KOMPAS.com - Pondok Pesantren Al-Umanaa mengembangkan model pendidikan terpadu yang menggabungkan penguatan karakter, penguasaan lima bahasa asing, serta kemandirian pangan dan ekonomi untuk menyiapkan generasi pemimpin masa depan.
Program ini diterapkan di lingkungan pesantren yang berlokasi di Sukabumi melalui integrasi kurikulum berbasis nilai Al-Qur’an, praktik pertanian dan kewirausahaan, serta pembiasaan penggunaan bahasa asing dalam aktivitas harian santri.
Konsep tersebut lahir dari kegelisahan terhadap praktik pendidikan yang dinilai terlalu berorientasi pada capaian akademik semata, tanpa diimbangi pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Baca juga: Pesantren Al Umanaa Perkuat Kolaborasi Cetak Pemimpin Qurani Indonesia
Kepala sekolah Al-Umanaa, Dra. Gustianingsih, mengatakan lembaga ini didirikan untuk menjawab persoalan mendasar dalam dunia pendidikan.
“Al-Umanaa lahir dari kegelisahan yang sangat mendalam bahwa pendidikan kita masih jauh dari esensi penciptaan manusia, yaitu melahirkan hamba Allah yang mampu menjalankan misi besar penciptaan manusia,” ujar Gustianingsih.
Ia menilai, sistem pendidikan saat ini masih terlalu menitikberatkan pada aspek akademik yang bersifat jangka pendek.
“Saat ini pendidikan kita masih terlalu fokus kepada akademik yang mana pengetahuan itu cepat usang. Padahal kita diamanatkan untuk melahirkan generasi pemimpin,” lanjutnya.
Dalam praktiknya, pendidikan karakter ditempatkan sebagai fondasi utama, dengan nilai-nilai Al-Qur’an menjadi rujukan dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Sebagai bagian dari persiapan menghadapi era global, Al-Umanaa membekali santri dengan lima bahasa asing, yaitu Arab, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Jerman.
Bahasa tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sistem pekan bahasa dan pengawasan disiplin yang ketat.
Guru Al-Umanaa, Amalia Dianah, menjelaskan pentingnya penguasaan multi-bahasa bagi generasi mendatang.
“Anak-anak yang kita didik ini tidak hidup pada zaman sekarang. Mereka akan hidup pada masanya nanti. Kalau sekarang bisa satu dua bahasa, mungkin masih bisa unggul. Tapi untuk nanti mereka pasti butuh keterampilan lebih dari itu,” jelas Amalia.
Ia menambahkan, kemampuan bahasa menjadi bagian penting untuk menghadapi kompetisi global yang semakin terbuka.
Baca juga: Al Umanaa Siapkan Asatidz dan Santri Hadapi Tantangan Dakwah Digital
Selain penguasaan bahasa, Al-Umanaa juga mengembangkan kemandirian pangan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.
Santri dilibatkan langsung dalam kegiatan pertanian dan peternakan, mulai dari proses penanaman hingga pengelolaan hasil.
Produksi sayuran di pesantren ini mencapai sekitar 2,5 ton per bulan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal.
Guru Al-Umanaa lainnya, Inas Nabilah Ridhoha, mengatakan bahwa program ini terintegrasi dalam kegiatan belajar.
“Kemandirian pangan ini kami masukkan dalam kurikulum. Ada mata pelajaran peternakan, pertanian, dan kewirausahaan. Santri juga bisa terlibat lebih dalam melalui kegiatan ekstrakurikuler hingga pengabdian,” kata Inas.
Menurut dia, santri tingkat akhir bahkan dilibatkan dalam perencanaan dan operasional unit usaha secara penuh.
Di sektor ekonomi, pesantren mengelola Koperasi Al-Umanaa Sejahtera Mandiri (KASMA) sebagai pusat kegiatan usaha berbasis ekonomi sirkular.
Setiap hari, sekitar 1,5 ton bahan baku diolah menjadi 5.000 porsi katering serta berbagai produk olahan yang dipasarkan secara nasional.
Lebih lanjut, Guru Al-Umanaa, Prianka Adi, menyebut pendekatan kewirausahaan di pesantren tidak hanya berorientasi pada keuntungan.
“Yang diutamakan adalah mindset untuk menjadi solusi. Dalam pembelajaran, santri diajak mencari masalah di sekitar dan membuat solusi melalui produk, jasa, atau hasil penelitian,” jelas Prianka.
Melalui sistem ini, santri tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga: Pendidikan ala Ponpes Al Umanaa: Kunci Menjawab Kegelisahan Generasi Muda
Model pendidikan yang dikembangkan Al-Umanaa mengintegrasikan aspek spiritualitas, intelektualitas, dan keterampilan praktis dalam satu ekosistem.
Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan masa depan, termasuk dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, yang menuntut kualitas sumber daya manusia unggul dan adaptif.
Dengan menggabungkan pendidikan agama, penguasaan bahasa global, kemandirian pangan, serta penguatan ekonomi, Al-Umanaa menghadirkan model pendidikan alternatif yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan problem solving.
Pesantren ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan berbasis keagamaan dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang mandiri, produktif, dan relevan dengan tantangan global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang