Editor
KOMPAS.com - Tradisi membaca para ulama Islam ternyata tidak sekadar soal banyaknya buku yang dilahap, tetapi lebih pada kedalaman pemahaman dan metode yang sistematis.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, dalam sebuah kajian di Jakarta.
Dalam agenda kajian yang diselenggarakan KADAR bersama Penerbit Irfani pada Kamis (30/03/2026), Nur Fajri Romadhon memaparkan bagaimana cara ulama membaca buku yang terbukti mampu melahirkan peradaban besar dalam sejarah Islam.
Menurutnya, metode membaca dalam Islam bersifat ijtihadi atau terbuka, sehingga tidak ada satu cara baku yang harus diikuti.
Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Meski demikian, jejak para ulama tetap menjadi rujukan penting dalam membangun tradisi literasi yang kuat.
Mengacu pada pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, Nur Fajri menekankan pentingnya membaca secara bertahap (tadarruj).
Ia menjelaskan bahwa pembelajar sebaiknya tidak langsung membaca kitab berat tanpa fondasi dasar.
“Mulailah dari buku yang ringkas untuk memahami gambaran umum, baru kemudian masuk ke pembahasan yang lebih detail,” ujarnya.
Tanpa tahapan tersebut, seseorang berisiko kehilangan arah dan justru tidak mampu menyelesaikan bacaan yang terlalu kompleks sejak awal.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya keterbukaan wawasan. Spesialisasi memang diperlukan, tetapi tidak boleh membuat seseorang terjebak menjadi “katak dalam tempurung”.
Ia mencontohkan ulama klasik seperti Ibnu Muflih yang tetap memiliki wawasan lintas disiplin meski memiliki keahlian utama.
Dalam hal metode belajar, Nur Fajri menegaskan bahwa belajar dari guru tetap menjadi fondasi utama, terutama pada tahap awal.
Namun seiring berkembangnya kemampuan intelektual, membaca mandiri akan menjadi aktivitas yang lebih dominan.
“Pada level tertentu, membaca bahkan bisa lebih intens dibandingkan menghadiri majelis ilmu,” katanya.
Menariknya, ia juga menyoroti aspek emosional dalam membaca. Mengutip pandangan Al-Jahiz dalam Kitab al-Hayawan, ia menyebut bahwa kecintaan terhadap buku seharusnya bisa menandingi kesenangan terhadap hiburan.
“Membeli buku bukan sekadar konsumsi, tapi investasi intelektual,” tegasnya.
Lebih jauh, Nur Fajri mengingatkan bahwa esensi ilmu bukan terletak pada jumlah buku yang dimiliki, melainkan pada pemahaman yang mendalam.
Hal ini sejalan dengan nasihat Ibnu Jama’ah yang menganjurkan membaca secara sistematis, mulai dari daftar isi hingga kesimpulan sebelum mendalami isi buku secara keseluruhan.
Para ulama juga dikenal memiliki adab tinggi terhadap buku. Mereka menjaga fisik buku dengan baik, tidak melipat halaman, serta tidak menjadikannya alas.
Bahkan tokoh seperti Ibnu Taimiyah tetap membaca dalam kondisi sakit karena meyakini ilmu membawa ketenangan jiwa.
Dalam praktik membaca, dikenal pula teknik seperti skimming dan scanning—yang dalam tradisi ulama disebut jard dan fahsh.
Namun, teknik ini dinilai efektif hanya bagi pembaca yang sudah memiliki dasar keilmuan yang kuat.
Baca juga: Idul Adha 2026 Muhammadiyah Tanggal Berapa? Ini Jadwal Versi Kalender Global Tunggal
Di tingkat lanjut, metode belajar ulama menggabungkan membaca dan menulis. Ulama besar seperti Imam Nawawi menjadikan aktivitas menulis sebagai cara memperdalam pemahaman. Tradisi ini juga diwarisi ulama Nusantara seperti Tengku Hasbi Ash-Shiddieqy.
Sebagai penutup, Nur Fajri mengutip pandangan Al-Muzani bahwa membaca satu buku berulang kali jauh lebih bernilai dibanding membaca banyak buku tanpa pendalaman.
Paparan ini menegaskan bahwa tradisi membaca ala ulama bukan soal kecepatan atau jumlah, melainkan kualitas interaksi dengan ilmu. Sebuah pelajaran penting di tengah budaya membaca instan di era digital saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang