KOMPAS.com – Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) kerap menjadi momen yang menegangkan bagi banyak siswa.
Tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi, keterbatasan waktu, hingga rasa cemas saat menghadapi soal sering kali membuat konsentrasi terganggu.
Dalam Islam, usaha belajar yang maksimal perlu disertai dengan ikhtiar batin. Salah satunya melalui doa.
Bukan sekadar pelengkap, doa menjadi sarana menenangkan hati sekaligus bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Allah SWT.
Sejumlah doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis terbukti relevan untuk diamalkan sebelum dan saat ujian, terutama untuk membantu fokus, mengingat materi, serta menghadapi kesulitan.
Baca juga: 7 Doa Sebelum Ujian agar Lancar, Mudah Ingat, dan Hasil Terbaik
Dalam perspektif Islam, ilmu tidak hanya diperoleh melalui usaha rasional, tetapi juga dengan pertolongan Allah SWT.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah memberikan hikmah dan pengetahuan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dalam buku Ta’lim al-Muta’allim karya Burhanuddin Az-Zarnuji, dijelaskan bahwa adab dalam menuntut ilmu, termasuk memperbanyak doa, merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan seorang pelajar. Ilmu bukan hanya hasil kecerdasan, tetapi juga keberkahan.
Doa menjadi cara untuk menyelaraskan antara usaha lahir dan kekuatan batin.
Doa ini dianjurkan dibaca sebelum memulai ujian agar hati lebih tenang dan pikiran lebih fokus:
رَبِّ يَسِّرْ وَأَعِنْ وَلَا تُعَسِّرْ
Rabbi yassir wa a‘in wa laa tu‘assir
Artinya: “Wahai Tuhanku, mudahkanlah dan tolonglah, jangan Engkau persulit.”
Doa ini banyak dikutip dalam literatur ulama, salah satunya dalam karya Imam An-Nawawi Raudhatut Thalibin.
Secara makna, doa ini menegaskan permohonan kemudahan sekaligus pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kuasa Allah.
Ketika menemui soal yang terasa rumit, penting untuk tidak panik. Islam mengajarkan ketenangan dalam menghadapi kesulitan.
اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan.
Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Engkaulah yang menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, menjadi mudah.”
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa doa-doa seperti ini dianjurkan dibaca dalam situasi sulit sebagai bentuk tawakal dan penguatan mental.
Secara psikologis, membaca doa ini membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan fokus.
Baca juga: 7 Ayat Al-Quran tentang Kesabaran saat Menghadapi Ujian Hidup
Salah satu tantangan terbesar saat ujian adalah lupa pada materi yang sebenarnya sudah dipelajari. Untuk itu, doa ini dapat diamalkan:
اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اسْتَوْدَعْتُكَ جَمِيْعَ مَا قَرَأْتُهُ فَارْدُدْهُ اِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ اِلَيْه
Allahumma innistauda’tuka jami’ama qoro’tuhu fardudhu illayya ‘inda hajati ilaihi.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya hamba menitipkan semua apa pelajaran yang telah hamba baca dan mohon kembalikan kepada hamba, pada saat hamba membutuhkannya.”
Dalam kajian ulama, doa ini mencerminkan konsep tawakkul ilmiah, yakni menyerahkan hasil belajar kepada Allah setelah usaha maksimal.
Doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an ini sangat relevan untuk dibaca sebelum ujian:
رَبِّ ا شْرَحْ لِيْ صَدْرِ وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْ قَوْلِيْ
Rabbisyrahlî shâdrî wayassyirlî amrI wahlul uqdatam mil-lisânî yafqahû qaulî.
Artinya: "Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS Thâhâ[20]: 25-28).
Dalam tafsir karya Ibnu Katsir, doa ini menggambarkan permohonan Nabi Musa agar diberi kelapangan hati dan kemudahan dalam menyampaikan sesuatu.
Dalam konteks ujian, maknanya meluas menjadi permohonan agar pikiran jernih dan tidak gugup.
Ketenangan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil ujian. Tanpa ketenangan, kemampuan yang dimiliki sering kali tidak keluar secara maksimal.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ نَفْسِيْ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ
Allâhumma ij’al nafsî muthmainnatan, tu’minu bi liqâika wa tardlâ bi qadlâika
Artinya: “Ya Allah, jadikan jiwa kami menjadi tenang, beriman akan adanya pertemuan dengan-Mu, dan rela atas qadha-Mu (ketentuan-Mu).”
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang tenang akan memudahkan seseorang menerima ilmu dan mengambil keputusan dengan tepat.
Baca juga: Doa Istighosah Lengkap: Niat dan Tata Cara Shalat Solusi Hadapi Ujian
Selain doa, terdapat beberapa amalan lain yang dianjurkan untuk mendukung keberhasilan dalam ujian:
Dalam buku Minhajul Muslim karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, disebutkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari cara mencapainya.
Pada akhirnya, doa bukan pengganti belajar, melainkan pelengkap yang menyempurnakan usaha. Dalam Islam, keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal menjadi kunci utama.
Ujian seperti TKA bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga mental dan spiritual.
Dengan persiapan yang matang, doa yang tulus, serta sikap yang tenang, peluang untuk meraih hasil terbaik menjadi lebih besar.
Maka, sebelum memasuki ruang ujian, sempatkanlah berdoa. Bukan hanya agar soal menjadi mudah, tetapi juga agar hati tetap kuat, pikiran tetap jernih, dan hasil yang diperoleh benar-benar membawa manfaat.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang proses dan keberkahan yang menyertainya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang