Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Ngapungkeun Balon Garut saat Lebaran, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kebersamaan

Kompas.com, 22 Maret 2026, 22:43 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Tradisi Ngapungkeun balon di Garut menjadi salah satu kearifan lokal yang selalu hadir saat perayaan Idul Fitri.

Kegiatan ini rutin digelar masyarakat Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Momen tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga setelah Ramadhan.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi setiap tahun, termasuk pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriyah pada Jumat (20/3/2026).

Baca juga: Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan, Buleleng Tunjukkan Harmoni Toleransi yang Menginspirasi

Mengenal Tradisi Ngapungkeun Balon di Garut

Tradisi Ngapungkeun atau menerbangkan balon raksasa berbahan kertas menjadi agenda yang dinanti warga.

Setelah pelaksanaan shalat Ied, masyarakat berbondong-bondong menuju lokasi penerbangan balon di sejumlah titik, salah satunya di halaman SDN Sukajaya.

Kondisi cuaca yang cerah dengan langit biru semakin menambah semangat warga untuk menyaksikan balon-balon raksasa terbang tinggi. Suasana lapangan dipenuhi kegembiraan, ditandai dengan sorak sorai warga saat balon mulai mengudara.

Salah seorang warga, Syakira Salwa (17), mengaku momen tersebut selalu dinantikan setiap Lebaran karena menjadi kesempatan berkumpul bersama keluarga dan teman.

"Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu di Hari Raya Idul Fitri, bareng sama teman-teman, saudara-saudara di sini," kata Syakira, seperti dilansir dari Antara.

Warisan Budaya Sejak 1960-an

Bagi masyarakat Panawuan, tradisi ini bukan sekadar hiburan. Ngapungkeun balon telah menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan sejak tahun 1960-an.

Tradisi ini juga digelar di berbagai lapangan terbuka di wilayah Kelurahan Sukajaya.

Bahkan, pada tahun sebelumnya, tercatat sekitar 20 balon diterbangkan, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat karena perayaan Lebaran yang tidak berlangsung serentak.

Proses Pembuatan dan Penerbangan Balon

Proses pembuatan balon raksasa membutuhkan waktu sekitar tujuh hari dan telah dipersiapkan sejak bulan Ramadhan.

Warga bersama-sama mengumpulkan dana, membeli bahan seperti kertas tipis dan lem, hingga merakit balon.

Dalam satu lokasi, balon yang diterbangkan bisa lebih dari dua unit. Seperti di halaman SDN Sukajaya, terdapat empat balon dengan diameter sekitar 20 meter dan panjang 10 meter yang siap diterbangkan.

Seluruh proses melibatkan berbagai kalangan usia, mulai dari perancangan hingga penerbangan.

Selain itu, ada warga yang bertugas menyiapkan tungku api sebagai sumber panas agar balon mengembang, serta menjaga keseimbangan balon saat akan diterbangkan.

Nilai Gotong Royong dan Kebersamaan  

Tradisi Ngapungkeun balon sarat dengan nilai gotong royong. Setiap balon dibuat melalui iuran warga, dengan biaya sekitar Rp700 ribu per unit.

Atep, salah satu penggerak tradisi tersebut, menyebut kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus hiburan masyarakat.

"Nilainya sebagai ajang silaturahmi masyarakat berkumpul di sini, sekaligus menjadi hiburan di Hari Raya Lebaran," kata Atep.

Ia menegaskan bahwa proses menerbangkan balon melibatkan banyak orang tanpa memandang latar belakang. Semua warga membaur dan bekerja sama dalam suasana kebersamaan.

Potensi Atraksi Wisata dari Kearifan Lokal

Tradisi Ngapungkeun balon juga mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut.

Kegiatan ini dinilai memiliki potensi sebagai atraksi wisata berbasis kearifan lokal.

Kepala Disparbud Garut, Beni Yoga Gunasantika, menyatakan tradisi tersebut memiliki daya tarik kuat karena tumbuh secara alami dari masyarakat.

"Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat," kata Beni.

Ia menambahkan, tradisi ini dapat dikembangkan sebagai agenda wisata tahunan yang terstruktur karena selama ini berlangsung tertib, aman, dan menarik minat pengunjung.

"Ini merupakan wujud nyata kegembiraan dan kebersamaan warga pasca Idul Fitri. Kita melihat antusiasme yang luar biasa, ini adalah ekspresi budaya dan tradisi yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri," katanya.

Tradisi Ngapungkeun balon menunjukkan bahwa perayaan Lebaran tidak hanya identik dengan hidangan dan pakaian baru, tetapi juga kebersamaan dan kegembiraan sederhana.

Kearifan lokal ini juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar