Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Soroti Kualitas Speaker Masjid, Nasaruddin Umar: Suara Imam Harus Jernih Agar Jamaah Lebih Khusyuk

Kompas.com, 8 Maret 2026, 09:06 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti kualitas pengeras suara di sejumlah masjid dan musala yang dinilai masih belum optimal.

Menurutnya, kualitas audio yang kurang baik membuat bacaan imam saat salat atau kegiatan keagamaan tidak terdengar jelas sehingga sulit dipahami oleh jamaah.

Hal tersebut disampaikan Nasaruddin saat berdiskusi dengan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Pramujati di Gedung Rektorat ITS, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: Milad ke-48 Masjid Istiqlal, Menag Nasaruddin Umar Pastikan Pembenahan Berlanjut

Menurut Menag, persoalan teknis seperti kualitas pengeras suara sering kali dianggap sepele, padahal sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan ibadah.

“Kadang-kadang bacaan imam sebenarnya sangat bagus, tetapi karena kualitas speakernya kurang baik, suaranya tidak jernih. Akibatnya pesan atau makna dari bacaan itu tidak sampai dengan baik kepada jamaah,” kata Nasaruddin Umar.

Speaker Masjid Berpengaruh pada Kekhusyukan Ibadah

Nasaruddin menilai perbaikan sistem audio di rumah ibadah merupakan langkah sederhana tetapi memiliki dampak besar. Dengan kualitas suara yang jelas, jamaah dapat lebih memahami dan menghayati bacaan salat maupun kegiatan keagamaan lainnya.

“Kalau suaranya jelas, orang bisa lebih menghayati. Itu hal sederhana, tetapi dampaknya besar bagi kualitas ibadah,” ujarnya.

Menurutnya, kualitas pengeras suara tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan mendengar, tetapi juga membantu menyampaikan pesan spiritual dari bacaan Al-Qur’an maupun doa yang dibacakan imam.

ITS Siap Bantu Tata Sistem Audio Masjid

Menanggapi hal tersebut, Rektor ITS Bambang Pramujati menyatakan kesiapan kampusnya untuk berkontribusi membantu peningkatan kualitas sistem audio di masjid dan musala.

Ia mengatakan mahasiswa ITS memiliki kemampuan teknis yang dapat dimanfaatkan melalui program pengabdian kepada masyarakat.

“Kami siap membantu menata sistem speaker agar suara di mushola bisa lebih maksimal,” kata Bambang.

Keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut juga diharapkan menjadi ruang praktik nyata bagi mereka untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus.

Baca juga: Polemik Meninggalkan Zakat dan Permintaan Maaf Menag Nasaruddin Umar

Selain membantu masyarakat meningkatkan kualitas fasilitas rumah ibadah, program tersebut juga dapat menjadi pengalaman lapangan bagi mahasiswa di bidang teknologi dan rekayasa audio.

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, diharapkan kualitas sistem pengeras suara di masjid dan musala dapat semakin baik sehingga mendukung kekhusyukan ibadah umat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com