Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gamis “Bini Orang” Viral! Ini Tren Busana Lebaran 2026, dari Rompi Lepas hingga Gaya Old Money

Kompas.com, 2 Maret 2026, 09:04 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Tren busana Lebaran 2026 mulai menggeliat bahkan sebelum Ramadan tiba. Dari pusat grosir Tanah Abang hingga linimasa TikTok, dunia fashion muslim diramaikan fenomena unik: kemunculan gamis dengan nama-nama nyeleneh yang justru laris manis di pasaran.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah “Gamis Bini Orang”. Nama ini viral setelah videonya meledak di media sosial dan ramai digunakan sebagai konten promosi dengan sound populer.

Tak hanya itu, koleksi lain seperti “Istri Sultan”, “Menantu Idaman”, hingga “Mertua Idaman” ikut meramaikan etalase toko dan marketplace.

Baca juga: Jadi Trend Baju Lebaran 2026, Berapa Harga Gamis Bini Orang di Pasar Tanah Abang?

Fenomena “Gamis Bini Orang” yang Meledak di Media Sosial

Penamaan unik ini bukan sekadar gimmick. Mayoritas pembeli memang para istri muda yang ingin tampil elegan dan berbeda saat Lebaran.

Secara desain, tren gamis Lebaran 2026 didominasi model dengan rompi lepas (detachable vest). Detail ini membuat satu busana bisa tampil dalam dua gaya berbeda — formal saat silaturahmi dan simpel saat santai bersama keluarga.

Untuk harga, gamis-gamis viral ini dibanderol mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 355.000 untuk kualitas premium.

Strategi pemasaran kreatif terbukti efektif. Nama yang unik membuat produk mudah diingat sekaligus memancing rasa penasaran calon pembeli.

Nuansa Lembut dan Material Premium Jadi Andalan

Secara umum, tren fashion Lebaran 2026 untuk wanita mengarah pada gaya soft, klasik, dan mewah.

Beberapa ciri yang mendominasi pasar antara lain:

  • Bahan silk premium yang jatuh dan adem
  • Motif emboss pattern yang elegan
  • Aksen full payet untuk kesan glamor
  • Rok plisket dengan atasan mewah harga terjangkau

Menariknya, banyak setelan stylish dibanderol di bawah Rp 100.000, membuat tren ini terasa lebih inklusif dan ramah kantong.

Tren Busana Lebaran 2026, dari Rompi Lepas hingga Gaya Old Money: Nuansa Lembut dan Material Premium Jadi Andalan.Ilustrasi dibuat AI Tren Busana Lebaran 2026, dari Rompi Lepas hingga Gaya Old Money: Nuansa Lembut dan Material Premium Jadi Andalan.

Tren Baju Koko 2026: Gaya “Old Money” Jadi Primadona

Tak hanya wanita, tren busana pria juga mengalami pergeseran signifikan.

Lebaran 2026 diprediksi akan diramaikan gaya “old money” — tampilan klasik, bersih, dan elegan tanpa kesan berlebihan.

Beberapa model yang diperkirakan naik daun:

  • Koko dengan kerah Shanghai tegak
  • Model semi-bascup
  • Kurta modern menggantikan jubah tradisional
  • Celana model barrel atau beraksen pleated (lipit)

Gaya ini menonjolkan kesan mapan, rapi, dan understated luxury yang kini digemari generasi muda.

Ini Tren Busana Lebaran 2026, dari Rompi Lepas hingga Gaya Old Money: Tren Baju Koko 2026 Gaya ?Old Money? Jadi Primadona.
Ilustrasi dibuat AI Ini Tren Busana Lebaran 2026, dari Rompi Lepas hingga Gaya Old Money: Tren Baju Koko 2026 Gaya ?Old Money? Jadi Primadona.

Peluang Cuan dari Sistem “Wet Label”

Di balik tren ini, ada peluang bisnis besar. Sejumlah produsen Tanah Abang menawarkan sistem wet label, yakni produk tanpa merek permanen yang bisa di-rebranding oleh pembeli grosir.

Artinya, reseller bisa menjual kembali koleksi Lebaran 2026 dengan brand sendiri di marketplace. Dengan bahan premium dan desain kekinian, margin keuntungan dinilai cukup menjanjikan.

Buruan Sebelum Kehabisan!

Melihat cepatnya tren berganti dan viral di media sosial, para pemburu baju Lebaran disarankan tidak menunda terlalu lama. Banyak toko terus memperbarui desain agar tetap relevan dengan selera pasar.

Baca juga: Penyebab “Gamis Bini Orang” Viral Jelang Lebaran 2026, Tampil Classy dengan harga Terjangkau

Lebaran 2026 tampaknya bukan sekadar soal pakaian baru, tetapi juga soal identitas, gaya personal, dan strategi branding yang makin kreatif.

Apakah Anda tim “Gamis Bini Orang” atau gaya “Old Money”?

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar