KOMPAS.com - Langit Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026 akan menghadirkan peristiwa istimewa.
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 terjadi bertepatan dengan Ramadan 1447 H, bulan yang sarat ibadah dan refleksi spiritual.
Secara astronomi, gerhana bulan total terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus.
Bumi menghalangi cahaya Matahari sehingga Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) dan tampak kemerahan.
Fenomena ini telah dijelaskan secara ilmiah oleh lembaga resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Namun di balik penjelasan sains, umat Islam memandang gerhana sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Peristiwa langit ini bukan mitos, bukan pula pertanda kesialan, melainkan bagian dari ketetapan-Nya yang mengatur semesta dengan sangat presisi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 164:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Inna fī khalqi as-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfi al-layli wan-nahāri la-āyātin li ulil-albāb.
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Ayat ini menegaskan bahwa fenomena kosmik seperti gerhana merupakan ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di alam semesta yang mengajak manusia berpikir dan merenung.
Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Kemenag Ajak Umat Islam Sholat Gerhana di 13 Ramadhan
Ketika terjadi gerhana di masa Rasulullah, Muhammad mengajarkan umatnya untuk melaksanakan shalat gerhana (shalat khusuf).
Beliau menegaskan bahwa gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda agar manusia semakin mengingat Allah.
Momentum gerhana yang hadir di bulan Ramadan menghadirkan suasana yang lebih mendalam.
Di saat umat Islam berpuasa dan memperbanyak ibadah, langit pun seakan mengajak untuk mempertebal keimanan.
Shalat gerhana bulan hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dilaksanakan dua rakaat, dengan dua kali rukuk di setiap rakaat.
Niat Shalat Gerhana Bulan
أُصَلِّي سُنَّةَ الْخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatal khusūfi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Disunnahkan membaca bacaan yang panjang serta memperbanyak doa dan istighfar setelahnya.
Baca juga: 7 Hikmah Gerhana: Bukti Kekuasaan Allah hingga Pengingat Hari Kiamat
Selain shalat gerhana, umat Islam dianjurkan:
Ramadan adalah bulan pengampunan. Ketika gerhana hadir di tengahnya, momen ini menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia dan keluasan kuasa Allah.
Baca juga: Teks Khutbah Sholat Gerhana Bulan
Gerhana bulan total tidak terjadi setiap tahun di lokasi yang sama. Ia datang sebagai peristiwa langka yang menyatukan sains dan spiritualitas.
Keteraturan orbit Bulan menunjukkan presisi hukum alam, sementara iman mengajarkan bahwa semua itu berjalan dalam kehendak Allah SWT.
Saat Bulan perlahan berubah merah pada 3 Maret 2026, umat Islam tidak hanya menyaksikan fenomena langit. Mereka juga diajak memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Langit malam di bulan Ramadan bukan sekadar gelap dan bercahaya. Ia membawa pesan sunyi tentang kebesaran, ketetapan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang mau berpikir dan merenung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang