Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hukum Talak Lewat SMS atau Chat WhatsApp, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Ulama

Kompas.com, 5 April 2026, 21:30 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Talak merupakan pernyataan suami untuk mengakhiri hubungan pernikahan dengan istrinya.

Dalam praktik umum, talak diucapkan secara lisan dan langsung oleh suam di hadapan istri.

Namun, perkembangan teknologi komunikasi membuat penyampaian talak kini juga dilakukan melalui media tertulis seperti SMS, surat, hingga aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.

Baca juga: Talak Saat Marah, Apakah Sah Menurut Hukum Islam? Ini Penjelasan Ulama

Perubahan cara komunikasi ini memunculkan pertanyaan mengenai keabsahan talak yang disampaikan melalui tulisan.

Berikut adalah penjelasan singkat, agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan sah atau tidaknya perceraian, seperti dirangkum Kompas.com dari berbagia sumber.

Baca juga: Talak dalam Islam: Pengertian, Hukum, Jenis, dan Konsekuensinya

Jenis Talak Berdasarkan Ucapan

Dilansir dari Antara, dalam kajian fiqih, talak dibedakan berdasarkan bentuk ucapan dan cara penyampaiannya, yaitu talak aharih dan talak kinayah.

Talak sharih adalah talak yang diucapkan secara tegas dan jelas, seperti “Kamu saya talak” atau “Kamu telah saya ceraikan.”

Mayoritas ulama berpendapat bahwa ucapan ini langsung menjatuhkan talak, meskipun disampaikan dalam candaan atau tanpa niat.

Talak kinayah merupakan talak yang disampaikan secara tidak langsung atau berupa sindiran, seperti “Pulanglah ke rumah orang tuamu.”

Talak jenis ini hanya dianggap sah jika disertai niat dari suami untuk menceraikan istrinya.

Penjelasan Hukum Talak Lewat SMS atau Chat WA

Dilansir dari laman Serambinews.com, pendakwah Buya Yahya mengingatkan agar suami tidak mudah mengucapkan kata cerai, termasuk menjadikannya sebagai bahan candaan.

"Jangan mudah main cerai. Cerai itu guyon aja jadi," kata Buya Yahya seperti dikutip Serambinews.com dari video tayangan YouTube Al Bahjah, Selasa (23/1/2024).

"Seorang suami berpura-pura berkata pada istrinya 'engkau aku cerai'. Jatuh cerai. (Itu) guyon kan?" sambung Buya Yahya.

Terkait talak yang disampaikan melalui tulisan, baik lewat SMS, surat, maupun WhatsApp, Buya Yahya menjelaskan bahwa hal tersebut termasuk dalam kategori talak kinayah.

Karena termasuk talak kinayah, keabsahannya bergantung pada niat suami saat menulis atau mengirim pesan tersebut. Jika tidak ada niat menceraikan, maka talak tidak jatuh. Sebaliknya, jika disertai niat, maka talak bisa dinyatakan sah.

"Kalau yang menulis tidak niat maka tidak jatuh talak. Kalau niat, jatuh (talak)" jelas Buya Yahya.

Buya Yahya juga menyarankan agar istri yang menerima pesan berisi kata cerai untuk memastikan maksud suami. Hal ini penting, terutama jika kalimat yang digunakan terlihat tegas dan mengarah pada perceraian.

"Kalau suami tiba-tiba di WA mengatakan 'hai istriku engkau aku cerai'. Itu kalimatnya memang sharih, tapi (disampaikan) melalui surat jadi kinayah. Itu fiqihnya," kata Buya Yahya.

Ia menegaskan bahwa meskipun kalimatnya jelas, penyampaian melalui tulisan tetap menjadikannya sebagai talak kinayah yang bergantung pada niat.

"Kalau sharih itu terang-terangan. Langsung jadi (jatuh talak) biarpun ga pakai niat. Guyonan tetap jadi," terang Buya Yahya.

"Seperti 'hei istriku pulanglah engkau ke rumah ibumu. Maksudmu apa sih bang? Maksudku cerai'. (Maka) jatuh. 'Maksudku pulang aja besok saya mau pergi', (itu) engga (jatuh talak)," jelas Buya Yahya.

Pandangan Ulama tentang Talak Tertulis

Mayoritas ulama sepakat bahwa talak melalui pesan tertulis seperti SMS, WhatsApp, atau email termasuk dalam kategori talak kinayah. Oleh karena itu, talak tidak dianggap sah tanpa adanya niat dari suami.

Hal ini didasarkan pada karakter tulisan yang tidak sekuat ucapan langsung, karena berpotensi menimbulkan keraguan, seperti kemungkinan salah maksud, emosi sesaat, atau bahkan dikirim oleh pihak lain.

Pendapat ini juga dijelaskan oleh Imam Asy-Syairazi sebagai berikut:

"Jika seseorang menulis lafaz talak istrinya secara sharih (jelas) tanpa disertai niat, maka talak tidak jatuh. Sebab, tulisan itu mengandung kemungkinan menjatuhkan talak atau hanya sekadar menguji tulisan, sehingga talak tidak terjadi hanya karena tulisan itu."

Jika talak disampaikan secara lisan sekaligus ditulis, maka talak tersebut dinyatakan sah dan jatuh. Bahkan, tanpa tulisan pun, ucapan talak saja sudah cukup untuk menjatuhkan talak.

Kombinasi keduanya justru semakin memperkuat kejelasan bahwa talak telah terjadi dalam hubungan suami istri.

Seperti dikutip dari laman PA Surakarta, ulama sepakat, talak dengan tulisan hukumnya sah, karena tulisan terdiri dari banyak huruf yang bisa dipahami maknanya sebagai talak sehingga nilainya sama dengan ucapan. Disamping itu, tulisan mewakili ucapan orang yang menulis. Dengan dalil, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyebarkan risalah. Dan itu terkadang beliau sampaikan dengan ucapan dan terkadang dengan tulisan surat (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 12:216).

Hukum Talak Menurut Negara

Dalam hukum di Indonesia, ketentuan talak diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Secara hukum negara, talak baru dianggap sah jika diucapkan di depan sidang Pengadilan Agama.

Dengan demikian, meskipun secara agama talak melalui chat bisa sah jika memenuhi syarat niat, secara hukum negara talak tersebut belum memiliki kekuatan hukum sebelum diputuskan di pengadilan.

Aturan ini bertujuan untuk melindungi hak-hak perempuan dan mencegah perceraian sepihak yang merugikan istri.

Selain itu, proses ini memastikan perceraian berlangsung secara adil, transparan, dan tercatat secara resmi.

Talak melalui SMS atau chat WhatsApp dalam perspektif fiqih termasuk talak kinayah yang bergantung pada niat suami. Tanpa niat, talak tidak jatuh, meskipun kalimat yang digunakan terlihat tegas.

Namun, dalam hukum negara Indonesia, talak tidak dianggap sah tanpa proses di Pengadilan Agama.

Oleh karena itu, meskipun teknologi memudahkan komunikasi, proses talak tetap harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti ketentuan agama serta hukum yang berlaku.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar