa di Sujud Terakhir Shalat, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Menurut Al-Qur'an dan Hadits
Menambah Bacaan Doa di Sujud Terakhir Shalat, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Menurut Al-Qur'an dan Hadits
Aktual
Daftar Puasa yang Diharamkan untuk Dilakukan dalam Islam, Apa Saja?
Daftar Puasa yang Diharamkan untuk Dilakukan dalam Islam, Apa Saja?
Aktual
Orang Tua Terlambat Akikahi Anak, Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasan Ulama
Orang Tua Terlambat Akikahi Anak, Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Hukum Azan di Telinga Bayi Baru Lahir dalam Islam, Apakah Disunnahkan? Simak Penjelasan Ulama
Hukum Azan di Telinga Bayi Baru Lahir dalam Islam, Apakah Disunnahkan? Simak Penjelasan Ulama
Aktual
Bagaimana Hukum Akikah bagi Anak Lahir di Luar Nikah? Ini Penjelasan Ulama
Bagaimana Hukum Akikah bagi Anak Lahir di Luar Nikah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Apakah Akikah Harus Dilakukan di Hari Ketujuh Kelahiran? Ini Penjelasan Ulama
Apakah Akikah Harus Dilakukan di Hari Ketujuh Kelahiran? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Dialog Kebangsaan Bersama Ketua MPR RI, KH Imam Jazuli Soroti Transformasi Pesantren dan Kondusivitas Muktamar ke-35 NU
Dialog Kebangsaan Bersama Ketua MPR RI, KH Imam Jazuli Soroti Transformasi Pesantren dan Kondusivitas Muktamar ke-35 NU
Aktual
Doa Kemerdekaan Republik Indonesia: Bacaan Doa 17 Agustus untuk Upacara HUT RI Penuh Syukur dan Harapan
Doa Kemerdekaan Republik Indonesia: Bacaan Doa 17 Agustus untuk Upacara HUT RI Penuh Syukur dan Harapan
Doa dan Niat
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar