Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Al-Umanaa Siapkan Generasi Pemimpin Bangsa, Ajarkan 5 Bahasa Asing hingga Kelola Bisnis Sendiri

Kompas.com, 19 Maret 2026, 04:17 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pondok Pesantren Al-Umanaa mengembangkan model pendidikan terpadu yang menggabungkan penguatan karakter, penguasaan lima bahasa asing, serta kemandirian pangan dan ekonomi untuk menyiapkan generasi pemimpin masa depan.

Program ini diterapkan di lingkungan pesantren yang berlokasi di Sukabumi melalui integrasi kurikulum berbasis nilai Al-Qur’an, praktik pertanian dan kewirausahaan, serta pembiasaan penggunaan bahasa asing dalam aktivitas harian santri.

Konsep tersebut lahir dari kegelisahan terhadap praktik pendidikan yang dinilai terlalu berorientasi pada capaian akademik semata, tanpa diimbangi pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Baca juga: Pesantren Al Umanaa Perkuat Kolaborasi Cetak Pemimpin Qurani Indonesia

Berangkat dari Kegelisahan Sistem Pendidikan

Kepala sekolah Al-Umanaa, Dra. Gustianingsih, mengatakan lembaga ini didirikan untuk menjawab persoalan mendasar dalam dunia pendidikan.

“Al-Umanaa lahir dari kegelisahan yang sangat mendalam bahwa pendidikan kita masih jauh dari esensi penciptaan manusia, yaitu melahirkan hamba Allah yang mampu menjalankan misi besar penciptaan manusia,” ujar Gustianingsih.

Ia menilai, sistem pendidikan saat ini masih terlalu menitikberatkan pada aspek akademik yang bersifat jangka pendek.

“Saat ini pendidikan kita masih terlalu fokus kepada akademik yang mana pengetahuan itu cepat usang. Padahal kita diamanatkan untuk melahirkan generasi pemimpin,” lanjutnya.

Dalam praktiknya, pendidikan karakter ditempatkan sebagai fondasi utama, dengan nilai-nilai Al-Qur’an menjadi rujukan dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Targetkan Penguasaan Lima Bahasa Asing

Sebagai bagian dari persiapan menghadapi era global, Al-Umanaa membekali santri dengan lima bahasa asing, yaitu Arab, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Jerman.

Bahasa tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sistem pekan bahasa dan pengawasan disiplin yang ketat.

Guru Al-Umanaa, Amalia Dianah, menjelaskan pentingnya penguasaan multi-bahasa bagi generasi mendatang.

“Anak-anak yang kita didik ini tidak hidup pada zaman sekarang. Mereka akan hidup pada masanya nanti. Kalau sekarang bisa satu dua bahasa, mungkin masih bisa unggul. Tapi untuk nanti mereka pasti butuh keterampilan lebih dari itu,” jelas Amalia.

Ia menambahkan, kemampuan bahasa menjadi bagian penting untuk menghadapi kompetisi global yang semakin terbuka.

Baca juga: Al Umanaa Siapkan Asatidz dan Santri Hadapi Tantangan Dakwah Digital

Terapkan Kemandirian Pangan Berbasis Kurikulum

Selain penguasaan bahasa, Al-Umanaa juga mengembangkan kemandirian pangan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.

Santri dilibatkan langsung dalam kegiatan pertanian dan peternakan, mulai dari proses penanaman hingga pengelolaan hasil.

Produksi sayuran di pesantren ini mencapai sekitar 2,5 ton per bulan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal.

Guru Al-Umanaa lainnya, Inas Nabilah Ridhoha, mengatakan bahwa program ini terintegrasi dalam kegiatan belajar.

“Kemandirian pangan ini kami masukkan dalam kurikulum. Ada mata pelajaran peternakan, pertanian, dan kewirausahaan. Santri juga bisa terlibat lebih dalam melalui kegiatan ekstrakurikuler hingga pengabdian,” kata Inas.

Menurut dia, santri tingkat akhir bahkan dilibatkan dalam perencanaan dan operasional unit usaha secara penuh.

Bangun Ekonomi Sirkular melalui Koperasi

Di sektor ekonomi, pesantren mengelola Koperasi Al-Umanaa Sejahtera Mandiri (KASMA) sebagai pusat kegiatan usaha berbasis ekonomi sirkular.

Setiap hari, sekitar 1,5 ton bahan baku diolah menjadi 5.000 porsi katering serta berbagai produk olahan yang dipasarkan secara nasional.

Lebih lanjut, Guru Al-Umanaa, Prianka Adi, menyebut pendekatan kewirausahaan di pesantren tidak hanya berorientasi pada keuntungan.

“Yang diutamakan adalah mindset untuk menjadi solusi. Dalam pembelajaran, santri diajak mencari masalah di sekitar dan membuat solusi melalui produk, jasa, atau hasil penelitian,” jelas Prianka.

Melalui sistem ini, santri tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik ekonomi yang berkelanjutan.

Baca juga: Pendidikan ala Ponpes Al Umanaa: Kunci Menjawab Kegelisahan Generasi Muda

Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan

Model pendidikan yang dikembangkan Al-Umanaa mengintegrasikan aspek spiritualitas, intelektualitas, dan keterampilan praktis dalam satu ekosistem.

Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan masa depan, termasuk dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, yang menuntut kualitas sumber daya manusia unggul dan adaptif.

Dengan menggabungkan pendidikan agama, penguasaan bahasa global, kemandirian pangan, serta penguatan ekonomi, Al-Umanaa menghadirkan model pendidikan alternatif yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan problem solving.

Pesantren ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan berbasis keagamaan dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang mandiri, produktif, dan relevan dengan tantangan global.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar