KOMPAS.com – Setiap datangnya Idul Fitri, suasana kebersamaan terasa begitu kuat di tengah masyarakat.
Setelah sebulan menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadan, umat Islam biasanya memanfaatkan hari raya untuk berkumpul bersama keluarga, mengunjungi kerabat, dan saling memaafkan.
Di Indonesia, tradisi ini dikenal sebagai silaturahmi Lebaran. Orang-orang saling berkunjung dari rumah ke rumah, menjalin kembali hubungan yang mungkin sempat renggang, serta mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin.
Namun dalam ajaran Islam, silaturahmi sebenarnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kunjungan saat hari raya. Ia merupakan bagian dari nilai penting dalam kehidupan sosial umat Muslim.
Baca juga: MUI Tegaskan 7 Komitmen Persatuan dalam Silaturahmi Lintas Agama di Istana Negara
Istilah silaturahmi berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu silah yang berarti hubungan dan rahim yang bermakna kasih sayang atau kekerabatan.
Secara sederhana, silaturahmi dapat diartikan sebagai upaya menjalin hubungan yang dilandasi oleh kasih sayang.
Dalam buku Bereskan Ibadahmu maka Allah akan Membereskan Pekerjaanmu, penulis M. Al Farabi menjelaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar interaksi sosial, tetapi bentuk kepedulian dan upaya menjaga hubungan antarmanusia agar tetap harmonis.
Karena itu, silaturahmi menjadi bagian dari nilai moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Hubungan baik antar sesama dianggap sebagai cerminan dari keimanan seseorang.
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Ciptakan Silaturahmi Aman dan Nyaman
Hari raya Idul Fitri sering dimaknai sebagai momen kembali kepada fitrah, yaitu keadaan manusia yang bersih dari dosa setelah menjalani proses spiritual selama Ramadan.
Dalam konteks inilah silaturahmi menjadi sangat relevan. Setelah menjalani ibadah puasa dan memperbanyak amal saleh, umat Islam diingatkan untuk memperbaiki hubungan sosial dengan sesama manusia.
Tradisi saling berkunjung saat Lebaran pada dasarnya menjadi sarana untuk membuka kembali hubungan yang mungkin sempat terputus.
Tidak jarang orang memanfaatkan momen ini untuk meminta maaf kepada keluarga, sahabat, atau tetangga.
Menurut ulama tafsir Indonesia Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, salah satu pesan penting dari Idul Fitri adalah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia setelah memperbaiki hubungan dengan Allah selama Ramadan.
Pentingnya menjaga hubungan silaturahmi juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjaga hubungan kekeluargaan dan tidak memutuskan tali persaudaraan.
Hal ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 1 yang menyerukan agar manusia bertakwa kepada Allah serta memelihara hubungan kekerabatan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial dalam Islam bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah.
Oleh karena itu, menjaga silaturahmi dipandang sebagai bentuk ibadah yang memiliki nilai spiritual.
Baca juga: Rahasia Silaturahmi: Kunci Pembuka Rezeki dan Keberkahan Hidup
Menariknya, tradisi silaturahmi yang dilakukan secara besar-besaran saat Idul Fitri lebih banyak berkembang di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Dalam buku Islam, Doktrin, dan Isu-Isu Kontemporer, cendekiawan Muslim Faisal Ismail menjelaskan bahwa budaya saling berkunjung dan saling memaafkan saat Lebaran merupakan tradisi sosial yang berkembang dalam masyarakat Melayu.
Sementara itu, di beberapa negara Timur Tengah, perayaan Idul Fitri biasanya berlangsung lebih sederhana dalam lingkup keluarga.
Justru perayaan yang lebih besar sering terjadi pada Idul Adha karena berkaitan dengan ibadah haji.
Meski demikian, nilai silaturahmi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial umat Islam di berbagai negara.
Banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya menjaga silaturahmi. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah menyebutkan bahwa hubungan kekeluargaan merupakan bagian dari tanda keimanan.
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj menyebutkan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya menjaga hubungan silaturahmi serta berkata baik kepada sesama.
Selain itu, silaturahmi juga disebut sebagai amalan yang dapat memperluas rezeki dan memperpanjang umur.
Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik menyebutkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung tali kekerabatan.
Dalam buku Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silaturahmi, penulis Amirulloh Syarbini menjelaskan bahwa silaturahmi memiliki dampak spiritual sekaligus sosial.
Ia dapat mempererat hubungan masyarakat sekaligus mendatangkan pahala bagi orang yang melakukannya.
Baca juga: Kue Lebaran Khas Betawi, Warisan Rasa yang Menghangatkan Silaturahmi
Selain memiliki nilai ibadah, silaturahmi juga berfungsi menjaga keharmonisan masyarakat. Melalui silaturahmi, konflik yang terjadi di antara individu dapat diselesaikan dengan cara yang damai.
Nabi Muhammad SAW bahkan pernah menyebut bahwa memperbaiki hubungan antara dua orang yang berselisih memiliki pahala yang besar.
Pesan ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan persaudaraan dan perdamaian sebagai nilai penting dalam kehidupan sosial.
Pada akhirnya, silaturahmi saat Lebaran bukan sekadar kegiatan tahunan atau tradisi budaya. Ia merupakan pengingat bahwa hubungan antar manusia perlu dijaga dengan penuh kasih sayang.
Melalui kunjungan, permintaan maaf, dan kebersamaan, umat Islam diingatkan untuk memperkuat ikatan persaudaraan yang menjadi bagian penting dari ajaran agama.
Karena itu, ketika Idul Fitri tiba, momen silaturahmi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan spiritual untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang