Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berapa Hari Lagi Lebaran 2026? Cek Versi Kemenag dan Muhammadiyah

Kompas.com, 2 Maret 2026, 10:34 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ramadan 1447 Hijriah telah memasuki pertengahan bulan. Suasana masjid semakin ramai, pusat perbelanjaan mulai dipadati, dan satu pertanyaan yang kerap muncul adalah Lebaran 2026 tinggal berapa hari lagi?

Hari Raya Idul Fitri 1447 H memang menjadi momentum yang paling dinanti umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa.

Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Syawal berpotensi berbeda antara Kementerian Agama Republik Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah membuat hitungan mundur Lebaran bisa sedikit berbeda.

Perkiraan Tanggal 1 Syawal 1447 H

Berdasarkan kalender yang telah dipublikasikan masing-masing lembaga:

Versi Muhammadiyah

Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini mengacu pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan secara konsisten oleh persyarikatan.

Versi Pemerintah (Kemenag)

Kalender Hijriah Indonesia memperkirakan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meski demikian, kepastian tanggal masih menunggu hasil sidang isbat yang dijadwalkan pada 19 Maret 2026.

Versi NU

NU pada umumnya mengikuti hasil sidang isbat pemerintah karena sama-sama mengedepankan rukyat hilal (pengamatan bulan sabit) sebagai dasar konfirmasi awal Syawal. Dengan demikian, prediksinya juga mengarah ke 21 Maret 2026.

Baca juga: Mudik Lebaran 2026: Cek Jadwal Libur Panjang 14 Hari, Diskon Tol 30%, hingga Aturan Pembatasan Truk

Lebaran 2026 Tinggal Berapa Hari Lagi?

Jika dihitung dari Senin, 2 Maret 2026, maka:

Versi Muhammadiyah (20 Maret 2026): sekitar 18 hari lagi.

Versi Pemerintah & NU (21 Maret 2026): sekitar 19 hari lagi.

Hitungan ini bersifat perkiraan dan bisa berubah menyesuaikan hasil sidang isbat resmi.

Mengapa Tanggal Lebaran Bisa Berbeda?

Perbedaan ini bukan hal baru dalam tradisi keislaman Indonesia. Akar persoalannya terletak pada metode penentuan awal bulan Hijriah.

Muhammadiyah menggunakan hisab astronomi dengan prinsip wujudul hilal. Artinya, selama secara perhitungan astronomis hilal sudah berada di atas ufuk, maka bulan baru dianggap telah masuk.

Sementara pemerintah dan NU mengombinasikan hisab dengan rukyat, yakni observasi langsung hilal di berbagai titik pemantauan. Jika hilal belum memenuhi kriteria visibilitas, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa perbedaan kriteria visibilitas hilal sering kali memengaruhi hasil akhir penetapan awal bulan.

Hal serupa juga diuraikan dalam Fikih Hisab Rukyat karya Ahmad Izzuddin, yang menegaskan bahwa perbedaan metode adalah konsekuensi ijtihad ilmiah, bukan pertentangan akidah.

Karena itu, masyarakat Indonesia umumnya menyikapi perbedaan dengan saling menghormati.

Baca juga: Jadwal Libur Sekolah Lebaran 2026 Terbaru: Catat Tanggalnya, Libur Panjang di Depan Mata!

Makna Idul Fitri dalam Perspektif Keagamaan

Lebaran bukan sekadar perayaan tahunan. Dalam Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali dijelaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah, yakni kondisi suci setelah menjalani latihan spiritual Ramadan.

Idul Fitri juga menjadi hari kemenangan spiritual. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, hitung mundur Lebaran bukan hanya soal kalender, melainkan juga refleksi bahwa sudah sejauh mana Ramadan dimaksimalkan?

Persiapan Menyambut Lebaran 2026

Menjelang akhir Ramadan, ada sejumlah hal penting yang bisa mulai dipersiapkan.

Pertama, menyempurnakan ibadah. Memasuki sepuluh hari terakhir, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan mencari malam Lailatul Qadar.

Kedua, menunaikan zakat fitrah. Zakat ini wajib bagi setiap Muslim dan harus dibayarkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Tujuannya untuk menyucikan jiwa sekaligus membantu sesama.

Ketiga, merencanakan mudik dan silaturahmi. Mengingat tingginya mobilitas jelang Lebaran, perencanaan perjalanan lebih awal akan menghindarkan dari kendala tiket dan kepadatan arus mudik.

Keempat, mengelola keuangan dengan bijak. Lebaran identik dengan belanja kebutuhan hari raya, pemberian THR, hingga berbagi hampers. Pengaturan anggaran sejak dini membantu agar tidak berlebihan.

Kelima, mempersiapkan rekonsiliasi sosial. Tradisi saling memaafkan menjadi inti Idul Fitri. Momentum ini tepat untuk memperbaiki hubungan yang renggang.

Baca juga: Kemenag Gelar Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026 Penentuan Lebaran di Jakarta

Menanti Kepastian 1 Syawal

Pada akhirnya, kepastian Lebaran 2026 akan diumumkan melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama. Perbedaan tanggal, jika terjadi, merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam.

Yang lebih penting, Ramadan 1447 H perlahan menuju akhir. Hitungan hari menuju Lebaran menjadi pengingat bahwa kesempatan memperbaiki diri pun semakin terbatas.

Apakah kita sudah memaksimalkan Ramadan tahun ini? Atau justru masih menunda-nunda amal kebaikan?

Lebaran memang tinggal belasan hari lagi. Namun makna kemenangan sejati bukan terletak pada cepatnya hari raya tiba, melainkan pada kesiapan hati menyambutnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar